Monday, September 17, 2018

[Travelogue] Suatu Hari di Jambi



Bersepeda dari satu candi ke candi lain dengan pemandangan hutan atau kebun dengan sungai di sisinya? Rasanya di Indonesia hanya dapat dilakukan di Jambi.



***



Kabut asap masih menyelimuti kota ini saat saya tiba Bandara Sultan Thaha. Namun semangat menjelajah Jambi, meski hanya tiga hari, tak membuat antusiasme saya turun karena kabut asap.



Candi Muaro Jambi & Polemik Sriwijaya



Akar Melayu daerah ini begitu menarik perhatian saya. Apalagi sejak Candi Muaro Jambi makin dikenal masyarakat dan dipublikasikan media. Maka Candi Muaro Jambi pun menjadi tujuan utama saya di kota yang bernama sama dengan provinsinya ini.



Sejak dibangunnya Jembatan Batanghari II, akses menuju Candi Muaro Jambi dari pusat kota Jambi semakin cepat dan mudah. Jika dahulu membutuhkan waktu sejam, kini dalam waktu 30 menit kita bisa sampai di lokasi. Tak heran pengunjung situs sejarah ini pun makin banyak. Perekonomian masyarakat sekitar terbantu dengan usaha berupa warung makan, penginapan serta persewaan sepeda dan alas duduk.



Tak jauh dari loket tiket masuk kawasan candi, kami sudah ditawari sepeda. “Capek kalau berjalan kaki, dari satu candi ke candi lain lumayan jauh,” kata Ibu yang menawari kami. Saya langsung mengiyakan, tapi Berlian Santosa, rekan yang menemani saya selama di Jambi,menawar dulu.



Setelah sepakat kami pun konvoi sepeda! Cara paling asyik menjelajah Muaro Jambi yang ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya (KCB) sejak 30 Desember 2013 ini memang mengayuh sepeda. Dengan area yang membentang sepanjang 7 km dan mencakup luas 17,5 km2, KCB Candi Muaro Jambi diklaim sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.



 



Dalam bukunya Memasuki Gerbang Situs Sejarah Candi Muaro Jambi, Fachrudin Saudagar menyebutkan hingga tahun 2003 telah teridentifikasi 110 bangunan candi, baik yang telah dipugar, belum dipugar, ataupun yang masihdalam bentuk manapo. Manapo adalah bentuk/gundukan tanah yang di atasnya telah tumbuh pohon-pohon besar dan di dalamnya ditemukan struktur bangunan candi yang telah runtuh. Dari jumlah tersebut, ada sekitar 36 candi yang telah dipugar dan diberi nama. Jumlah 110 candi yang teridentifikasi itu pun belum final karena masih terus dilakukan penggalian. Terbayang kan luasnya kawasan candi ini?



Angin semilir membelai wajah saya saat mulai menjelajah. Kabut asap tipis terlihat menyeliputi kawasan, membuat Candi Gumpung, candi pertama yang kami temui terlihat samar di kejauhan. Kawasan candi belum terlalu ramai, tapi sudah tampak beberapa pengunjung menjelajah dengan sepeda seperti kami. Makin meninggi matahari, pengunjung makin banyak. Rombongan keluarga, rombongan pelajar, pasangan, semua mengayuh sepeda. Bahkan persewaan sepeda menyediakan sepeda roda tiga untuk balita. Wow, saya makin semangat mengayuh sepeda. Apalagi sebagian besar jalur bersepeda sudah rapi dengan konblok. Sebagian masih tanah, terutama jalur menuju kawasan candi di bagian dalam. Antara candi yang satu dengan yang lain banyak dihubungkan dengan sungai dan kanal-kanal.



