Monday, September 17, 2018

[Travelogue] Suatu Hari di Jambi



Bersepeda dari satu candi ke candi lain dengan pemandangan hutan atau kebun dengan sungai di sisinya? Rasanya di Indonesia hanya dapat dilakukan di Jambi.



***



Kabut asap masih menyelimuti kota ini saat saya tiba Bandara Sultan Thaha. Namun semangat menjelajah Jambi, meski hanya tiga hari, tak membuat antusiasme saya turun karena kabut asap.



Candi Muaro Jambi & Polemik Sriwijaya



Akar Melayu daerah ini begitu menarik perhatian saya. Apalagi sejak Candi Muaro Jambi makin dikenal masyarakat dan dipublikasikan media. Maka Candi Muaro Jambi pun menjadi tujuan utama saya di kota yang bernama sama dengan provinsinya ini.



Sejak dibangunnya Jembatan Batanghari II, akses menuju Candi Muaro Jambi dari pusat kota Jambi semakin cepat dan mudah. Jika dahulu membutuhkan waktu sejam, kini dalam waktu 30 menit kita bisa sampai di lokasi. Tak heran pengunjung situs sejarah ini pun makin banyak. Perekonomian masyarakat sekitar terbantu dengan usaha berupa warung makan, penginapan serta persewaan sepeda dan alas duduk.



Tak jauh dari loket tiket masuk kawasan candi, kami sudah ditawari sepeda. “Capek kalau berjalan kaki, dari satu candi ke candi lain lumayan jauh,” kata Ibu yang menawari kami. Saya langsung mengiyakan, tapi Berlian Santosa, rekan yang menemani saya selama di Jambi,menawar dulu.



Setelah sepakat kami pun konvoi sepeda! Cara paling asyik menjelajah Muaro Jambi yang ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya (KCB) sejak 30 Desember 2013 ini memang mengayuh sepeda. Dengan area yang membentang sepanjang 7 km dan mencakup luas 17,5 km2, KCB Candi Muaro Jambi diklaim sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.



 



Dalam bukunya Memasuki Gerbang Situs Sejarah Candi Muaro Jambi, Fachrudin Saudagar menyebutkan hingga tahun 2003 telah teridentifikasi 110 bangunan candi, baik yang telah dipugar, belum dipugar, ataupun yang masihdalam bentuk manapo. Manapo adalah bentuk/gundukan tanah yang di atasnya telah tumbuh pohon-pohon besar dan di dalamnya ditemukan struktur bangunan candi yang telah runtuh. Dari jumlah tersebut, ada sekitar 36 candi yang telah dipugar dan diberi nama. Jumlah 110 candi yang teridentifikasi itu pun belum final karena masih terus dilakukan penggalian. Terbayang kan luasnya kawasan candi ini?



Angin semilir membelai wajah saya saat mulai menjelajah. Kabut asap tipis terlihat menyeliputi kawasan, membuat Candi Gumpung, candi pertama yang kami temui terlihat samar di kejauhan. Kawasan candi belum terlalu ramai, tapi sudah tampak beberapa pengunjung menjelajah dengan sepeda seperti kami. Makin meninggi matahari, pengunjung makin banyak. Rombongan keluarga, rombongan pelajar, pasangan, semua mengayuh sepeda. Bahkan persewaan sepeda menyediakan sepeda roda tiga untuk balita. Wow, saya makin semangat mengayuh sepeda. Apalagi sebagian besar jalur bersepeda sudah rapi dengan konblok. Sebagian masih tanah, terutama jalur menuju kawasan candi di bagian dalam. Antara candi yang satu dengan yang lain banyak dihubungkan dengan sungai dan kanal-kanal.



Berturut-turut dari Candi Gumpung kami mengeksplor Candi Tinggi, Candi Kembar Bato, dan Candi Gedong. Saya seperti ditarik waktu saat mengekplor bangunan-bangunan yang menggunakan bata merah ini. Candi-candi di kompleks ini memang tidak besar, terutama bila kita membandingkan dengan Borobudur atau Prambanan. Namun letaknya yang tersebar membuat suasana jelajah jadi membuat penasaran. Seperti apa bentuk candi yang akan kami temui berikutnya? Bagaimana suasana sekitarnya? Hal unik apa yang ada di candi tersebut? Kami terus mengayuh dan tiba di Candi Astano.






