Tuesday, October 7, 2014

[Travelogue] Jayapura, Si Cantik yang Memabukkan


Setelah transit dua kali, di Makassar dan Biak, serta menempuh perjalanan selama lebih dari tujuh jam, akhirnya menapak juga saya di ibukota provinsi paling timur Indonesia, Jayapura. Sebuah perjalanan yang begitu excited bagi saya, bahkan dibanding perjalanan-perjalanan ke daerah lain, luar negeri sekalipun. Sewaktu masih SD saya pernah membaca sebuah novelet di sebuah majalah wanita. Setting novelet tersebut di Papua (dulu masih Irian Jaya), dan sangat berkesan buat saya. Sejak itu saya bermimpi suatu hari kelak dapat mengunjungi Papua. Lebih dari dua puluh tahun kemudian, mimpi tersebut terwujud.


Balada Buah Pinang
“Dilarang Makan Buah Pinang!”. Tulisan tersebut menyambut saya saat tiba di Bandar Udara Sentani, kota Jayapura. Terpasang di dinding dan pilar berbagai sisi dan penjuru. Heran sekaligus tersenyum-senyum saya membacanya. Biasanya kan tulisan yang sering dipasang di tempat publik adalah “Dilarang Merokok”, lha kok jadi buah pinang? Kemudian saya perhatikan di lantai dan dinding bawah bandara banyak bercak-bercak merah, yang meski terlihat berusaha dibersihkan, tapi masih meninggalkan noda. Ow, sepertinya ini alasan pelarangan tersebut. Masih banyak warga Papua yang memiliki kebiasaan mengunyah buah pinang, seperti kebiasaan mengunyah sirih di Jawa.

Sayangnya mereka sembarangan meludah kunyahan buah pinangnya, sehingga harus ada pelarangan. Sampai ada perda (peraturan daerah) lho yang mengatur soal “ludah” buah pinang ini. Wah!
Sambil menunggu bagasi, saya memperhatikan kondisi bandara. Sangat minimalis, maksudnya serba minimal kondisinya, hehe. Tak begitu besar dan sedikit kusam. Tak ada ban berjalan untuk bagasi. Koper dan tas diletakkan saja bertumpuk dan kita harus berebut menemukan bagasi milik kita. Agak miris juga, sebab ini adalah bandara di ibukota provinsi. Tapi rasa miris tersebut mengalahkan rasa excited saya.

Keluar dari bandara, beberapa rekan FLP (Forum Lingkar Pena) Papua telah menunggu saya. Alhamdulillah, saya dapat mengunjungi Papua karena undangan dari mereka, yang masya Allah… begitu semangat menyebar dakwah bil qalam di Papua. Mbak Henny, ketua FLP Papua, rutin mengontak saya dan menyatakan keinginannya  mendirikan FLP di Papua. Namun baru terwujud setelah 6 tahun mempersiapkan diri!

Mabuk
“Lho, lho… kok ngepot, dia mau nabrak mobil kita!” saya sedikit terpekik. Saat itu baru setengah jam kami keluar dari bandara, menuju hotel tempat saya menginap. Sebuah motor tampak berjalan zig-zag dan sedikit ngebut. Mbak Henny hanya tertawa. “Tenang, Mbak,” katanya, “Di sini biasa motor seperti itu. Kecelakaan paling banyak yang terjadi di sini, ya kecelakaan motor. Bahkan sering juga mereka masuk danau,” sambungnya sambil menunjuk Danau Sentani yang persis berada di pinggir jalan raya menuju kota.

Hah?! Saya sukses menggeleng-geleng. Mau tahu kenapa pengendara motor tersebut berjalan ngepot? M-a-b-u-k. Ya, kebiasaan mabuk adalah hal biasa bagi sebagian masyarakat Papua, terutama yang tinggal di perkotaan. Minum-minum, kemudian mengendarai motor. Lha, nggak heran jee, mereka sesukanya saja ngebut, menyalip, dan… nyemplung ke danau dengan sukses.

Selain pemandangan unik yang “memabukkan”, perjalanan dari Sentani menuju kota Jayapura sangat indah. Danau Sentani yang membujur dan diapit kiri-kanan bukit hijau begitu menenangkan. “Jangan berharap melihat penduduk memakai koteka di Jayapura sini, ya, Mbak,” seloroh Mbak Henny, keturunan Jawa tapi lahir dan besar di Papua. Kota Jayapura memang sudah modern. Tak sulit menemukan restoran fastfood dan makanan seperti KFC dan Dunkin Donuts. Kalau mau melihat penduduk berkoteka maka kita harus ke daerah pedalaman seperti Asmat misalnya.


