Wednesday, February 25, 2009

Fiskal, NPWP, dan orangtua (ada yang punya info?)

Baca postingan di bawah di sebuah milist.
Cuma agak kurang jelas dengan yang saya bold. Maksudnya kalau kita bawa ortu (yang tidak punya NPWP) berarti tidak perlu bayar fiskal (asal ada bukti kartu keluarga).

Ada yang tahu, atau punya penglaman?
makacih...

=======================

Counter bebas fiskal, hanya melihat nama sesuai dari NPWP & PASSPORT. Jika
ada perbedaan, nama seperti : di passport JOHANES & di NPWP JOHANES CHANG,
itu tidak ada masalah. Dan di passport Desy Herawaty & di NPWP Desy
Herawati, itu pun tidak masalah. Atau seperti di passport nama panjang & di
NPWP di singkat, itu juga tidak masalah. Maka dari itu guna, counter bebas
fiskal meminta NPWP asli.
Kartu Keluarga copy, di bawa apabila pemilik NPWP membawa pasangan. Jika di
Kartu Keluarga masih terpisah, harap membawa Akte Nikah copy.

Bagi pemilik NPWP, ingin membawa orang tua. Harap datang ke Airport 3 jam
sebelum keberangkatan. Karena pemilik NPWP & orang tua wajib, memberikan
SURAT PERNYATAAN di depan counter bebas fiskal.

Untuk anak di bawah usia 21 tahun, tidak perlu membayar Fiskal. 
Jika NPWP, belum jadi. Rekapan formulir (resi), dapat di gunakan sebagai bukti
bebas fiskal.
Passport NAMA CHINESE, dan di NPWP NAMA INDONESIA wajib melampirkan Surat
Keterangan Ganti Nama.
Orang Asing memiliki KITAS/KITAP, wajib membayar Fiskal.
Bagi orang Indonesia beralamatkan luar & pelajar yang tinggal di luar
negeri. Selama, mereka berdiam di Indonesia kurang dari 6 bulan. tidak perlu
membayar Fiskal. Peraturan ini berlaku dalam kurun waktu 1 tahun.
Tour Leader, yang tidak memiliki NPWP pribadi. Itu di haruskan membayar fiskal
(seperti biasa) walaupun di FISKAL NPWP a/n. perusahaan.

Berapa biaya Fiskal, sekarang ?

Dengan menggunakan perjalanan udara Rp. 2.500.000,-

dan menggunakan perjalanan laut Rp. 1.000.000,-

Bagaimana caranya ?

Penumpang sebelumnya melakukkan Check In & menunggu boarding pass. Setelah
itu baru mengurus bebas fiskal (di counter bebas fiskal) Boarding pass akan di
stamp oleh counter bebas fiskal. Dan langsung ke immigrasi, untuk melakukkan
stamp ke berangkatan.

__._,_.___

46 comments:

  1. "Maksudnya kalau kita bawa ortu (yang tidak punya NPWP) berarti tidak perlu bayar fiskal (asal ada bukti kartu keluarga)."

    sepertinya begitu mbak Dee. Dulu RCTI sempat ngasih infonya.

    ReplyDelete
  2. Sambil googling, dapet ini :D (jadi agak lebih jelas), cuma tetep pengen tau teman yang mungkin punya pengalaman:

    Bagi istri dan anggota keluarga lainnya (anak maupun orang tua dari pemilik NPWP) yg serumah dengan pemilik NPWP juga bebas fiskal dan untuk mendapatkan cap bebas fiskal harus membawa fotokopi NPWP suami / kepala keluarga + fotokopi kartu keluarga yg didalamnya tercantum nama pemilik NPWP dan nama penumpang yg mau bepergian + fotokopi paspor + Boarding pass.

    ReplyDelete
  3. ini lagi ditanya2in ke sekretarisnya mas alan
    soalnya ya, airasia ke singapore lagi murah bener, kalau beneran gak bayar fiskal, kami berencana ajak anak2 ke sentosa island niy ...