Berturut-turut dari Candi Gumpung kami mengeksplor Candi Tinggi, Candi Kembar Bato, dan Candi Gedong. Saya seperti ditarik waktu saat mengekplor bangunan-bangunan yang menggunakan bata merah ini. Candi-candi di kompleks ini memang tidak besar, terutama bila kita membandingkan dengan Borobudur atau Prambanan. Namun letaknya yang tersebar membuat suasana jelajah jadi membuat penasaran. Seperti apa bentuk candi yang akan kami temui berikutnya? Bagaimana suasana sekitarnya? Hal unik apa yang ada di candi tersebut? Kami terus mengayuh dan tiba di Candi Astano.






“Coba perhatikan tanah dengan teliti, Mbak,kata Berlian saat kami menjejak tanah di sekitar Candi Astano. Saya pun menajamkan penglihatan dan melihat pecahan-pecahan keramik dengan ukuran dan motif yang beragam tersebar di sekitar area candi. Menurut para sejarawan keramik-keramik tersebut menandakan kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas di masa lampau. Dan diduga terdapat hubungan antara Kerajaan Melayu dan Sriwijaya dengan Tiongkok.



Bila hujan cukup besar, sekitar candi akan membentuk kanal, dan pecahan keramik tidak terlihat,” kata Berlian. “Mungkin seperti Venesia dari Timur ya.”



“Venesia rasa Melayu,” celetuk saya. Kemudian saya membayangkan pada masa lalu perahu-perahu hilir mudik, para pendeta beribadah di candi-candi, lawatan-lawatan dari negeri Tiongkok di mana mereka membawa keramik-keramik untuk dijual atau ditukar. Seperti yang pernah dikabarkan I-Tsing, pendeta dari Tiongkok yang pernah berkunjung ke Sriwijaya pada tahun 671 M. I-Tsing  menyebutkan bahwa di pusat Kerajaan Sriwijaya terdapat biara-biara (candi) yang tersusun dari bata merah yang terletak di dekat sungai dan pantai. Antara biara satu dan yang lain dihubungkan dengan sungai besar yang juga dilayari perahu. Dan terdapat 1000 orang pendeta Buddha sedang belajar di Sriwijaya.





Mengacu pada laporan I-Tsing tersebut, ahli sejarah Jambi  mencocokkan dengan kawasan Candi Muaro Jambi. Fakta menunjukkan bahwa di area ini terdapat 110 buah bangunan candi (dan masih terus dilakukan penggalian sehingga bisa lebih dari itu). Jumlah candi sebanyak itu cukup untuk mendukung kebutuhan ibadah 1.000 pendeta Buddha. Situs Candi Muaro Jambi juga terletak dekat sungai besar (Batanghari) dan daerah pantai timur Jambi. Antara satu candi dengan candi lain di Muaro Jambi juga dihubungkan dengan kanal/sungai yang dapat dilayari perahu. Fakta ini memperpanjang Polemik Sriwijaya, yakni polemik mengenai pusat Kerajaan Sriwijaya. Selain mereka yang meyakini Sriwijaya berpusat di Palembang, ada pula sejarawan yang menyatakan pusat kerajaan Sriwijaya di Muaratakus (Riau), di Semenanjung Malaya (Malaysia), bahkan di Thailand. Dan kini sebagian ahli sejarah meyakini pusat kerajaan Sriwijaya kemungkinan besar adalah kawasan Candi Muaro Jambi. Terlepas dari benar tidaknya klaim tersebut, saya jadi makin semangat menjelajahi tempat ini.



Setelah 4 jam bersepeda kami kembali ke titik awal, di persewaan sepeda. Wah, hanya 5 candi yang bisa kami eksplor. Sepertinya perlu waktu seminggu untuk menjelajah 36 candi yang telah dipugar. Mobil yang saya tumpangi bergerak kembali ke pusat kota Jambi. Sekitar 3 kilometer dari kawasan utama, saya melihat candi yang sedang dipugar, Candi Kedaton. Berlian menghentikan mobil dan kami melihat-lihat. Karena masih dipugar, kami tak bisa terlalu lama mengeksplor.



