Tuesday, March 4, 2008

Ketika Cinta Tak Mau Pergi

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Nadhira Khalid
Kamu ingin cinta?
Masukilah dulu kesedihan
Jika ia telah membersihkan seluruh dirimu
Keindahan cinta akan serta merta memelukmu

Begitu satu bait indah syair Khahlil Gibran. Cinta adalah misteri, kata sebagian orang. Ahli psikologi pun tak benar-benar jelas mendefinisi kata “cinta”. Saat emosi bernama cinta dirasa manusia, logika sering kali jadi terbalik. Sering kita lihat atau dengar, “keanehan” sikap dan laku manusia yang dilanda cinta. Keanehan yang kadang menggelikan, menakutkan, bahkan tragis. Maka, kita bisa mendaftar kisah Romeo Juliet atau Samson Delilah, dalam lakon bertajuk cinta. Cinta seakan berwajah ganda. Membahagiakan sekaligus menyakitkan. Manis bagai madu, namun juga bisa berubah menjadi racun.

Itu juga yang dialami Lalu Kertiaji, tokoh utama novel ini. Sejak masih anak-anak, Lalu Kertiaji (lalu adalah gelar untuk laki-laki bangsawan Sasak, red.) yang tinggal di kampung Presak Bat telah terpikat oleh Sahnim, gadis kampung sebelah (Presak Timuq). Begitu juga dengan Sahnim. Mereka sering bertemu di dekat pohon asam, yang menjadi batas antara Presak Bat dan Presak Timuq, sekaligus simbol penyatu kedua kampung—yang konon dahulu pernah menyatu. Kertiaji bersama adiknya, Lalu Ratmaji, Sahnim ditemani Hasanah, sepupunya. Semakin beranjak usia, cinta Kertiaji dan Sahnim bertambah kuat.

Di satu sisi, hubungan kedua desa yang tadinya aman tentram mulai bergejolak. Seorang pengusaha di pusat negeri mencium potensi kedua desa yang memiliki hasil bumi batu apung. Dengan kaki tangannya, plus pendekatan pada anggota DPRD di Lombok, Wajedi Iskandar, dirancanglah intrik dan adu domba untuk “memindahkan” warga kedua kampung agar dapat dibangun pabrik batu apung di wilayah tersebut. Sementara, kisah cinta Kertiaji dan Sahnim berlanjut pada tahap yang lebih serius. Kertiaji berniat menyunting Sahnim menjadi istrinya. Namun saat midang, Ismuhadi--ayah Sahnim--lebih memilih Japa, anak Wajedi Iskandar. Trauma terhadap kebangsawanan membuat Ismuhadi benci pada bangsawan. Padahal Lalu Kertiaji adalah anak bangsawan yang hanya tinggal gelar saja. Keluarganya miskin.

Tertolak dan rasa cinta yang meluap membuat Kertiaji berpikir singkat, menculik Sahnim dan membawa ke rumah pamannya, Lalu Wirehadi, untuk dinikahi. Ismuhadi tak terima. Bersama Japa dan sekelompok orang dari Presak Timuq, datang untuk mengambil kembali Shanim. Perang antarkampung pun tak dapat dihindari. Desa Presak Bat hancur. Adu domba makin diasah. Permusuhan kedua desa meruncing, membuat perang demi perang terjadi. Kondisi tersebut membuat pemerintah turun tangan dalam bentuk program transmigrasi.

Patah hati membuat Kertiaji setuju kala sang ayah memutuskan keluarganya untuk ikut bertransmigrasi ke Sumbawa, meski tujuannya berbeda dengan ayah dan keluarganya. Ia ikut transmigrasi hanya untuk jauh dari kampungnya, jauh dari lara. Ternyata, jauh dari kampung tak menyembuhkan luka hati Kertiaji. Sendiri, ia kembali ke Lombok diiringi kemarahan adiknya, Lalu Ratmaji, yang melihat sang kakak begitu lemah hanya karena wanita.

Di Lombok, Kertiaji menjumpai kampungnya telah berubah menjadi ladang batu apung, namun pohon asam—simbol penyatu kampung—masih tegak berdiri. Sahnim sendiri tengah mengandung anak Japa—yang ternyata mengguna-gunai Sahnim agar suka padanya.

Novel ini cukup sarat kisah. Klise memang, tentang cinta tak sampai. Namun, penulis cukup cantik mengemas cerita cinta dengan intrik politik, kekuasaan, dan kapitalisme. Terlihat juga riset penulis yang mendalam tentang budaya Sasak, serta masyarakat Lombok dan Sumbawa. Penulis sekan juga ingin berkata bahwa tema dan budaya lokal di Indonesia masih begitu menghampar, menunggu tangan para penulis untuk mengolahnya menjadi cerita yang khas dan menarik.

Ada beberapa kelemahan memang, logika cerita di beberapa bagian misalnya. Juga pada ending. Penulis terlihat terburu menyelesaikan. Ending yang mestinya bisa lebih dieksplor, seakan diringkas sedemikian rupa, dan itu agak mengganggu saya.