Menyelinap di MacArthur
Teluk Youtefa dan Situs Tugu MacArthur bisa dibilang sebagai dua tempat yang wajib dikunjungi di Jayapura Terletak di Ifar Gunung, kurang lebih 40 menit perjalanan dari kota Jayapura, Tugu MacArthur adalah lokasi di mana pasukan sekutu Amerika di bawah pimpinan Jenderal MacArthur mendarat pertama kali di bumi Cendrawasih. Alkisah, pada 7 Desember 1941 Jepang memulai Perang Pasifik dengan menyerang Pearl Harbour di Hawaii. Pasukan Amerika melakukan perlawanan meski di bawah tekanan Jepang. Pada Maret 1942 Presiden Franklin D. Roosevelt memerintahkan MacArthur dan keluarganya menuju Australia. Untuk memutuskan jalur laut Australia, Jepang berusaha mengurung Irian, tapi gagal dan dapat dihentikan  pasukan Australia. Pasukan sekutu kemudian mengambil alih pertahanan dan memulai operasi militer yang panjang untuk mengusir Jepang dari Irian. Pada Februari 1943 Sekutu menang kendali atas Irian bagian tenggara. Mereka kemudian bergerak di sepanjang pantai utara Irian dan akhirnya membuat pertahanan di Jayapura.

Saat kami tiba di situs Tugu MacArthur, gerbang tugu belum dibuka. Ketika mencoba mengecek, tidak ada satu pun penjaga. Wah, padahal saya penasaran dengan tugu ini. Salah satu rekan mencoba mencari tahu, tapi dia malah menemukan celah di antara gerbang yang bisa dilalui, meski harus memepet ke dinding. Nakal sih, tapi masak kami harus balik tanpa sempat masuk ke situs? Jadilah satu persatu kami masuk dengan mengempiskan perut, hehe, karena celah tersebut benar-benar hanya cukup untuk satu orang berdiri miring. Dan… berhasil!


 Pemandangan danau Sentani dengan bukit-bukit hijau benar-benar memikat dilihat dari Tugu MacArthur. Letak tugu yang cukup tinggi membuat mata saya benar-benar dimanjakan. Hamparan langit biru berpadu dengan awan putih. Sesekali terlihat pesawat take off dari Bandar Udara Sentani yang posisinya memang terlihat jelas dari tugu. Hmm, pantas MasArthur memilih tempat tersebut sebagai markas, karena dia dengan mudah dapat mendeteksi pergerakan musuh (baca: pasukan Jepang). Saat ini pun wilayah tersebut menjadi kompleks militer.









Dari Tugu MacArthur saya dan teman-teman bergerak menuju daerah Megapura Skyline. Dari lokasi ini kita dapat melihat Teluk Youtefa yang merupakan salah satu wilayah konservasi yang ada di kota Jayapura. Seperti halnya situs MacArthur, melihat Teluk Youtefa dari atas sangat memikat. Rasanya tak lepas mata memandang teluk dengan dua pulau kecil di sekitarnya, yakni pulau Tobati dan Engros.


Teluk, Bukit, Pantai, Sama Cantiknya
Dari Teluk Youtefa kami langsung meluncur ke kota Jayapura. Namun sebelum sampai di kota Jayapura, kami singgah di Polimak.Bukit yang dipenuhi pemancar berbagai stasiun televisi ini adalah tempat yang sangat strategis untuk memoto Jayapura dari atas. Kota Jayapura dengan Teluk Humbold terlihat begitu ganteng (bosan ah cantik melulu :D). Atap-atap rumah yang terbuat dari seng sesekali menyilaukan mata. Di bagian pinggir bukit ada rangka-rangka besi, yang ternyata merupakan plang besar bertuliskan “Jayapura”, yang hanya dapat kita lihat dari kota Jayapura. Teman-teman dengan berani menyusuri batang-batang besi. Saya? Haduh, masih harus pulang ke Jakarta dengan badan lengkap, hehe.




 


Setelah puas berfoto dan minum es kelapa, saya dan teman-teman beranjak menuju kota Jayapura. Tujuan utama adalah pantai, yang lebih dikenal dengan Pantai Dok 2. Setelah shalat di masjid yang cukup besar di markas tentara, kami menuju pantai. Sore menjelang dan cukup banyak pengunjung yang mandi atau sekadar duduk-duduk di tepi pantai yang cukup rapi dengan konblok. Airnya begitu bening. Sayangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan masih memprihatinkan. Sampah berserakan di sekitar pantai. Padahal tepat di seberang pantai terletak kantor gubernur. Wah, wah!