Taman Tanggo Rajo dan Menara Gentala Arasy



Puas menjelajah Candi Muaro Jambi, saya kembali ke pusat kota Jambi. Selepas menunaikan shalat ashar, kami berhenti di Taman Tanggo Rajo untuk menikmati Sungai Batanghari. Taman Tanggo Rajo adalah tempat nongkrong yang terkenal di Jambi. Sore hingga malam adalah waktu yang tepat untuk menikmati tempat ini. Kabut asap makin tebal, namun di seberang taman samar terlihat sebuah bangunan tinggi.



“Itu bakal jadi ikon baru kota Jambi, Mbak,” kata Berlian. Menara Gentala Arasy. Saat saya berkunjung ke sana, menara tersebut sebenarnya sudah rampung dibangun, tapi belum diresmikan. Baru pada 28 Maret 2015, wakil presiden RI, Jusuf Kalla, meresmikan menara tersebut.



Menara jam setinggi 32 meter ini berlokasi di kawasan cagar budaya Kota Seberang Jambi yang menjorok ke pinggiran Sungai Batanghari. Kita dapat mencapai menara ini dengan naik perahu ketek dari Taman Tanggo Rajo yang berlokasi di jantung kota Jambi. Di lantai dasar menara ini terdapat museum yang menuturkan sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam ke kota Jambi. Tersedia lift yang dapat membawa kita pada ketinggian 25 meter untuk menikmati pemandangan kota Jambi dan sekitarnya.



Di kawasan ini juga sedang dibangun jembatan pedestrian yang menghubungkan Taman Tanggo Rajo dengan Menara Gentala Arasy. Konon kabarnya jembatan tersebut merupakan jembatan pedestrian terpanjang di dunia. Total panjang jembatan ini kelak mencapai 532 meter dengan lebar 4,5 meter. Desainnya berliku menyerupai huruf “S”. Senja sudah tenggelam saat kami meninggalkan kawasan Taman Tango Rajo. Besok saya akan mengunjungi beberapa tempat lain di pusat kota.



Masjid Seribu Tiang



Nama masjid terbesar di Jambi ini sebenarnya adalah Masjid Agung Al-Falah. Jumlah tiangnya sendiri bukan 1.000 tapi 256 tiang. Yang menarik, bangunan dengan satu kubah besar dan satu menara  ini disangga 256 tiang tanpa dinding sehingga membuat masjid selalu sejuk karena sirkulasi udara yang lancar. Tiang-tiang yang menyangga kubah dan menjadi ruang utama masjid disepuh warna coklat keemasan dengan ornamen kembang. Sementara tiang-tiang lain dicat warna putih.



Bagian dalam kubah dihias dengan ornamen garis-garis simetris yang mirip dengan garis lintang dan bujur bola bumi dengan perpaduan warna hijau tua, hijau muda, dan putih. Di bagian cincin kubah terdapat kaligrafi ayat Al-Quran berwarna emas. Sementara sebuah lampu gantung berukuran besar yang terbuat dari tembaga menambah kekhasan masjid.



Saat malam hari masjid yang berlokasi  bekas pusat Kerajaan Melayu Jambi ini terlihat lebih indah karena pendaran cahaya dari lampu-lampu yang dipasang di tiap tiang. Masjid yang dibangun selama sembilan tahun ini mampu menampung jamaah hingga 10.000 orang. Saat hendak beranjak dari masjid, saya melihat seorang kakek tua berpakaian lusuh bahkan dekil tampak khusyuk berdoa sehabis shalat. Entahlah, rasa haru tiba-tiba menyeruak di dada saya.



Taman Mini Jambi



Masyarakat Jambi lebih mengenal lokasi yang merupakan hutan kota seluas 18 ha ini sebagai Taman MTQ. Sebab pada tahun 1997 kawasan ini dijadikan sebagai pusat penyelenggaraan MTQ Nasional ke-18. Tribun, kejang lako (rumah panggung), dan monumen kapal tradisional yang dibangun khusus untuk MTQ masih ada hingga kini.