    ReplyDelete
  4. kalau di kartu keluarganya tercantum nama pemilik npwp dan orangtuanya (masih tinggal serumah)
    kalau sudah punya keluarga sendiri kayak saya mungkin sulit.
    kalau suami istri jelas bisa.

    coba deh mbak dee konfirm langsung ke kantor terkait, biar jelas. ditunggu infonya ^-^

    ReplyDelete
  5. mba dee mau kemana siiiy? *wink blink :D*

    kalo mau ke sg, nginep rumahku yaaaa! *ngancem:P*

    *maap mba ga bisa jawab, ga ngerti dan ga pengalaman*

    ReplyDelete
  6. naa itu, shant, daku juga mo ngajak nyokap ke Sg ato Kl. udha booking ke KL pp dapet 247 rebong, murah benerrr hehehe

    ReplyDelete
  7. iya nih, mbak, googling dulu. ntar baru kontak hehehe

    ReplyDelete
  8. aciiiiiiiikk, dapet tempat nginep gratis!! insya Allah fe, makanya lagi cari info neh, biar bisa ngajak emak ;)

    ReplyDelete
  9. lha ya itu ..masih tanya2 masalah fiskal, kami kan ber-4, kalau fiskal gak gratis, mahalan bayar fiskal dibanding biaya pesawat+hotel+rekreasi ...huhu...ikutan google sana sini niy mbak Dee
    mungkin perlu tanya sama Imigrasi kali ya ?
    atau ke petugas bandara ?
    mereka dah disosialisasikan belum ? jangan2 mereka malah gak ngeh ...

    ReplyDelete
  10. iya, besar fiskal daripada tiang, hehe.
    ini dpt info lagi shant:

    Jika ada anak atau istri yang hendak bepergian ke luar negeri, mereka bisa bebas fiskal asal menunjukkan NPWP ayah atau suami. Hal itu dimungkinkan karena Indonesia menganut prinsip satu NPWP dalam satu keluarga.

    ReplyDelete
  11. masalahnya kmrn sempet ada rumor,
    NPWP yg bebas fiskal itu yg pribadi..bukan yg karyawan

    jd ada org, dia udah pede punya npwp..ternyata pas cek di bandara nomer NPWP-nya bukan termasuk bebas fiskal ??? pdhl dia udah checkin dan boarding.

    ReplyDelete
  12. welehhh, berati kudu bener2 jelas yak. udah seneng dapet tiket 250 rebu, eh bayar fiskal 2,5 jeti, haha!

    ReplyDelete
  13. Daat info ini, mas:

    Ternyata, NPWP Karyawan Tetap Berlaku
    Written by Redaksi Web
    Wednesday, 14 January 2009 03:04

    Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) milik karyawan yang diurus langsung oleh perusahaan dinyatakan tetap valid untuk mendapatkan bebas fiskal. Demikian dikatakan Kepala Kantor Pajak Pratama (PP) Medan Polonia, Harri Gumelar, Selasa (13/1) di Medan.

    Pernyataan ini sekaligus meluruskan informasi sebelumnya yang menyebutkan kalau NPWP yang diberikan perusahaan untuk karyawannya tetap diwajibkan membayar fiskal. "Mungkin ada kesalahpahaman saja dalam segi penjelasan.
    NPWP yang tidak valid itu apabila mengatasnamakan perusahaan atau nama PT, CV ataupun Firmanya," ungkap Harry, di kantor PP Medan Polonia, Jalan Diponegoro, Selasa (13/1).

    Harry menambahkan, NPWP wajib dimiliki semua warga negara Indonesia, tanpa terkecuali. NPWP juga tidak akan gugur apabila si pemilik NPWP berpindah tempat tinggal. Soalnya nomor pokok pajak, hampir sama dengan nomor penduduk. NPWP tidak berlaku apabila si pemiliknya telah meninggal dunia.
    "Contohnya saja gubernur kita (Syamsul Arifin-red) pernah bertanya apakah NPWP istrinya masih berlaku, karena memakai alamat di Langkat. Saya katakan NPWP istri beliau masih berlaku," ungkap Harry.