Tak jauh dari pantai terdapat pelabuhan kapal laut. Menjelang jam 4 sore para pengunjung pantai makin merapat ke tepi pantai, seakan menunggu sesuatu. Tak lama terdengar peluit kencang. Tampak sebuah kapal penumpang—kabarnya dari Surabaya atau Makassar—mendekat ke pelabuhan. Semakin dekat dan dekat, makin membesar, hingga akhirnya kapal merapat ke pelabuhan dan berhenti. Wah… “tontonan” yang menarik. Kapal tampak begitu dekat. Saya yang jarang menyaksikan kapal masuk ke pelabuhan yang dekat dengan pantai untuk publik, kelihatan noraknya
:D.




Port Numbay atau Jayapura?
Tahun 2009 saat saya ke sana, kota Jayapura genap berusia 1 abad. Saat berjalan-jalan di sekitar kota, saya melihat beberapa baliho besar dengan tulisan “Port Numbay”. Beberapa waktu setelah itu saya mendengar kabar bahwa Jayapura akan berubah nama menjadi “Port Numbay”. Saat saya mengecek ke Mbak Henny, katanya nama tersebut belum resmi. Port Numbay sendiri memang bukan nama yang aneh bagi warga Jayapura. Sebab pada awal keberadaannya, nama kota ini adalah Numbai, yang kemudian berubah menjadi Hollandia pada tahun 1910. Selanjutnya berubah menjadi Kotabaru, dan berubah lagi menjadi Sukarnopura. Pada tahun 1968 kembali berubah menjadi Jayapura, yang berasal berarti kota kemenangan. Wah, apa nggak capek ya berubah-ubah? :D.

Apapun namanya, Jayapura atau Port Numbay, suatu hari nanti saya akan bertekad kembali lagi, untuk menyusuri keindahannya yang “memabukkan” :D. []






 *Pernah dimuat di majalah Ummi.

[Travelogue] Sri Lanka



Alam yang cantik, penduduk yang ramah dan hangat, peraturan merokok yang sangat ketat, dan konon, ada riwayat menyebutkan bahwa Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke sebuah gunung yang terletak di negeri ini. Perpaduan yang menarik.

Senyum di Mana-mana
Tiket pesawat yang lumayan murah! Itu yang membuat saya dan seorang teman melakukan perjalanan ke negeri Ceylon atau Serendip, atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama SRI LANKA. Bahkan kami pun baru browsing tentang Sri Lanka dan memesan penginapan beberapa hari sebelum keberangkatan, meski tiket sudah di tangan sekian bulan sebelumnya. Banyak teman yang berkomentar kami cukup nekat untuk traveling ke Sri Lanka. ”Bukannya di sana masih perang?”, ”Nggak takut sama Macan Tamil?”, “Memangnya ada yang dilihat di sana?”, begitu beberapa komentar iseng. Ternyata, bukan sekadar alam yang cukup indah dan menarik, keramahan orang Sri Lanka juga begitu membekas di hati kami.


Keramahan tersebut sebenarnya sudah terdeteksi saat saya mengirim e-mail ke pengelola sebuah guest house di Kandy, salah satu kota yang akan kami kunjungi. Bukan sekadar balasan yang ramah, tiba-tiba dia menelepon langsung, bukan dari Sri Lanka tapi dari Perancis! Karena dia mengaku sedang ada urusan di sana. Dengan sangat welcome, Malik, pria Muslim berusia 50 tahun tersebut mengucapkan selamat datang dan minta maaf saat kami di sana dia masih ada di Perancis. Namun dia sudah berpesan kepada pelayan di guest housenya untuk melayani kami sebaik-baiknya selama kami mengunjungi Kandy. Padahal kami hanya menginap semalam di Kandy.

Keramahan berikutnya menyapa saat baru sekian meter kami keluar dari pintu pesawat di Bandara Internasional Bandaranaike. Beberapa tentara yang menyandang senapan nampak berjaga-jaga, tapi tetap melempar senyum kepada para penumpang. Meski pada tahun 2002 pemerintah dan Gerakan Pembebasan Macan Tamil (LTTE/Liberation Tiger Tamil Eelam) menandatangani gencatan senjata setelah 20 tahun perang sipil, kehadiran tentara di berbagai sudut jalan dan banyaknya security check point sepertinya menandakan kehati-hatian pemerintah terhadap kondisi keamanan Sri Lanka.

