Tuesday, April 1, 2008

Buku di Maret

Rating:★★★
Category:Other
1. Be a Smart & Beloved Girl (Ru’a Yusuf) - Pustaka Al Kautsar, 2007, 164 hlmn. * * *
Buku yang berisi kumpulan tips bagi wanita dalam menghadapi hidup. Dari tips yang berhubungan dengan tingkah laku hingga tips menegur/menasihati teman. Lumayan, meski kurang “dalem” dan tak banyak menampilkan analisa baru. Terus, kurang sistematis penyajiannya. Tulisan tak dirunut rapi berdasar tema yang bertalian, cenderung tersebar, padahal sebenarnya berhubungan.

2. Bersama 6 Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin (Khozin Abu Faqih) – Auliya Press, 2006, 220 hlmn. * * * *
Tak semua tokoh besar meninggalkan “atsar” dalam rekam jejak kehidupannya. Tak banyak juga, mungkin, yang mengenal nama Hasan Al Banna, Hasan Hudhaibi, Umar Tilmisani, Muhammad Hamid Abu Nashr, Mustafa Masyhur, dan Ma’mun Hudhaibi. Tapi bagi dakwah, tokoh-tokoh cukup dikenal. Buku ini merangkum kehidupan 6 pimpinan Ikhwanul Muslimin, gerakan dakwah yang lahir di Mesir pada tahun 1928, didirikan oleh Hasan Al Banna saat ia baru ebrusia 22 tahun. Tak terlalu detail memang menyimak kehidupan 6 tokoh ini, tapi cukup membuat saya jadi benar-benar “kagak ade sekuku jari ame mereka”. Kita dapat belajar dari siapa pun, apalagi dari orang-orang shaleh seperti mereka berenam. Yang mempersembahkan hidup bagi dakwah, yang terbiasa dipenjara dan disiksa hanya karena memperjuangkan kebenaran.

3. De Winst (Afifah Afra) – Indiva, 2008, 336 hlmn. * * *
Setelah trilogi Bulan Mati di Javasche Oranje (BmdJO), baru kali ini Afifah kembali menulis novel bernuansa sejarah yang cukup kental. Saya serasa kembali ke masa-masa awal FLP “go public” dulu. Temanya sendiri hampir mirip dengan BmdJO, kisah cinta dibalut masa pergerakan (settting tahun 1930-an). Dari segi penggarapan, Afifah lebih “membumi”, tak terlalu hitam putih dan menggebu-gebu dalam menyampaikan pesan moril (baca: dakwah), meski masih ada logika cerita yang kurang tepat menurut saya.

4. Dokumen Jibril – Penerbit Republika, 2005, 176 hlmn * * *
Kumpulan cerpen yang ditulis perempuan pengarang di harian Republika, di antaranya: Dewi Lestari, Asma Nadia, Titie Said, Helvy Tiana Rosa, Djenar Maesa Ayu, Dianing Widya, Ratna Idraswari Ibrahim, dll. Beragam tema, beragam teknik. Judul “Dokumen Jibril” diambil dari cerpen Ucu Agustin.

5. Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf (Izzatul Jannah, dkk) – Indiva, 2008, 176 hlmn. * * * *
Ini kutipan tulisan Mas Joni Ariadinata di pengantar buku ini: “Akhir-akhir ini muncul stigma yang kurang menguntungkan bagi “prajurit-prajurit pena” yang tergabung dalam FLP. Kono, karya-karya mereka seragam. Konon, karya-karya mereka hanya menawarkan nuansa hitam putih sehingga membosankan. Konon, konon, begitulah anggapan senada yang senantiasa diulang sehingga nyaris membentuk sebuah kesimpulan. Tentu saja, siapapun berhak melemparkan stigma dengan berbagai alasan. Dan, tentu saja, pihak yang merasa dirugikan lantaran stigma itu, berhak juga melemparkan pembelaan, juga dengan berbagai alasan. Nah, FLP Jawa Tengah kali ini memberikan jawaban dalam bentuk paling konkret.”
Tepat sekali pengantar Mas Joni, sebab kumcer ini memang berisi karya-karya yang bermutu. Ada kelemahan di beberapa cerpen memang, tapi secara keseluruhan cukup oke. Cerpen “Sudah Mati” Mbak I-Je (Izzatul Jannah) saya baca hingga tiga kali (berkisah tentang kematian Suharto).

