Thursday, November 6, 2008

Mamma Mia vs Mamma Mia

Rating:★★★
Category:Other
Pertunjukan drama (teater) dengan film (movie), tentu, dua”makhluk” berbeda. Meski ada kemiripan, namun dari genre, film sudah terpisah dari seni pertunjukan (tari, teater, dsb). Jadi, ketika nonton Mamma Mia versi DVD, saya nggak mau ekspektasi berlebih. Apalagi ada Om Pierce Brosnan nyanyi. Hah? Sejak kapan bisa nyanyi, Om? *kucek-kucek mata*

Mamma Mia versi drama sendiri saya tonton waktu melancong (beuuhh) di sonoh. Ditawari nonton Broadway, waaa… sapa yang nggak mau? Secara masuk dream list dan mehelll! (111 daun kelor-->bandingin sama pentas Teater Koma yang rata-rata harga tiketnya 50 rebong, haduhh miris).
# Kagak mutu amat sih dream list cuma nonton Broadway?
@ Yah, secara ogut aktris gitu…
# Cuhh!
@ Eeh, gak caya? Gini-gini udah pernah mentas di TIM en GKJ
# Jadi pohon?
@ Bukan, jadi kodok!

Ok, back to topic. Saya langsung samber tawaran itu. Apalagi pas ngecek judul-judul yang lagi pentas, nggak pake mikir, pilih Mamma Mia! ABBA mungkin bukan “masa” saya, tapi sejak kenal lagu-lagunya, saya langsung jatuh cinta. Fernando, Chiquitita, I Have a Dream adalah lagu favorit saya.

Nah, Mamma Mia adalah pentas drama yang plot ceritanya diolah dari lagu-lagu beken ABBA. Singkatnya begini: Sophie Sheridan, gadis yang tinggal bersama ibunya, Donna, akan menikah. Selama ini sang ibu merahasiakan siapa sebenarnya ayah Sophie. Di pernikahannya, Sophie ingin sang ayah mendampingi. Tak sengaja lewat depan rumahmu, kumelihat ada tenda biru (lho kok jadi desy ratnasari?). Tak sengaja Sophie menemukan diary sang ibu, yang di dalamnya ada kisah kasih si ibu dengan tiga pria, yang kemungkinan salah satunya adalah ayah Sophie. Maka, Sophie pun mengundang ketiga pria tersebut (Sam Carmichael, Bill Austin, dan Harry Bright). Kedatangan ketiga pria tsb tentu membangkitkan kenangan masa lalu Donna. Di sisi lain, Sophie berusaha “ngetes” siapa sebenarnya ayah aslinya. Maka, mengalirlah cerita, dan megalirlah lagu-lagu legendaris ABBA, dari I Have a Dream, Money Money Money, Chiquitita, Honey-honey, Gimme Gimme, hingga Dancing Queen.

Lantas, apa bedanya antara Mamma Mia versi teater dengan film? Secara plot cerita, nggak ada perbedaan sama sekali. Lagu-lagunya pun mirip. Cuma ada 1-2 lagu yang tidak ada di teater, tapi ada di fim. Yang jelas, salah satu lagu fav saya (Fernando) nggak ada, hiks. Yah, memang nggak nyambung dengan cerita seh.

Perbedan lain? Tentu secara teknis, makna, dan perasaan (saahhh). Seperti saya bilang di atas, nonton teater sama nonton film itu beda banget. Dari sisi setting misalnya, setting teater ya di situ-situ aja, paling propertinya yang berbeda (dan di sini kerja kru panggung untuk mensiasati benar-benar dibutuhkan kreativitas tinggi). Sudut pandang penonton teater pun berbeda antar penonton di depan dengan di belakang (ini secara letterlijk, beuuh so londo). Jadi, memang agak sulit untuk membandingkan. Teater adalah seni pertunjukan yang melibatkan penonton secara langsung, maka auranya pun beda. Saat nonton versi teater misalnya, penonton bisa ikutan koor, bernyanyi. Yah, pas nonton pelem bisa juga seh, tapi dijamin nggak seseru pas nonton teater.

Yang juga bikin saya ngikik, ya itu… pas Om Brosnan nyanyi. Lumayan sih, tapi hihihi… nggak kuku dah! Gitu-itu doski latihan khusus nyanyi lho. Terus Meryl streep yang memerankan Donna, juga agak kurang cucok ya. Aktingnya sih bagus, dan suaranya juga lumayan (lebih oke dibanding Om Brosnan, kekeke), tapi karena imej Streep sudah begitu melekat dengan peran-peran “kuat”, saya agak aneh aja nonton dia dalam film musikal.