Selain tentara, poster-poster besar dan billboard bergambar wajah pria berkumis tersenyum lebar menyambut kami di sekitar bandara, juga di berbagai sudut jalan. Mahinda Rajapaksa, pria berkumis tersebut adalah presiden Sri Lanka, yang pada Januari 2010 lalu kembali terpilih sebagai presiden Sri Lanka dengan perolehan suara 57,8%. Sempat terjadi friksi antara Rajapaksa dan Jenderal Sarath Fonseka, kandidat presiden yang kalah dalam pemilihan. Fonseka dituduh mengumpulkan tokoh-tokoh militer desersi untuk melakukan kudeta kepada Rajapaksa.

Selanjutnya di imigrasi kami kami mendapat ”keramahan” lain. Uang 25 dolar yang sudah kami siapkan untuk visa on arrival (VOA) tak terpakai. Petugas imigrasi sambil tersenyum mengecap paspor tanpa meminta kami membayar VOA. Entah, kami juga sedikit bingung—meski senang, karena dari informasi yang kami cari, warga Indonesia masih dikenakan VOA untuk berkunjung ke Sri Lanka. Beberapa waktu lalu seorang teman yang berkunjung ke Sri Lanka juga melenggang masuk tanpa dikenakan VOA. Jadi, sepertinya informasi tentang VOA bagi warga Indonesia yang hendak ke Sri Lanka harus di-update. Sama seperti negara Asia Tenggara lainnya (kecuali Laos dan Kamboja), warga Indonesia bebas mengunjungi Sri Lanka selama 30 hari, tanpa VOA.


Islam dan Buddha
Berbicara tentang negeri pulau yang berbentuk seperti mangga ini, maka kita berbicara tentang negeri yang sedang membangun. Ekonominya mulai menggeliat. Begitu juga pariwisatanya. Saat merancang itinerary selama lima hari di sana, kami mendapat banyak pilihan tempat untuk dikunjungi. Ternyata, Sri Lanka memiliki banyak tempat menarik. Lengkap! Dari pantai-pantai hingga pegunungan dengan hutan dan taman nasional. Ada peninggalan kerajaan Buddhist di Anuradhapura dan Pollonaruwa. Pegunungan indah di Naruwa Eliya (Sri Lanka adalah penghasil teh nomor satu di dunia!), botanical garden dan lembah sejuk di Kandy, pantai indah di Galle,Unawatuna, dan Mirissa. Jejak-jejak peninggalan kolonial Portugis, Inggris, dan Belanda di Colombo dan Galle, hingga taman nasional di Yala, Uda Walawe, Bundala, Lahugala, dan masih banyak lagi.

Namun karena waktu yang singkat, saya dan teman hanya dapat berkunjung ke Kandy, Sigiriya, dan Colombo. Dua tempat, Kandy dan Sigiriya, adalah kota yang terdaftar dalam UNESCO World Heritage City. Dalam traveling, saya memang senang mengunjungi tempat yang termasuk daftar Warisan Dunia-nya UNESCO.

Kandy adalah kota yang terletak di bagian tengah Sri Lanka. Suasana kota ini mengingatkan saya pada kota Bogor. Udaranya sejuk, karena Kandy terletak di daerah perbukitan. Di kota inilah terletak The Temple the of Tooth, alias Kuil Gigi Buddha, yang menjadi salah satu tujuan utama para turis. Gigi Buddha? Alkisah, saat wafat, Buddha Sidharta Gautama dikremasi di Kusinara, India, tapi seorang murid Buddha yang bernama Khema menyelamatkan salah satu gigi Buddha. Khema kemudian menyerahkan gigi tersebut kepada Raja Brahmadette. Dari situ berkembang kepercayaan bahwa siapa yang dapat memiliki gigi tersebut, akan menjadi penguasa di wilayahnya. Gigi tersebut pun berpindah dari satu penguasa ke penguasa lain, hingga akhirnya Kandy menjadi tempat terakhir ”sang gigi”.

