Monday, July 13, 2009

Muslim Traveler

Perjalanan pada hakikatnya harus memiliki nilai. Entah nilai yang bersifat transenden ataupun idealis, sehingga ia tak sebatas menikmati sebuah pelesiran. Perjalanan yang tak memiliki nilai sama artinya dengan menafikan keberadaan manusia sebagai makhluk yang membawa sifat-sifat keilahian.

Heru Susetyo, seorang petualang dan aktivis HAM, memberi makna lebih dari ungkapan di atas dalam setiap perjalanannya. Ia menyapa anak-anak di Siem Reap-Kamboja, Pattani-Thailand, dan di Mindanao-Filipina, yang hidup dalam kesederhanaan. menyapa para mualaf dari Jepang, Belanda, Jerman, hingga Republik Ceko yang semangatnya selalu menyala.

Pengalamannya menjejak puluhan negara di lima benua, begitu dalam dan beragam. Dan darinya kita mencatat, bahwa perjalanan layaknya sebuah ekstase, akan melahirkan energi baru dalam kehidupan.

***

Buku terbaru Lingkar Pena, insya Allah terbit 22 Juli 2009.

Judul: The Journal of a Muslim Traveler; Sebuah Perjalanan Melintasi Asia, Eropa, Amerika, dan Australia
Penulis: Heru Susetyo
Format: 14 x 20,5 cm
Tebal: 304 hlm.
Harga: Rp45.000,-

***

Heru Susetyo
Dilahirkan dan dibesarkan sebagai ‘anak kolong’ Komplek TNI AD Gegerkalong, kota kembang Bandung, saat kota tersebut benar-benar masih layak menyandang predikat Paris van Java, pada hari Kamis tanggal 13 Januari 1972. 

Menghabiskan masa kecil dan remaja hingga menikah di Bandung, Palembang, dan Jakarta. Selanjutnya ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Hukum UI, diploma di  Politeknik UI (jurusan Administrasi Niaga), dan magister Kesejahteraan Sosial di FISIP UI. Kesemuanya berlokasi di kampus UI Depok. Di tahun terakhir studinya di FISIP UI, ia memperoleh beasiswa Fulbright untuk studi master bidang International Human Rights Law di Chicago, Amerika Serikat. Kini tengah menyelesaikan studi Doktoral di bidang Human Rights and Peace Studies di Mahidol University, Thailand. 

Hobi utamanya adalah jalan-jalan, naik gunung, menulis, membaca, fotografi, belajar, mengajar, dan melakukan riset sosial. Hal yang membuatnya sangat bersyukur adalah ketika kamera digital, internet, berbagai macam blog, dan situs jejaring sosial ditemukan. Namun, karena belum yakin bahwa berjalan-jalan saja bisa menunjang karier dan menghasilkan nafkah, maka sejak tahun 1996 ia bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan di Fakultas Hukum Universitas Indonusa Esa Unggul (1999) serta menjadi advokat/ pengacara publik sejak tahun 1999.  

Mulai menulis sejak SMP dalam bentuk surat-surat pembaca ke majalah Hai, kemudian berlanjut terus di SMA, masa kuliah S1, hingga kini S3.  Banyak artikel ‘serius’-nya telah dimuat di harian Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, The Jakarta Post, Brunei Times, www.hukumonline.com, www.beritaiptek.com, majalah-majalah Islam seperti Suara Hidayatullah, Ummi, Sabili, Tarbawi,  dan beberapa media yang sudah tak terbit lagi (Saksi, Sakinah, tabloid Ishlah) serta beberapa jurnal ilmiah-akademis Fakultas Hukum.

Ia juga pernah menjadi anggota dewan redaksi tabloid Agenda dan kini masih menjadi salah seorang redaksi Jurnal Ilmiah Lex Jurnalica, Fakultas Hukum Universitas Indonusa Esa Unggul dan Pemimpin Redaksi Jurnal Syariah, Fakultas Hukum Universitas Indonesia.  Ketika lelah menulis hal-hal serius, ia tergelitik juga untuk menulis cerpen dan feature serta laporan-laporan perjalanan.  Cerpennya antara lain bisa ditemukan di majalah Annida dan Ummi.  
Advokasi HAM dan advokasi sosial adalah panggilan jiwanya yang lain. Hal yang membuatnya masih betah menjadi pengacara jalanan, konsultan hukum keluarga, penyelidik swasta, dan aktivis HAM hingga kini adalah wadah PAHAM (Pusat Advokasi Hukum dan HAM Indonesia), yang didirikan dengan teman-teman seprofesinya pada tahun 1999.