6. Kebebasan Wanita Jilid 6 (Abdul Halim Abu Syuqqah) – GIP, 2000, cet. 3, 306 hlmn. * * * *
Setelah bertahun-tahun “stag” di jilid 1-4, akhirnya di IBF kemarin bisa beli jilid 5 & 6 (pernah baca sih, tapi nggak komprehensif). Karena jilid 5 lebih tipis dibanding jilid 6, so baca yang ini dulu :D. Jilid ini berisi kajian tentang aspek-aspek kehidupan seksual (ehemm... :D) dalam kehidupan rumah tangga secara rinci, meliputi bagaimana umat Islam menyikapi masalah seks, apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan, serta bagaimana mendidik anak-anak dalam masalah tsb.

7. Love Story (Erich Segal) – Gramedia, 2005, cet. 11, 155 hlmn * * *
Cerita sederhana, dengan tema dan plot yang sederhana (simpel banget dah), tipis pula novelnya, tapi endingnya lumayan bikin dada tersekat.

8. Oh, Baby Blues (Mamiek Syamil, Dina Sulaeman, dkk) – Syaamil Cipta Media, 2007 * * *
Kumpulan kisah para ibu yang pernah mengalami baby blues (sindrom pasca melahirkan). Menarik. Penuh hikmah dan pelajaran, meski kurang detail. Mungkin karena masing-masing penulis hanya mengungkapkan pengalamannya saat menyadari terkena baby blues dan bagaimana mengatasinya. Akan lebih menarik dan dalam sepertinya, bila masing-masing penulis diberi tema berbeda, meski tetap satu benang merah. Tapi mungkin buku ini memang dimaksudkan sebagai “pengantar” dalam memahami baby blues. Untuk lebih detail, sepertinya kita harus membaca buku lain.

9. Rahasia di Balik Penggalian Al Aqsha (Abu Aiman) – Ufuk Press, 2007, cet. 2, 254 hlmn. * * *
Sepertinya buku ini awalnya merupakan skripsi/tesis, berasa dari gaya penulisan, bahasa, dan penuturannya yang agak kaku. Tapi ada banyak wawasan tentang Al Qasha yang bisa kita dapat. Penulis berusaha menggali sejarah keberadaan Al Aqsha juga sejarah yang melingkupinya (Yerusalem, dsb) dari masa sebelum masehi hingga kondisi saat ini. Dan tentu saja, tentang mengapa Zionis “ngotot” ingin menjadikan Al Qasha sebagai Kuil Solomo (Haikal Sulaiman).

10. Retorika Islam: Bagaimana Seharusnya Menampilkan Wajah Islam (Yusuf Al Qaradhawi) – Al Kautsar, 2007, cet. 2, 256 hlmn. * * * * *
Nanti pengen saya review terpisah (kalo sempet, hehe). Yang jelas, sangat menarik bahasannya. Cocok buat “mengasah” cara dakwah yang lebih elegan. Apalagi buat ngadepin orang model Wilder yang sangat berpikiran sempit dan rasis (eh, ngomongin die mah cuma nambah popularitasnya doang yak!).

11. Seandainya Mereka Bisa Bicara (James Herriot) – Gramedia, 1978, 312 hlmn. * * * *
Dari dulu penasaran dengan buku-buku Herriot. Dan saya menemukan buku ini nyelip di perpustakaan kantor (ya ampyuun...). Sudah agak dekil dan kuning halaman-halamannya (terbit 30 tahun lalu gitu). Terjemahan dari “If Only They Could Talk”. Bercerita tentang pengalaman James Herriot sebagai dokter hewan yang baru lulus, “mengabdi” di pedalaman Inggris (Darrowby, Yorkshire). Beberapa bagian bikin saya ngakak, juga haru. Menurut Andrea Hirata (penulis tetralogi Laskar Pelangi), ini satu-satunya novel yang ia baca sampai habis, dan yang menginspirasi buku Edensor.