The Temple of the Tooth terletak berdampingan dengan Danau Kandy yang sejuk.  Sayangnya ada peraturan tidak boleh menggunakan alas kaki dan penutup kepala bila ingin memasuki kuil tersebut. Dan jilbab dianggap sebagai penutup kepala, sehingga kami harus menanggalkan jilbab bila ingin masuk ke dalam kuil. Hah? Nehi la yauww! Kami pun hanya berkeliling di sekitar kuil dan danau. Hampir setiap orang yang kami temui tersenyum, bahkan menyapa kami lebih dulu. Kami melihat keramahan tersebut bukan sekadar karena kami pengunjung dari negara lain, tapi karena orang-orang Sri Lanka memang berkarakter hangat.



Hampir 70% penduduk Sri Lanka beragama Buddha, 15% Hindu, dan Kristen serta Islam masing-masing 8%. Namun, hampir di setiap sudut kota Kandy kami menemukan banyak sekali muslim dan muslimah. Tentu kami mengenali dari busana yang dikenakan dan sapaan ”Assalamu’alaikum” dari mereka. Ternyata, Kandy adalah kota dengan komunitas Muslim terbesar di Sri Lanka. Meski tetap, penganut Buddha lebih banyak. Di Kandy juga kami merasakan aura kehangatan antar penganut agama yang berbeda. Ketika kami melewati sebuah kuil cantik dan ingin masuk ke dalam tapi agak ragu, seorang ibu yang akan beribadah di kuil tersebut dengan ramah menyuruh kami masuk untuk melihat. Di dalam seorang laki-laki tua yang nampaknya pendeta menghampiri dan bertanya dari mana kami berasal. Ketika kami menyebut Indonesia, laki-laki tersebut langsung berkata bahwa ia pernah datang ke Indonesia. Kemudian kami berbincang, dan dari perbincangan tersebut dia menyebutkan bahwa penganut Buddha sangat menghormati kaum Muslim. Dan memang, jarang sekali terdengar konflik antara kaum Muslim dengan penganut agama lain di Sri Lanka.    

 

Dari Kandy kami ke Sigiriya Rock, sebuah gunung batu. Cukup dahsyat memang situs ini. Menurut sejarah, situs ini dibangun oleh Raja Kassapa I pada tahun 477-495 Masehi. Berlokasi di wilaya Matale, Sigiriya Rock adalah salah satu dari tujuh World Heritage Site yang ada di Sri Lanka. Untuk sampai ke atas, kami harus menapak ratusan tangga, bahkan ribuan bila ingin sampai ke puncak batu yang berupa taman cantik. Di sekeliling Sigiriya Rock terdapat taman-taman dan pemandian, yang pernah digunakan oleh keluarga raja. 


Kota kunjungan kami berikutnya adalah Colombo, kota terbesar di Sri Lanka. Kondisinya mirip seperti Jakarta, dengan iklim yang agak panas. Kami hanya seharian di sini, menginap semalam tapi subuh harus kembali ke Indonesia. Jadilah kami manfaatkan untuk keliling. Ke Masjid jami Al-Alfar, yang arsitekturnya cukup unik, dengan warna merah putih. Mengingatkan pada bangunan gereja di Rusia. Kami juga sempat berkunjung ke sebuah pantai di pusat kota, yang banyak sekali pasangan bercengekerama di tengah hari panas. Haduh! Beberapa waktu lalu saya baca di koran, polisi Sri Lanka melakukan razia terhadap pasangan-pasangan yang bercengkerama di pantai. Bagus lah, biar pada tobat, hehe.



Ada satu situs yang tak kalah menarik, yaitu Adam’s Peak. Sebuah riwayat global menyebutkan bahwa setelah ”terusir” dari surga, Nabi Adam as diturunkan di sebuah gunung bernama Baudza si Semenanjung Serendip alias Sri Lanka. Adam’s Peak terletak di wilayah Ratnapura, wilayah pegunungan di tengah Sri Lanka. Sayang, kami tak sempat mengunjungi situs tersebut.