    Bagi Harry, sudah seharusnya pajak itu dijadikan sebuah parameter kejujuran warga negara Indonesia. Karena menurutnya membayar pajak itu berdasarkan kejujuran dari hati nurani kita sendiri.

    Terkait masalah kerjasama IMT-GT (Indonesia, Malaysia dan Thailand Growth Triangle), dan IMS-GT (Indonesia Malaysia Singapura Growth Triangle), yang masih membingungkan masyarakat, menurut Harry akan ditinjau ulang. "
    Kerjasama IMT GT ataupun IMS GT akan dievaluasi Menteri Keuangan. Kebijakan fiskal adalah peraturan pemerintah sementara IMT GT ataupun IMS GT itu keputusan menteri. Maka dengan sendirinya akan runtuh," ungkap Harry.

    Agar tidak menimbulkan multitafsir di masyarakat, Harry akan segera mensosialisasikanny a. "Kita siap menjawab semua pertanyaan dari masyarakat terkait masalah dua peraturan ini," ujar Harry.

    ReplyDelete
  14. yg ribet ma Fiskal cuma di Indonesia doang kok ....

    ReplyDelete
  15. sama salah satu negara miskin lain yg tidak disebutkan namanya :-D
    apa iya Indonesia mau dikategorikan negara miskin yee :))
    tapi "katanya" nanti mulai 2011 fiskal akan dihapuskan seluruhnya, gak cuma berlaku bagi yg punya NPWP ...katanya tapi ya...gak tahu tuh kata siapa :)

    ReplyDelete
  16. sumpeh lho ??bisa dong ...
    mbak Dee berangkat kapan ? nungguin cerita pengalamannya mbak Dee deh, baru kami nyusul ...hihihihi
    ntar blognya mbak Dee ini diprint ye, dikasih unjuk ke petugas imigrasi bandara :)

    ReplyDelete
  17. Tanyakan pada MP-ers yang orang Pajak... Coba ke asyhadimunir.multiply.com, tekads.multiply.com...

    ReplyDelete
  18. Oh Budaya ribet dimana2 di ina
    fyi
    "pajak sebagian besar utk byr utang LN, yg utang siapa yg byr rakyat kecil" (sumber: google kata kunci buku "pajak dlm syariah")
    http://forum.dudung.net/index.php?topic=14060.0

    "hadits : tak akan masuk surga pemungut cukai/pajak," (sumber: zaim saidi tokoh filantropi syariah)
    http://zaimsaidi.org/2008/12/kezaliman-pajak/

    ReplyDelete
  19. soal pajak teh emang rada riweh.
    ulama juga ada yang ngebolehin, ada yang ngelarang.
    ada hadis riwayat Ahmad yang seperti ini:
    laa yadkhulul jannata shaahibu muksin. Dan dalam buku2 berbahasa indonesia nampaknya kata “muksin” ini terjemahannya beda2, ada yg menerjemahkan sbg pemungut cukai, ada yg menerjemahkan sbg pemungut pajak, dan ada yg menerjemahkan sbg penarik pungli (pungutan liar).
    kita ikhlas gak ditarik? kalau gak ikhlas, para pemungut pajak itu bisa dikategorikan sebagai perampok...hihihi...
    itu kata yang ngelarang lho...

    ReplyDelete
  20. kenapa sih indonesia seneng banget bikin budaya ribet yah ... kabarnya, nanti juga fiskal bakal dihapus koq. jadi, punya atau tidak punya NPWP tetap bebas fiskal. enggak tahu yah, kenapa sekarang harus punya NPWP dengan iming-iming bebas fiskal.