Bila di Jakarta kita mengenal Taman Mini Indonesia Indah yang memiliki anjungan dan rumah adat dari berbagai provinsi di Indonesia, maka di Taman Mini Jambi kita dapat menemui 7 anjungan yang terdiri dari satu anjungan provinsi dan enam anjungan kabupaten. Selain rumah-rumah adat, di Taman Mini ini juga terdapat miniatur Candi Muaro Jambi dan fosil kayu sungkai. Sayangnya pengunjung tidak dapat masuk ke dalam anjungan-anjungan tersebut dan kondisi rumah-rumah adatnya kurang terawat.


Senja sudah tua saat saya bergerak dari Taman Mini Jambi kembali ke penginapan. Melintas pusat kota saya melewati Monas Jambi. Monumen yang terletak di bundaran komplek pemerintahan kota ini memang mirip dengan Monas yang ada di Jakarta. Yang membedakan, Monas Jambi lebih kecil dan memiliki empat jam dinding di setiap sisi Monas dan ukiran di bagian bawah jam. Pada malam hari kawasan Monas Jambi berubah dari pusat perkantoran menjadi tempat nongkrong anak-anak muda.


Sebagai provinsi, Jambi memiliki banyak potensi wisata lain. Taman Nasional Bukit 12, Gunung Kerinci, Pulau Berhala, hingga Geo Park berusia 250 juta tahun. Tentu saja tiga hari tidak cukup untuk mengunjungi juga tempat-tempat tersebut.[]


*tulisan ini pernah dimuat di majalah Colours (in-flight magazine Garuda)
 

 

[Travelogue] Kamboja yang Makin Menggeliat dan Memikat





Angkor Wat. Itu memang alasan utama saya dan beberapa rekan berkunjung ke Siem Reap, kota terbesar kedua di Kamboja, negeri “eks” komunis yang terkenal dengan rezim Khmer Merah-nya. Pada tahun 2008, kompleks candi Hindu ini menarik 1,2 juta wisatawan mancanegara, sedangkan Candi Borobudur/Prambanan “hanya” dikunjungi 400 ribu wisatawan. Namun tak hanya situs warisan dunia UNESCO tersebut, ternyata di Siem Reap saya juga temui jejak Melayu dan Islam.

Menyusuri Tonlep Sap, Danau Terbesar di Asia Tenggara

Pesawat yang membawa kami dari Kuala Lumpur mendarat di Siem Reap International Airport sekitar pukul 8 pagi. Sebelumnya dari atas pesawat saya melihat kontur wilayah Kamboja yang cenderung gersang. “Kayaknya panas dan berdebu banget,” pikir saya.

Setelah membayar 25 USD (US Dolar) untuk visa on arrival, kami pun melenggang keluar dari imigrasi. Sama seperti Vietnam, penggunaan mata uang dolar AS memang sudah begitu jamak di negeri ini. Dengan taksi kami menuju downtown Siem Reap. Syukurlah, meski tidak booking sebelumnya, masih ada kamar tersedia di guest house yang kami datangi. Setelah check in, kami langsung mem-booking tuk-tuk untuk JJS (Jalan-jalan Siang dan Sore) :D. Tak seperti di Thailand dan Sri Lanka yang tuk-tuknya adalah bajaj seperti di Jakarta, tuk-tuk Kamboja sejenis delman yang ditarik motor. Unik kan? 