Hotel Mengenyangkan
Biasanya ketika traveling ke negara minoritas Muslim, salah satu kendala adalah makanan halal. Nah, di Sri Lanka tak perlu risau kesulitan mendapat makanan halal. Sebab, sebagian besar pengusaha restoran dan warung makan adalah Muslim. Di Kandy, Sigiriya, dan Colombo, kami begitu mudah mendapati warung atau restoran halal. Informasi ini kami dapatkan dari Uncle Mansoor dan keluarganya. Dia adalah paman Ihsan, seorang remaja yang diutus oleh brother Pious, teman dari teman, untuk menemani kami selama di Sri Lanka. Ini sebuah keramahan lain yang benar-benar tak bisa kami lupakan. Sebab, hingga sampai di Sri Lanka, kami sama sekali tak mendapat konfirmasi yang jelas. Sebelumnya saya memang sempat mengirim email kepada brother Pious, bertanya tentang tempat-tempat yang layak dikunjungi di Sri Lanka. Hanya sekali brother membalas e-mail meminta jadwal penerbangan kita. Tiba-tiba saja saat turun dari bus di terminal Katuyanake, tak jauh dari bandara, Ihsan menghampiri dan berkata bahwa ia diminta kakaknya untuk menjemput kami. Tidak hanya menjemput, selama 4 hari Ihsan menemani kami. Di akhir traveling, remaja berusia 19 tahun yang sangat fasih berbahasa Inggris tersebut mengaku bahwa menemani kami ke mana-mana (meski kami menolak karena merasa tak enak), sebab tak banyak muslimah yang melakukan backpacking seperti kami, sehingga dia dan kakaknya khwatir kepada kami, hahaha.

Oh ya, entah mengapa, restoran dan warung-warung makan di Sri Lanka disebut hotel. Awalnya kami sempat heran, kok banyak sekali hotel tapi tak terlihat seperti hotel. Di mana kamar-kamarnya? Ternyata memang begitu sebutan tempat makan di sana.

No Smoking!
Jangan coba-coba membawa rokok ke Sri Lanka! Bila negara-negara lain masih membolehkan, dari 100 hingga 500 batang per penumpang pesawat, maka Sri Lanka benar-benar melarang, tak boleh satu batang rokok pun! Dari informasi di buku panduan di pesawat, hanya ada dua negara yang melarang membawa masuk rokok, yaitu Singapura dan Sri Lanka.

Saya membuktikan sendiri betapa aturan ketat merokok benar-benar diterapkan dan ditaati oleh masyarakat Sri Lanka. Di bus-bus umum tak ada satu orang pun yang berani merokok. Bandingkan dengan di Indonesia. Meski aturan larangan merokok di angkutan umum sudah ada, tapi pelaksanaannya memble sekali. Dalam perjalanan dari Katuyanake ke Kandy dan Kandy ke Colombo misalnya, udara yang saya hirup benar-benar bebas rokok. Padahal bus yang saya tumpangi hanya bus ekonomi biasa, yang ongkosnya hanya 60 rupee (sekitar Rp8000,-) dengan jarak seperti Jakarta-Bandung. Apakah tak ada perokok di Sri Lanka? Tentu ada. Dalam perjalanan Katuyanake-Kandy misalnya, di tengah perjalanan bus berhenti, dan sopir serta beberapa penumpang laki-laki keluar. Agak menjauh dari bus, mereka kemudian mengeluarkan bungkusan rokok, dan ya... merokok. Setelah selesai (hanya sekitar 10 menit) semua naik kembali ke bus. Wah, salut juga. Larangan merokok di tempat-tempat umum pun begitu taat diterapkan. Ketika kami tanya Ihsan, mengapa mereka begitu taat, Ihsan hanya menjawab simpel, ”Because it’s not allowed, Sister.”


Serendipity
Ada satu kata dalam bahasa Inggris yang sampai sekarang sulit diterjemahkan dalam bahasa manapun, yaitu ”serendipity”. Kata ini masuk dalam jajaran top ten english words yang susah diterjemahkan. Makna sederhananya adalah”sebuah kebetulan”. Menemukan atau menjumpai sesuatu secara kebetulan ketika tengah mengincar yang lain. Dan ternyata, sesuatu yang dijumpai secara kebetulan tersebut seringkali lebih berharga daripada target sebelumnya. Nah, disinyalir kata serendipity berasal dari ”serendip”, sebuah istilah dalam bahasa Sansekerta (Sanskrit), ”swarna dhweep” atau ”swarna dwipa” yang berarti golden land (pulau emas). Istilah serendip pertama kali digunakan oleh pedagang Arab untuk menyebut Pulau Sri Lanka (Ceylon). Mereka bak menemukan mutiara di lautan. Bak menemukan pulau emas di tengah samudra, ketika menyinggahi Sri Lanka pertama kali.