Beda yang lain? Selesai nonton versi teater, saya foto-foto di luar (ama poster-poster teater). Di dalem ketat banget, dan petugasnya punya mata 117 deh kayaknya. Bener-bener nggak bisa lihat penonton yang ngeluarin kamera, langsung deh dihampiri dan ditegur. Nah, pas foto-foto di luar itu, lewatlah pemeran Bill Austin, terus kita papasan, dan dia tersenyum (sama saya, serius!). Bukan senyum atau papasannya itu yang bikin saya kagum, tapi betapa profesi aktor/aktris teater emang udah “biasa’ banget dan broadway (baik yang off, off-off, maupun yang on… eh broadway utama gitu) sudah begitu profesional (dan kapitalis? :D, yah... secara udah jadi turisme) . Jadi, abis pentas, ya langsung pulang. Kayak abis kerja biasa aja gitu. Jadi inget Mbak Ratna Riantiarno dan Mbak Ratna Madjid waktu saya ikut lokakarya teater beberapa tahun lalu. Beliau bilang: profesi pekerja teater belum bisa menjadi nafkah utama, bahkan kami masih harus merogoh kocek sendiri. Idealisme dan kepuasan batinlah yang kelompok-kelompok teater masih berdiri. Itu diucapkan oleh dedengkot Teater Koma yang, kita tahu, pementasannya selalu ditunggu dan penuh penonton. Mungkin tiketnya kudu 100 dolar dulu kali yeee….

Jadi? 8 untuk teater, 6 untuk filmnya.
Pesan moral (baik dari teater atau film): Mangkenye jangan zinah, apalagi ame beberapa laki, pusing deh ntar anak lu nentuin bapaknye! :D

Foto: Cieehhh... belagu luh! *sebelum nonton*

16 comments:

  1. Kalau baca di Femina, katanya Fernando cuma disenandungkan Meryl Streep di awal film... Aku belum nonton juga sih.

    ReplyDelete
  2. iya di filmnya, mbak. kalo di teaternya seingatku gak ada..

    ReplyDelete
  3. aku suka film ini.
    kapan ya bisa liat versi broadway-nya? *mimpi dulu aaaah...*

    ReplyDelete
  4. ohh baru tau itu dr lagu2 abba hehehe..
    blon sempet nonton pilemnya. cari ah..

    ReplyDelete
  5. Yo wez...I'll sing 4 U deh, Mbak... ;)

    ReplyDelete
  6. mbaaak...pingin nyubit mbak deh, gemeees! :D

    ReplyDelete
  7. kok kita ga ketemu ya mbak?
    mbak duduk di sebelah mana sih..?

    ReplyDelete
  8. sama mbak saya lebih bravo nonton nih teaternya..kebetulan ditawain ibu mertua buat nonton mammamia teaternya di Stcokholm kalo ngga salah 2 thn lalu, keren abiss dan kwalitas menyanyi mereka juga keren abiss itu jgua aktingnyaaa...

    ReplyDelete
  9. Dreamlist lanjutannya ada ga: mentas di Broadway...uhuk uhuk..:p

    ReplyDelete
  10. emang dulu waktu Dee pentas di TIM jadi kodok (lihat paragraf sebelumnya...:p) abis pentas, terus ngapain..????

    ReplyDelete
  11. @ akunovi: beeuuhh, telah ;p

    @ trasyid: liat dunk... :D

    @ ummuthoriq: uhui!! (???)

    @ perca: kalo lihat teaternya pasti lebih suka lagi, mbak :).

    @ onit: lagunya asik-asik, nit. mba nonton filmnya utk nikmati (lagi) lagu2nya.

    @ bundaathira: waa... kabuurrr...! *sambil tutup kuping*

    @ annidalucu: awww... jangan2 kenceng2 nyubitnhya, fe! :p

    @ liankagura: duduk di dalem lah, kau ngintip dari lubang angin kan?? :p

    @ yeyenkenta: iya, keren, mba. trus di broadway sendiri udah dari thn 2001 masih terus diminati pentasnya.

    @ myhartono: gapapa ngayal dulu, insyaAllah suatu ahri terwujud. saya aja ngayal dulu ;)

    @ mhevita: mimpi hari ini kenyataan ahri esok. yuuuuk, mimpi kaleee.... ;p

    @ lollydiah: haha, gak mbak, waktu di TIm aku jadi feminis, di GKJ jadi tukang centil, nah lho, binun kan? hehehe

    ReplyDelete
  12. baru aja nonton mamma mia. emang itu benaran suara asli pemain filmnya ya mba? baru tau kalo pierce brosnan bisa nyanyi.. :) Oya, Meryl Streep itu yang di Dalmantion 101 kan mba?

    ReplyDelete