Kelar beberes dan mandi, kami pun meluncur ke Tonle Sap, danau air tawar terbesar di Asia Tenggara. Ternyata sayang juga kami mandi :D, sebab sepanjang perjalanan debu begitu leluasa menyerbu tubuh kami. Tentu saja, lha wong naik tuk-tuk! Benar juga yang tadi saya pikirkan di pesawat, panas dan berdebu. Kondisi tanah Kamboja memang tak sehijau dan seasri negeri kita dan sebagian negeri ASEAN lain. Tapi, di sinilah asyiknya traveling. Merasakan kultur, kondisi alam, dan pengalaman lain yang berbeda, antara satu negara dengan negara lain. Jadi meski panas dan berdebu, kami nikmati saja, apalagi traveling dengan teman perempuan yang cerewet dan rame, wuih dijamin seru dan heboh!

Sekitar setengah jam tuk-tuk menyusuri jalan menuju Tonle Sap yang berdebu, panas, dan bau amis—kira-kira begini ramuannya: Seperti Karawang dicampur Bekasi dibubuhi Muara Karang, hehehe. Sampai di dermaga Tonle Sap, kami langsung dipandu ke loket, wisata menyusuri Tonle Sap. Tarifnya 15 USD per orang, satu jam keliling Tonle Sap. What?! Mahal beneerrr. Tak bisa ditawar. Langsung saja kami mundur teratur. Kemahalan ah. Lagipula kelihatan tak menarik dan tak banyak yang akan dilihat. Saat kembali, Ang, si sopir tuk-tuk bertanya kenapa nggak jadi. Setelah kami bilang kemahalan, Ang berkata akan menawarkan. Tak lama dia balik dan bilang: “Ten dolar, ten dolar…”. Aha, masih mahal sih. Tapi karena sudah kadung di sana, okelah, tak ape.








Kalau membayangkan danau terbesar di Asia Tenggara ini seperti Danau Singkarak di Sumatera Barat misalnya, atau Danau Toba di Sumatera Utara, wah kalah. Danau Toba, juga sebagian besar danau lain di Indonesia, jauh lebih indah. Danau yang bermuara ke Sungai Mekong ini airnya cokelat, dan pemandangan di sekitarnya biasa saja. Saya seperti sedang berwisata di Sungai Ciliwung, hehehe. Bisa jadi karena hanya sebagian kecil saja yang kami arungi. Tonle Sap sendiri merupakan nadi bagi kehidupan 3 juta masyarakat Kamboja. 75% kebutuhan ikan masyarakat Kamboja dipenuhi dari danau ini. Pada musim hujan, luas danau ini sekitar 16.000 meter persegi, tapi di musim panas, luasnya menyusut menjadi 2.700 meter persegi. 



Tak Jadi Makan “Daging Lembu Naik Bukit”

Hari menjelang sore saat kami selesai menyusuri Tonle Sap. Lapar menggedor-gedor perut, karena sejak pagi kami belum makan. Kami pun meminta sopir tuk-tuk kembali ke kota Siem Reap. Tujuan kami: perkampungan muslim Champ. Dari informasi yang saya dapat, ada restoran muslim di dekat Masjid An-Nikmah, satu-satunya masjid di kota Siem Reap, yang terletak di tengah perkampungan muslim tersebut. Sayangnya, kami kurang beruntung, tak dapat mencicipi menu ‘daging lembu naik bukit’, yang jadi kekhasan restoran ini. 



“Restoran sedang tutup,” kata seorang pria dengan bahasa Melayu yang fasih. Eh, kok bisa cakap Melayu?! Aah, saya lupa. Sebagian muslim di Kamboja memang dapat berbahasa Melayu. Sebagian besar dari mereka adalah muslim Champa. Ikatan bangsa Cham dengan Melayu memang erat. Menurut beberapa sumber, Islam disebarkan hingga ke Champa oleh pedagang dari Melayu. Dan ingat tidak? Ada putri raja Champa yang dinikahkan dengan Raja Brawijaya V yang memerintah kerajaan Majapahit. Champa atau dari kata Tsiampa, merupakan etnis yang menguasai wilayah selatan Vietnam sampai di timur Kamboja. Hingga abad 14 wilayah kekuasaan etnis Champaa mencapai pantai barat Vietnam sampai Vietnam Tengah. Pada abad 15 Champa diserang orang Vietnam dari Utara. Serbuan itu menyebabkan gelombang pengungsian orang Champa ke pantai timur Malaysia, Melayu Indrapura, Kalimantan, hingga ke Sumatera (wilayah kerajaan Sriwijaya) dan Jawa Timur. 