Sepertinya itu yang kami alami dalam traveling ke Sri Lanka, ”hanya kebetulan” membeli tiket, tapi kami menemukan keramahan, kehangatan, dan juga alam yang cantik di Sri Lanka. []


Terima kasih buat Mas Heru informasi tentang kata ”serendipity”

Monday, October 6, 2014

[Travelogue] Backpacking Bangkok, Hanoi, & Ha Long Bay - bagian 3



Sejak tiba di Hanoi, petugas di hostel tempat kami menginap sudah nyerocos dengan bahasa Inggris-Vietnam yang susyeeh kami mengerti. Mister Chim, begitu dia memperkenalkan dirinya (umurnyaa palingan baru 20-an), mempromosikan paket-paket perjalanan ke beberapa tujuan wisata utama, seperti ke Sa Pa, Hue City, Nha Trang, Ha Long City, dan sebagainya. Kami tak ragu untuk memilih ke Ha Long City. Sebab, sejak di Indonesia kami memang sudah penasaran dengan Ha Long Bay, salah satu UNESCO World Heritage Site.


Indonesia Banget!
Paket perjalanan 2 hari 1 malam kami pilih. Harganya 45 dolar, sudah termasuk makan 3 kali sehari, transportasi Hanoi-Ha Long, dan menginap di boat. Bayarnya kapan? Setelah tur selesai, digabung dengan pembayaran hotel, termasuk pembayaran taksi ke bandara saat kami mau balik ke Indonesia. Sebegitu percayanya mereka pada turis. Eitt... jangan girang dulu, paspor kami ditahan hingga kami keluar dari hostel. Huh, pantesan mereka rela dibayar di belakang. Kalau nggak, ya kami nggak bisa pulang, secara paspor penting banget gituh. Beberapa bule yang satu grup tur dengan kami juga sempat misuh-misuh karena penahanan paspor tersebut. ”Bagaimana mereka menjamin paspor kita baik-baik saja?” begitu katanya. Yah, lain ladang lain belalang, belalang terbang hinggap di padang (halah).

Jam 8 pagi, sesuai instruksi, kami sudah siap di lobi hostel. Tak lama datang guide menjemput. Soal ini, Vietnam patut diacungi jempol. Grup-grup tur berangkat berbarengan, begitu juga baliknya. Padahal grup-grup tur tersebut dikelola oleh perusahaan berbeda lho. Grup kami sendiri terdiri dari 16 orang. 7 orang backpacker Kanada, 2 orang Vietnam (ibu dan anak), 1 orang backpacker Inggris (yang belum lama berkunjung ke Indonesia), 1 orang backpacker Singapura, 2 orang kakak beradik asal Inggris keturunan India (namanya Mira & Neina, indihe banget kan?), 1 orang backpacker asal Swiss (yang sudah 2 tahun backpacking, nggak pulang-pulang, ho-ho! namanya Felix dan maunya dekat-ekat terus sama kami, hihi), dan saya berdua dengan Mbak Ade (sahabat seperjalanan).

Waktu tiga jam dibutuhkan antara Hanoi ke Ha Long, yang terletak di provinsi Huang Ninh. Sepanjang perjalanan pemandangan yang tersuguh layaknya... Indonesia! Asli Indonesia banged! Persawahan, gaya rumah dan ruko, suasananya... Bedanya, orang Vietnam senang banget nongkrong di depan rumah. Nggak heran, hampir di depan setiap rumah atau ruko, pasti ada bangku-bangku plastik buat mereka ngobrol. Kalau anak mudanya, duduk-duduk sambil makan kuaci! Yap, kuaci!! Hehehe.

Sampai di pelabuhan Ha Long, telah berkumpul ribuan turis, yang masing-masing baru datang dengan grup turnya. Wow, serasa air dituang dari gelas deh para turis tersebu (baik backpacker dengan gembolan segede alaihim, maupun turis-turis biasa). Ha Long Bay benar-benar magnet bagi para turis yang ke Vietnam.



Menu Veggie yang Hampir Menipu
Pemandu kami langsung mengarahkan ke junk (sebutan untuk perahu yang akan membawa kami berkeliling pulau-pulau karang plus menginap di tengah teluk). Setelah briefing sebentar, kami diberi kunci kamar masing-masing. Saya dengan Mbak Ade mendapat kamar di sisi kanan kapal. Segera kami ke kamar meletakkan barang bawaan. Meski kamarnya kecil dengan tempat tidur yang juga kecil, tapi sangat nyaman, dilengkapi dengan kamar mandi di dalam. Ada air panasnya juga lho.