12. Stargirl (Jerri Spinelli) – Gramedia, 2004 * * * *
Dari segi ide, novel yang mengangkat tema tentang “seseorang yang berbeda dari lingkungannya” sepertinya sudah banyak juga diangkat. Tapi, novel ini benar-benar beda. Tokohnya beda (ya iyyalah!) dan penggarapannya juga apik. Tentang Susan *Stargirl* Caraway, gadis yang tiba-tiba membuat SMU Mica, Arizona, jadi penuh warna. Bayangin aja, selain gaya dandannya yang unik, Stargirl juga biasa mengucapkan selamat pada teman-temannya yang berulang tahun (semua!) dengan bernyanyi sambil memetik ukulele. Tapi, keunikan yang tadinya membuat SMU Mica berwarna berbalik, Stargirl dikucilkan, dianggap dapat merusak “tatanan”yang sudah ada. Novel ini adalah fiksi remaja berlabel “teenlit” yang pertama terbit di Indonesia.

13. The Hidden Face of Iran (Terence Ward) – Rajut Publishing, 2007, 579 hlmn.
Ini memoar asyik banget, meski saya nggak bisa baca sekali duduk. Nyicil, dan memang belum selesai saya baca, baru setengah. Kagum dengan keluarga Ward yang melakukan perjalanan untuk mencari Hasan, bekas koki dan pengurus rumah tangga selama mereka tinggal di Iran, 30 tahun lalu. Isi memoar ini bukan sekadar berkisah harus biru perjalanan 6 anggota keluargaWard, tapi juga mengorek sejarah dan budaya Iran.

14. The Painted House = Rumah Bercat Putih (John Grisham) – Gramedia, 2001, 532 hlmn * * *
Buku pinjaman sejak 4-5 bulanan lalu. Saya baca beberapa bab, terus bosan dan sama sekali nggak melanjutkan. Cuma karena kudu dipulangin, akhirnya saya coba teruskan awal Maret kemarin. Ternyata bab-bab selanjutnya tak se-membosankan bab-bab awal. Saya cukup penasaran mengikuti ceritanya. Baca novel Grisham yang ini, saya jadi ingat Too Kill Mockingbird, di mana POV cerita—yang juga tokoh utama--adalah anak kecil. Kalau TKM tokohnya adalah gadis berusia 8 tahun, Scout Finch, di The Painted House (TPH) si penutur adalah Luke Chandler, 7 tahun. Cuma, menurut saya, POV Scout di TKM lebih “logis” dibanding POV Luke di TPH. Eending TPH menurut saya juga antiklimaks. Grisham jadi kayak bingung bikin ending. Kuciwa.

15. The Roses in My Carpet (Rukshana Khan) * * * *
Tentang Kareem, penenun karpet. Sejak ayahnya tewas di Afghanistan, Kareem harus menggantikan posisi ayahnya tersebut, menjadi pelindung bagi ibu dan adiknya. Ia pun membawa ibu dan adiknya ke kamp pengungsi di Peshawar. Kareem dituntut menjadi dewasa. Dia harus menjadi laki-laki yang tak punya rasa takut seperti ayahnya. Bunga-bunga di karpet yang ia tenun lah yang memberi warna lain dalam hidupnya.

16. Komik The 99 (edisi Maret) * * *
Langganan kudu diperpanjang neh, Maret ini habis (jaka sembung :D).


* aye kagak suka
** biasa aja deh
*** lumayan
**** good... good...
***** top markotop

25 comments:

  1. musti sempet, mbak! =D
    ditunggu reviewnya..

    ps: penasaran sama yg stargirl jg. pengen baca..

    ReplyDelete
  2. hehe, mudah2an sempet, nit ;)
    stargirl bagus, menurut mba ;), endingnya juga gak norak.

    ReplyDelete
  3. tergoda yak? hehe. asli biasa banget menurutku, tapi gak tau ya, kisah cinta yang berakhir kematian, slalu bikin cedih, huhuhu (eh ini bukan spoiler yak, soale di halaman awal erich segal udah bilang begitu). tepatnya begini: Apa yang dapat kita ceritakan mengenai gadis 25 tahun yang telah tiada? Bahwa ia cantik. Dan cemerlang. Bahwa ia mencintai Mozart dab Back. Dan Beatles. Dan aku.