Dari informasi pria yang mengaku bernama Ahmad itu, ada restoran halal lain di Siem Reap. Ahmad pun memberi petunjuk arah kepada sopir tuk-tuk. Setelah berbincang sebentar dengan Ahmad, melihat-lihat masjid, dan bercanda dengan anak-anak muslim yang lucu dan imut, kami pun bergegas lagi. Lapar euy lapar! Informasi Ahmad benar-benar valid. D’Wau, nama restoran yang direkomendasikannya adalah restoran yang dimiliki oleh muslim asal Malaysia. Sang ibu yang melayani sangat ramah. Dia mengaku sudah belasan tahun tinggal di Siem Reap dan pernah beberapa kali ke Indonesia. Dan makanannya… mantaaap! Meski harganya agak mahal (+ Rp60 ribu per orang), tapi menurut kami worth it.  Nasi, ayam goreng bumbu, telur dadar, sayur tumis, tom yum, hingga sambal dan lalap. Sangat lezat dan tentu, halal. Restorannya pun sangat bersih dan cukup berkelas, meski tak terlalu besar. D’Wau terletak persis di depan Sor-Phoun Villa, hotel bintang dua yang juga terlihat bersih dan nyaman. Bisa jadi pilihan tempat menginap buat rekan-rekan yang berniat ke Siem Reap.



Soal makanan halal memang jadi tantangan tersendiri di Kamboja. Tak banyak restoran halal. Meski menurut teman daging sapi banyak dipasok oleh muslim, tapi siapa yang bisa menjamin mereka mengolahnya dengan bahan pelengkap yang halal? Jadilah kami banyak membeli buah untuk mengganjal perut. Alhamdulillah, saya juga sudah bersiap membawa biskuit, roti, pop mie, dan cokelat dari Indonesia.

Ada yang lucu sewaktu kami mengunjungi Angkor Thom esok harinya. Sambil berteduh dan minum di sebuah kedai, kami iseng bertanya apakah mereka menjual mi instant halal? Seorang gadis kecil yang begitu bersemangat membawa beberapa contoh mi instant. Kami cek tak ada yang berlabel halal. Kami beritahu contoh tulisan halal. Dia berlari ke kedai lain, untuk mencarikan yang halal, tak ada juga. Sampai akhirnya dia mendapatkan beberapa bungkus mi instant dari kedai lain nun di ujung deretan kedai-kedai. Kami cek, benar, mi instant produk Thailand, label halalnya jelas tertera. Sebelum dimasak, kami mengintruksikan untuk tidak menambahkan apapun ke dalam mi instant tersebut kecuali air untuk memasak, atau kalau ada sayur segar. Di gadis cilik tersenyum senang dapat membantu, kami pun senang dapat mengganjal perut dengan mi instant halal J.

Angkor yang Megah

“Kalau mau melihat Angkor Wat, bagusnya pagi-pagi sekali,” begitu pesan dari teman yang pernah ke sana, juga dari berbagai situs yang saya baca. Jadilah sebelum subuh kami sudah siap. Bahkan sopir tuk-tuk yang kami pesan sudah siap sejak dini hari. Pungkas shalat subuh, kami pun berangkat.