“Coba perhatikan tanah dengan teliti, Mbak,kata Berlian saat kami menjejak tanah di sekitar Candi Astano. Saya pun menajamkan penglihatan dan melihat pecahan-pecahan keramik dengan ukuran dan motif yang beragam tersebar di sekitar area candi. Menurut para sejarawan keramik-keramik tersebut menandakan kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas di masa lampau. Dan diduga terdapat hubungan antara Kerajaan Melayu dan Sriwijaya dengan Tiongkok.



Bila hujan cukup besar, sekitar candi akan membentuk kanal, dan pecahan keramik tidak terlihat,” kata Berlian. “Mungkin seperti Venesia dari Timur ya.”



“Venesia rasa Melayu,” celetuk saya. Kemudian saya membayangkan pada masa lalu perahu-perahu hilir mudik, para pendeta beribadah di candi-candi, lawatan-lawatan dari negeri Tiongkok di mana mereka membawa keramik-keramik untuk dijual atau ditukar. Seperti yang pernah dikabarkan I-Tsing, pendeta dari Tiongkok yang pernah berkunjung ke Sriwijaya pada tahun 671 M. I-Tsing  menyebutkan bahwa di pusat Kerajaan Sriwijaya terdapat biara-biara (candi) yang tersusun dari bata merah yang terletak di dekat sungai dan pantai. Antara biara satu dan yang lain dihubungkan dengan sungai besar yang juga dilayari perahu. Dan terdapat 1000 orang pendeta Buddha sedang belajar di Sriwijaya.





Mengacu pada laporan I-Tsing tersebut, ahli sejarah Jambi  mencocokkan dengan kawasan Candi Muaro Jambi. Fakta menunjukkan bahwa di area ini terdapat 110 buah bangunan candi (dan masih terus dilakukan penggalian sehingga bisa lebih dari itu). Jumlah candi sebanyak itu cukup untuk mendukung kebutuhan ibadah 1.000 pendeta Buddha. Situs Candi Muaro Jambi juga terletak dekat sungai besar (Batanghari) dan daerah pantai timur Jambi. Antara satu candi dengan candi lain di Muaro Jambi juga dihubungkan dengan kanal/sungai yang dapat dilayari perahu. Fakta ini memperpanjang Polemik Sriwijaya, yakni polemik mengenai pusat Kerajaan Sriwijaya. Selain mereka yang meyakini Sriwijaya berpusat di Palembang, ada pula sejarawan yang menyatakan pusat kerajaan Sriwijaya di Muaratakus (Riau), di Semenanjung Malaya (Malaysia), bahkan di Thailand. Dan kini sebagian ahli sejarah meyakini pusat kerajaan Sriwijaya kemungkinan besar adalah kawasan Candi Muaro Jambi. Terlepas dari benar tidaknya klaim tersebut, saya jadi makin semangat menjelajahi tempat ini.



Setelah 4 jam bersepeda kami kembali ke titik awal, di persewaan sepeda. Wah, hanya 5 candi yang bisa kami eksplor. Sepertinya perlu waktu seminggu untuk menjelajah 36 candi yang telah dipugar. Mobil yang saya tumpangi bergerak kembali ke pusat kota Jambi. Sekitar 3 kilometer dari kawasan utama, saya melihat candi yang sedang dipugar, Candi Kedaton. Berlian menghentikan mobil dan kami melihat-lihat. Karena masih dipugar, kami tak bisa terlalu lama mengeksplor.



Taman Tanggo Rajo dan Menara Gentala Arasy



Puas menjelajah Candi Muaro Jambi, saya kembali ke pusat kota Jambi. Selepas menunaikan shalat ashar, kami berhenti di Taman Tanggo Rajo untuk menikmati Sungai Batanghari. Taman Tanggo Rajo adalah tempat nongkrong yang terkenal di Jambi. Sore hingga malam adalah waktu yang tepat untuk menikmati tempat ini. Kabut asap makin tebal, namun di seberang taman samar terlihat sebuah bangunan tinggi.



“Itu bakal jadi ikon baru kota Jambi, Mbak,” kata Berlian. Menara Gentala Arasy. Saat saya berkunjung ke sana, menara tersebut sebenarnya sudah rampung dibangun, tapi belum diresmikan. Baru pada 28 Maret 2015, wakil presiden RI, Jusuf Kalla, meresmikan menara tersebut.