    ReplyDelete
  21. *siap-siap gelar kasur nyambut mba Dee*

    :D

    ReplyDelete
  22. * siap-siap nagih kain sari sama gelang India hasil Dee belanja di little India*

    ReplyDelete
  23. betull ternyata..:D
    barusan sosialisasi pengisian SPT ama Dirjen Pajak,
    keuntungan punya NPWP adalah bebas fiskal.
    KK dan KTP ditunjukan kalau si pemilik NPWP tidak ikut berangkat (istri dari suami yg punya NPWP). kalau si empunya NPWP ikut, cukup menunjukan kartu NPWP.

    dan itu memang sudah kebijakan dari dirjen pajak.

    ReplyDelete
  24. horee....jadi berangkat ni ? hihihihi

    ReplyDelete
  25. tambahan info dari milist sebelah:

    CMIIW yaaa...
    Gini, walaupun lansia, kl masih berpenghasilan, ttp harus ada NPWP.
    Penghasilan disini artinya bisa beragam, bukan hanya gaji, tetapi bisa
    berupa uang pensiunan, uang bunga bank, itu tetap dianggap sbg
    penghasilan.
    Tapi tentu saja potongan pajaknya berbeda dgn gaji yah...
    Nah, orang tua pun, bisa bebas NPWP dalam hal mereka menjadi tanggungan
    anaknya (dalam arti bukan merupakan kepala keluarga).

    Jadi buat ibunya mbak maxine, apakah dalam KK beliau merupakan kepala
    keluarga? Kl iya, maka kl beliau masih "earning" apapun setiap bulannya,
    maka tetap harus ada NPWP. Kl beliau bukan kepala keluarga, maka bisa
    bebas.

    Jadi lansia pun harus ada NPWP dalam hal:
    - merupakan kepala keluarga sebagaimana tercantum dalam KK; dam/atau
    - masih mempunyai kegiatan yang menghasilkan uang (investasi,
    komisaris/direktur suatu PT)
    - masih mempunyai penghasilan tiap bulannya (bisa berupa gaji, uang
    pensiunan, bunga bank, dll)

    Kl males ngurus NPWP, ya tunda aja pergi2nya selama setaun. Ketentuan ini
    berlaku 'hanya' setahun, selama 2009.

    Cheers,
    Dhitta

    ReplyDelete
  26. karna itu perlu "ambil" uang rakyatnya , pan miskin :D.

    ReplyDelete
  27. baru ngebook doank, shant, hehe. pas mo bayar kok gak bisa2, padahal cc saya baik2 aja, gak pernah nunggak selalu patuh dan taat, ihikkk...

    ReplyDelete
  28. Ya Tuhanku... betapa ribetnya..
    Jadi berangkat gak nih? *ngepak koper*

    ReplyDelete
  29. mbak dee ke kl kan? aduh kami seneng sekali loh kalau mbak dee mau nginap di rumahku. tolong ya, kasih tahu kapan ke kl-nya, pokoknya hrs mampir. kutunggu...!!!

    ReplyDelete
  30. nggak tau uga, mbak, nggak ngarti soale hehehe

    ReplyDelete
  31. poko'nya, kalu jadi ke sg, ditunggu tilpun ato esemesnyah! *wink*

    ReplyDelete
  32. nunggu royalti elo keluar, rie, wahaha

    ReplyDelete
  33. waaa, mau banged!! bener2 kehormatan tiada tara kalo bisa nginap di rumah mab inci, tapiii... blm bisa bayar neh dr kemaren mbak, hehehe

    ReplyDelete
  34. PP Jkt-KL cuma 247 rebu ? hmmmmmmmmmm

    ReplyDelete
  35. Nyebelin banget emang soal fiskal ini ya :-(

    Keknya dalam buku backpacking nanti kudu ada himbauan kalo perlu masukan keras (ada gitu istilah masukan keras, hihihihi) utk pejabat Indonesia, menghentikan kewajiban backpacker, biar semakin banyak Indonesian backpacker, huehehehe :-D

    ReplyDelete