Perut sudah minta diisi. Kami pun kembali ke atas, untuk makan siang. Sementara junk mulai bergerak menuju gugusan pulau karang. Sejak awal kami sudah memesan menu vegetarian, biar aman gitu. Jadilah kami harap-harap cemas dengan menu tersebut. Selain kami ada 1 orang backpacker Inggris (Mira) yang juga veggie. Asli veggie, kalau kami kan pilih veggie untuk menghindari makanan yang nggak halal. Menu biasa mulai berdatangan. Wuah, bikin ngiler. Ada udang goreng, daging, telur, sayuran. Sedangkan menu veggie kami yang keluar cuma nasi, sayuran, dan telur rebus, huhuhu. Ngiri abis melihat meja-meja sebelah. Felix, si backpacker Swiss, dengan tatap kasihan melihat kami dan menawarkan makanan yang ada di meja. Kami menggeleng.

Mbak Ade kemudian dengan pede minta kepada pelayan untuk diberi udang rebus. Paling tidak itu cukup aman kehalalannya. Pelayannya mengangguk-angguk. Setelah beberapa saat si pelayan balik lagi, dan... membawa beragam makanan veggie! Oalaaa! Hihi, jadi mau malu. Ternyata menu-menu yang datang adalah menu biasa dulu. Di sini terlihat bagaimana Vietnam mengelola pariwisatanya dengan baik. Menu veggienya benar-benar veggie. Ada udang, cumi, plus ikan, yang dibuat dari bahan veggie. Dan selama 5 kali makan. Tapiii... dari sekian banyak makan, kami nggak pernah dapat minum air mineral! Harus beli. Weleh-weleh. Untungnya harga air nggak terlalu mahal.


Pulau Karang yang Menawan
Junk makin menjauh dari dari daratan. Pulau-pulau karang nan cantik benar-benar memanjakan mata. Seperti saya sebut di atas, Ha Long Bay adalah salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang dikukuhkan pada tahun 1994. Sesuai namanya, situs ini adalah teluk dengan (kurang lebih) 1.960 pulau karang bertebaran di area 1,553 km². Dahsyat memang. Sejauh mata memandang, pulau karang menyembul di sana-sini. Banyaknya pulau karang menyebabkan arus air laut begitu tenang. Kami leyeh-leyeh di bagian atas junk yang memang disediakan dan ditata begitu cantik untuk berjemur.



Menurut informasi, ribuan pulau karang tersebut terbentuk sejak 500 juta tahun lalu. Ha Long Bay juga menjadi rumah bagi 14 jenis floral dan 60 jenis fauna. Ha Long Bay sendiri adalah satu dari 33 teluk terindah di dunia. Pada 27 April 2012, Ha Long Bay resmi menjadi The New 7 Wonders of Nature, bersama Taman Nasional Komodo di Indonesia, Pulau Jeju di Korea Selatan, dan empat tempat lainnya.

Junk terus bergerak perlahan menuju Hang Dau Go, sebuah gua yang terletak di area teluk. Tidak terlalu sulit masuk ke gua tersebut. Semuanya sudah benar-benar rapi dan tertata. Stalaktit dan stalakmit cukup cantik menghiasi gua. Warna-warni pula! Tapi ternyata itu efek lampu beragam warna. Yah, kirain beneran :p. Yang jelas, view Ha Long Bay dari atas gua cantiiiik sekali. Setelah melihat-lihat gua kurang lebih 1 jam, junk bergerak lagi, putar-putar di antara gugusan pulau karang, dan mampir ke kampung terapung. Di sana kami bermain kayak kurang lebih sejam. Wah, jarang-jarang main kayak. Mbak Ade nampak panik. Sedangkan saya cool aja (ciehh). Felix dengan baik hati memandu kami dari atas junk dan mengambil gambar kami.


Semakin sore dan kemudian malam menjelang. Junk pun herhenti di tengah teluk, untuk menginap di sana. Backpacker-backpacker muda dari Kanada tampak ingin nyebur ke laut. Setelah izin pada nahkoda, mereka pun.... byuuurrrr! Hadoooh, jadi kepengen. Saya hanya mengabadikan action seru mereka bolak-balik nyebur ke laut dari atas junk.


Semalaman saya dan Mbak Ade ngobrol, sambil menikmati suasana malam di atas junk, di antara pulau-pulau karang, yang bagai makhluk-makhluk hitam besar di sekitar kami. Esok paginya, junk bergerak menuju pelabuhan kembali. Ternyata, meski awalnya kagum berat, berputar-putar di antara pulau karang lama kelamaan bosan juga, hehehe. Meski soal keindahan sih tetap kami akui oke banget. Sore hari kami telah tiba kembali di kota Hanoi. [selesai]

*perjalanan ini dilakukan pada April 2009