    ReplyDelete
  4. mba hebat banget siiy jam terbang bacanya
    fe sejak komputer on lagi, bacanya jadi on off :">
    btw, mba fe krm sms kemarin, salah satu isinya "mba ambil lebih aja" nyampe ga? gapapa kan mba?

    ReplyDelete
  5. bukunya top2 semuah mbak!!!
    pinjeeeeeeemmmm....

    ReplyDelete
  6. waaa.. mbak dee baru baca the hidden face of iran :D
    empat bintang dariku, hehehhehee....

    ReplyDelete
  7. ******* top markotop buat repiew inih

    ReplyDelete
  8. pan kite beda prioritas, fe. saya paling yg ngegandulin ponakan. kalo fe pan ada misua en anak2 ;). yg penting pan bukan jumlah buku yg dibaca fe, tapi gimana dr buku yg dibaca itu bisa bawa manfaat buat diri kita. kalo gak pan sama aje boong, ngabisin waktu *nunjuk diri neh yg msh suka baca buku picisan*
    smsnya udah baca. maap lupa bales, masih kebawa kebiasaan gak punya hape, hehe. gak usah lebih2 lah fe.

    ReplyDelete
  9. silakan *jangan smangat doang mo minjem, hayo ke sini :p*

    ReplyDelete
  10. iya, sempet ngejogrok di rak buku luamaa banget.
    4 bintang juga, tie, meski blm baca sampe abis, hehe

    ReplyDelete
  11. iya, sempet ngejogrok di rak buku luamaa banget.
    4 bintang juga, tie, meski blm baca sampe abis, hehe. apalagi terjemahannya wuoke! (sapa dulu penerjemahnya, uhuk-uhuk)

    ReplyDelete
  12. weleh, topnye di mane, bos? dirapel gini, hehe

    ReplyDelete
  13. rapel gpp asal 5-AT = padat singkat memikat buat nyikat (buku) :-)

    ReplyDelete
  14. oo begono... iya sih, baca yg panjang2 suka gak sempet. apalagi calon menteri kayak dikau, yak, kekekeke

    ReplyDelete
  15. Waaaaaaah, sptnya Indonesian reader lagi termehe2' dengan sastra middle east, khususnya Iran dan Afghanistan :-p
    Jadi tambah pingin jalan ke situ, huhuhuhu.... :-p

    Aku juga suka kok Mba'e baca buku2 penulis middle east or yg menulis ttg middle east, rasanya eksotik! :-p *senyum malu2*

    ReplyDelete
  16. mba Dee wrote:

    pan kite beda prioritas, fe. saya paling yg ngegandulin ponakan. kalo fe pan ada misua en anak2 ;). yg penting pan bukan jumlah buku yg dibaca fe, tapi gimana dr buku yg dibaca itu bisa bawa manfaat buat diri kita. kalo gak pan sama aje boong, ngabisin waktu

    Hiks...makasih ya mba, udah ngingetin. Jadi malu bin seneng. Muach muach, sayang deh ama Mba...:-*

    ReplyDelete
  17. no 13 dan 14 aku sudah baca :)
    aku suka painted house. itu buku grisham yang beda dari biasanya :)

    ReplyDelete
  18. kalo termehe2 kayaknya belum, ma. mulai rame iya.
    iya, eksotik emang, ada yang "lain" ya. abis kalo daku pribadi kan dari kecil dijejelin ama enid blyton, asterix, tintin, dan segala macem yang "barat" gituh. meski buku2 mereka bukan berarti gak oke (terkenang2 ampe kini gituh).

    ReplyDelete
  19. iya, beda emang, mbak. tapi endingnya, bukan open ending tapi kayak kagak selese gitu :)

    ReplyDelete
  20. hah? sebulan kau baca 16 buku? ck..ck..ck.. *gubraaaks*
    no 13 dan 14 aku sdh baca :)

    ReplyDelete
  21. ah, 16 kan kalo lagi tokcer, mba. kalo lagi telmi mah kayak bulan ini, baru 5 buku yang dibaca, itupun yg 1 currently, uhuk...

    ReplyDelete
  22. mbak, boleh pinjam buku Seandainya Mereka Bisa Bicara (James Herriot) – penasaran bgt sama buku itu gara-gara andrea.

    ReplyDelete