Bersama PAHAM dan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), ia melanglang buana hingga Maluku, Poso, Sambas, Aceh, dan turut melakukan kampanye kemanusiaan ke Australia-Selandia Baru dan empat negara di Eropa Barat pada tahun 2000. Demi mengasah ketrampilan dan pemahaman masalah HAM dan advokasi, Heru menempuh pendidikan advokasi tambahan di Chicago (2002), Wellington-New Zealand (2004), Taiwan (2005), dan Jepang (2005, 2006, 2007, 2008), serta mengikuti berbagai seminar dan training terkait di Denver (USA), Salzburg (Austria), Shanghai (China), Tokyo dan Kyoto (Jepang), Davao (Philippines), Chiang Mai–Bangkok–Nakhon Si Thammarat (Thailand), dan Penang (Malaysia).
Ia sangat terkesan dengan kota Madinah dan negeri New Zealand, Jepang, Canada, Austria dan Swiss, serta menjadikan kota Bandung, Chicago, Kyoto, dan Bangkok sebagai bagian dari kampung halamannya. Obsesinya juga bermacam-macam.

Di bidang akademik ingin menjadi guru besar (profesor), di bidang advokasi ingin menjadi advokat handal, di bidang penelitian ingin menjadi peneliti unggul, di bidang penulisan ingin menulis buku minimal tiga buku dalam setahun, satu tulisan untuk jurnal dalam sebulan dan dua  artikel populer dalam sepekan. Di bidang jalan-jalan, ia ingin menatap dunia dari atapnya, yaitu Pegunungan Himalaya, mengunjungi benua Afrika dan Amerika Selatan, serta mengunjungi kawasan timur Indonesia, utamanya Papua, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur. 

28 comments:

  1. kirain mbak dee bikin buku pengalaman backpackingnya :D

    ReplyDelete
  2. insya allah, dew. tunggu aja... ;)

    ReplyDelete
  3. terima naskah pengalaman naik gunung ga mba ? hehehhe

    ReplyDelete
  4. yg nulis wiwiek? kayaknya gak deh, wahahaha *kabur*

    ReplyDelete
  5. Semoga Allah swt memudahkan cita cita mulia beliau ya mbak...

    ReplyDelete
  6. wuaaaaaa..... hiks..hiks... *tersedu-sedu dipojokan*

    ReplyDelete
  7. Gak ada masalah muslim atau tidak, problem utamanya cuma soal halal saja, lalu tempat untuk shalat.
    Lantas bahasan lainnya apa dong dibuku ini, tentu saja sebagai traveller

    ReplyDelete
  8. maksud "muslim" di sini lebih kepda sudut pandang dalam perjalanan (yg kemudian dituangkan dlm tulisan), jadi gak semata cari tempat makan halal atau masjid, misalnya.

    ReplyDelete
  9. kapan koleksi buku dikau mo dilego mba? *OTT*

    ReplyDelete
  10. ehhh, masih ada yg nunggu ya? hehe. lumayan neh udah dpt calon pembeli. blm sempet wik, sabar yee, hehe. diusahain hari ini deh. kesian wiwik :D

    ReplyDelete
  11. ini juga yang mbak tunggu, say!
    ayo mbak deeeeeee.. bikin bukunyaaaaaaaa

    ReplyDelete
  12. aku tungguin deh, tapi jangan sore2 dunks, wes mo pulang nih mba, or gini aja pm ke aku semua buku yg mo dilego, aku pilih dulu. nah sisanya baru deh dipublish hehehehe

    ReplyDelete
  13. kayaknya gakkeburu nih, wik. ebsok atau besoknya deh hehehe bikin gondok wiwik*

    ReplyDelete
  14. huhuhuhu.... pokoke kalo aku beli buku, kudu bebas ongkir

    ReplyDelete
  15. berarti ambil sendiri ntar ke sini, kekeke

    ReplyDelete
  16. jd penasaran kayak apa isinya, serius apa nggak.. soale ngeliat & baca2 dikit blog orangnya kok agak2 serius yaa, hehe..

    ReplyDelete
  17. sersan kok, din. serius tapi santai... ;)
    yang jelas pas baca saya bener2 "disadarkan" ttg makna sebuah perjalanan.

    ReplyDelete
  18. oh, bukunya pak heru..
    jadi pengen beli juga..:)

    ReplyDelete
  19. wahhh pinginn, pingin baca pingin traveling juga :D

    ReplyDelete
  20. @ kakrahmah: yup... asik tambah lagi yg mo beli :D

    @ derni: sangat mba ;)

    @ annidalucu: hayuuk hayuuuukk... ;)

    ReplyDelete
  21. mantap...hihih tapi lom liat di gramed purwokerto neh

    ntar cari lagi ah^_^

    ReplyDelete
  22. mau dooong... diajak mb dee backpacking ria ..., ^ ^

    ReplyDelete