Menara jam setinggi 32 meter ini berlokasi di kawasan cagar budaya Kota Seberang Jambi yang menjorok ke pinggiran Sungai Batanghari. Kita dapat mencapai menara ini dengan naik perahu ketek dari Taman Tanggo Rajo yang berlokasi di jantung kota Jambi. Di lantai dasar menara ini terdapat museum yang menuturkan sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam ke kota Jambi. Tersedia lift yang dapat membawa kita pada ketinggian 25 meter untuk menikmati pemandangan kota Jambi dan sekitarnya.



Di kawasan ini juga sedang dibangun jembatan pedestrian yang menghubungkan Taman Tanggo Rajo dengan Menara Gentala Arasy. Konon kabarnya jembatan tersebut merupakan jembatan pedestrian terpanjang di dunia. Total panjang jembatan ini kelak mencapai 532 meter dengan lebar 4,5 meter. Desainnya berliku menyerupai huruf “S”. Senja sudah tenggelam saat kami meninggalkan kawasan Taman Tango Rajo. Besok saya akan mengunjungi beberapa tempat lain di pusat kota.



Masjid Seribu Tiang



Nama masjid terbesar di Jambi ini sebenarnya adalah Masjid Agung Al-Falah. Jumlah tiangnya sendiri bukan 1.000 tapi 256 tiang. Yang menarik, bangunan dengan satu kubah besar dan satu menara  ini disangga 256 tiang tanpa dinding sehingga membuat masjid selalu sejuk karena sirkulasi udara yang lancar. Tiang-tiang yang menyangga kubah dan menjadi ruang utama masjid disepuh warna coklat keemasan dengan ornamen kembang. Sementara tiang-tiang lain dicat warna putih.



Bagian dalam kubah dihias dengan ornamen garis-garis simetris yang mirip dengan garis lintang dan bujur bola bumi dengan perpaduan warna hijau tua, hijau muda, dan putih. Di bagian cincin kubah terdapat kaligrafi ayat Al-Quran berwarna emas. Sementara sebuah lampu gantung berukuran besar yang terbuat dari tembaga menambah kekhasan masjid.



Saat malam hari masjid yang berlokasi  bekas pusat Kerajaan Melayu Jambi ini terlihat lebih indah karena pendaran cahaya dari lampu-lampu yang dipasang di tiap tiang. Masjid yang dibangun selama sembilan tahun ini mampu menampung jamaah hingga 10.000 orang. Saat hendak beranjak dari masjid, saya melihat seorang kakek tua berpakaian lusuh bahkan dekil tampak khusyuk berdoa sehabis shalat. Entahlah, rasa haru tiba-tiba menyeruak di dada saya.



Taman Mini Jambi



Masyarakat Jambi lebih mengenal lokasi yang merupakan hutan kota seluas 18 ha ini sebagai Taman MTQ. Sebab pada tahun 1997 kawasan ini dijadikan sebagai pusat penyelenggaraan MTQ Nasional ke-18. Tribun, kejang lako (rumah panggung), dan monumen kapal tradisional yang dibangun khusus untuk MTQ masih ada hingga kini.



Bila di Jakarta kita mengenal Taman Mini Indonesia Indah yang memiliki anjungan dan rumah adat dari berbagai provinsi di Indonesia, maka di Taman Mini Jambi kita dapat menemui 7 anjungan yang terdiri dari satu anjungan provinsi dan enam anjungan kabupaten. Selain rumah-rumah adat, di Taman Mini ini juga terdapat miniatur Candi Muaro Jambi dan fosil kayu sungkai. Sayangnya pengunjung tidak dapat masuk ke dalam anjungan-anjungan tersebut dan kondisi rumah-rumah adatnya kurang terawat.


Senja sudah tua saat saya bergerak dari Taman Mini Jambi kembali ke penginapan. Melintas pusat kota saya melewati Monas Jambi. Monumen yang terletak di bundaran komplek pemerintahan kota ini memang mirip dengan Monas yang ada di Jakarta. Yang membedakan, Monas Jambi lebih kecil dan memiliki empat jam dinding di setiap sisi Monas dan ukiran di bagian bawah jam. Pada malam hari kawasan Monas Jambi berubah dari pusat perkantoran menjadi tempat nongkrong anak-anak muda.


Sebagai provinsi, Jambi memiliki banyak potensi wisata lain. Taman Nasional Bukit 12, Gunung Kerinci, Pulau Berhala, hingga Geo Park berusia 250 juta tahun. Tentu saja tiga hari tidak cukup untuk mengunjungi juga tempat-tempat tersebut.[]


*tulisan ini pernah dimuat di majalah Colours (in-flight magazine Garuda)
 

 

No comments:

Post a Comment