Dari downtown Siem Reap menuju kompleks Angkor menempuh perjalanan sekitar setengah jam.Di perjalanan, beragam turis juga mencoba mengejar sunrise di Angkor Wat. Ada yang naik tuk-tuk seperti kami, naik van, hingga naik motor dan menggenjot sepeda. Ada tiga pilihan tiket masuk; one day (20 USD), three days (40 USD), dan one week (60 USD). Jangan heran ya ada pilihan tiket yang berlaku seminggu. Sebab kompleks Angkor memang luaaas banget. Kami memilih tiket masuk yang berlaku sehari. Antre membayar di loket, kemudian petugas menyuruh menghadap kamera, dan… klik! Tiket yang tertera foto kami pun jadi.

Dari loket belum terlihat wujud si Angkor. Kami harus naik tuk-tuk kembali sekitar 10 menit. Sampai di Angkor Wat, wow… ribuan turis bergegas. Sebagian sudah menunggu, siap dengan kamera masing-masing, dari kamera poket hingga kamera tele yang keren. 



Angkor Wat adalah salah satu candi dari beberapa candi utama di kompleks “eks” Kerajaan Angkor. Dibanding Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8, kompleks candi Angkor sebenarnya lebih muda, yakni dibangun pada abad ke-12 oleh Raja Suryawarman II. Selama berabad-abad, daerah di sekitar delta Sungai Mekong dan Kamboja Tengah, berada di bawah kekuasaan Kerajaan Jawa (sekarang Indonesia). Tapi pada tahun 802, Pangeran Khmer Jayawarman II, yang dilahirkan dan dibesarkan di istana Kerajaan Jawa pada masa dinasti Syailendra menyatakan bahwa wilayah yang didiami oleh orang Khmer, lepas dari Jawa. Ia kemudian mendirikan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Angkor. Beberapa kali terjadi perebutan tahta Angkor.

Pada tahun 889, Yasovarman I menjadi raja Khmer. Dia mulai membangun Angkor, yang kemudian berganti nama menjadi Yasodharapura. Pada tahun 1002, Suryawarman I merebut tahta kerajaan. Di bawah pemerintahannya, wilayah kerajaan Angkor bertambah luas sampai ke wilayah-wilayah yang sekarang adalah negara Thailand dan Laos. Pada tahun 1080, setelah Angkor ditaklukan oleh kerajaan Champa, gubernur provinsi paling utara Khmer menyatakan dirinya sebagai raja, dengan menyandang nama Jayawarman VI. Pada tahun 1113, seorang keponakan Jayawarman VI dinobatkan menjadi raja kerajaaan Khmer. Riwayat lain menyebutkan bahwa snag keponakan membunuh dan merebut tahta sang paman. Dia memilih untuk menyandang nama Suryavarman II. Pada masa pemerintahannyalah, Angkor Wat dibangun.

Dari sekilas riwayat Angkor di atas, tak usah heran bila banyak kemiripan relief dengan Candi Borobudur dan Prambanan di Jawa. 










Tak sampai seharian kami mengelilingi kompleks Angkor, kaki sudah pegal-pegal. Bagaimana yang membeli tiket seminggu? Nggak kebayang. Dari sekian candi di kompleks Angkor, ada 3 candi yang terkenal yakni: Angkor Wat, Angkor Thom, dan Ta Phrom. Jangan kira jarak-nya tetanggaan lho, lumayan jauh. Dari satu candi ke candi lain jaraknya antara 10-20 menit. Ta Phrom adalah candi yang tak boleh dilewati oleh turis. Keunikan komplek candi Ta Phrom adalah pohon-pohon dan akarnya yang menjulur di antara bangunan candi sehingga membuat bangunan candi terlihat eksotis. Meski di satu sisi akar-akar pohon tersebut membuat bangunan rusak bahkan  roboh hingga tinggal tumpukan batu di beberapa bagian. Ta Prohm juga yang membuat Kamboja makin dikenal oleh wisatawan mancanegara. Di sinilah setting film Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie. 




Reruntuhan candi dan kompleks kerajaan Angkor yang sebagian tinggal puing seakan menandakan betapa rapuhnya sebuah kekuasaan. Dan bahwa Allah akan menggilir kekuasaan di antara manusia.[]