Overall, bisa dibilang, ini novel asli Indonesia paling bagus yang saya baca di awal tahun ini. Membacanya, seakan membuktikan sebait puisi Gibran di atas. Atnic ulrep nakgnaujrepid, atak rM. yppoH di Aruk-aruk-any lhahD ldaoR. Hehe.

Selamat untuk Nadhira Khalid atas usahanya menggali khasanah negeri dan menyodorkannya menjadi kisah yang menarik dan cukup mengaduk emosi (terutama sepertiga terakhir).

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House (2007)
Tebal: 306 halaman


* cover dari www.kutukutubuku.com. Nggak sempet ngescan or moto :D

16 comments:

  1. ada yang ngebut bikin review., bagus..bagus...

    ReplyDelete
  2. hehe, ssttt... ini mah udah bikin 2 minggu lalu, pan buat Annida, tapi nunggu Nidanya terbit dulu ;)

    ReplyDelete
  3. Review nya lebih nyaman dibaca daripada novelnya, hehehe :-)

    Aku udah baca sampe selesai Mba, lumayanlah dibanding novel2 ABG, tapi ada sesuatu yg kurang walo aku gak tau itu apa >__< soalnya baca novel ini mengingatkanku pada gaya bahasa HAMKA di roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk tapi terasa ada yg nanggung, hehehe...

    Mengkritisi itu selalu lebih mudah ya Mba, kalo aku disuruh nulis kek gini juga belum tentu sanggup, hehehe :-D

    ReplyDelete
  4. ya ya, ngerti... bahasanya memang masa lalu nggak, masa kini nggak (nah lho, maksudnya apa ini? :D). hayoo, mba nad nimbrung dunk hehe.
    ah, ima suka merendah ;)
    iya sih, ma, mbak juga kalo disuruh nulis kayak gini bakal babak belur dah :D

    ReplyDelete
  5. kesedihan udh sering kualami hiks hiks.....horeeee brarti bentar lagi keindahan cinta akan menyapakuuuu......wooow.....:)
    *menunggu *:p

    ReplyDelete
  6. sabar ya kalau waktu menunggunya panjang, hehehehe

    ReplyDelete
  7. berarti aku hrs bikin buku "Ketika Cinta Enggan Berlabuh" wikikikiiiik..:D

    ReplyDelete
  8. wah... ada yang mau bikin buku? ;-)
    ditunguuu...

    ReplyDelete
  9. Yaaa...begono deh.
    Aku sekarang dalam tahap mendengarkan dan mengamati pendapat orang tentang novelku. Some said they liked it so much justru karena gaya menulisku yang non-ABG novel itu jadi istimewa di tengah serbuan bahasa gaul dan novel impor. Ada yang menganggapnya 'serius' dan mendekati literature, sehingga gambar covernya dianggap sangat menipu (he..he..he..). Tapi aku tahu bahwa novel seperti ini kemungkinan besar tidak akan menarik hati ABG atau mungkin bahkan most of Indonesian young readers. Sepupuku yang ABG aja gak suka. Tapi yang pasti, aku bukan penulis yang tunduk pada selera pasar. Dan Insha Allah aku akan tetap konsisten menulis dengan gaya bahasa seperti ini beserta segala risiko, kritik dan pujian yang ditimbulkannya. naaaaaa loooooo.
    Mana annidanya boss?

    ReplyDelete
  10. Siiip! Aku dukung, Mbak! Sikap ini yang gak banyak dipunyai penulis.
    annidanya udah dikirim tuh. maklum, Mataram jauh hehe. sabar ya, tante

    ReplyDelete
  11. nah lho, ditunggu tuh, din. cepetan realisasiin ;)

    ReplyDelete
  12. salut, mbak.
    emang musti ada penulis2 seperti mbak utk melestarikan bhs indonesia. soalnya kalo baca novel2 abg suka kadang2 capek bacain bhs2 gaul yg gak pada tempatnya.

    usulan mbak.. aku suka novel2 abg krn ceritanya ringan2 (dr review mbak dee di atas, aku gak suka tema novel yg ini ;)). gimana kalo mbak nadeera bikin novel abg tapi gak pake bhs gaul. hehe..

    ReplyDelete
  13. kerenn...pesen dunk mba dee....ntar pas mei ada teman balek ke indo....

    ReplyDelete
  14. ok, non, nanti ta' beliin. bilang2 ye kalo temen ve dah di sini.

    ReplyDelete
  15. Mba Nad,

    Salam kenal dari ku ^__^

    Utk ukuran novel chiklit dan teenlit, novel Mba jelas di atas mrk... ---> ini pendapat dan selera pribadiku ya ^__^

    Plot dan setting juga bagus kok *aku aja belum tentu kepikiran nulis novel dengan setting spt Mba* tapi yg terasa menganggu di akunya justru gaya bahasanya yg masih kurang total. Hehehe, aku suka banget Van Der Wijk nya HAMKA soalnya. Gaya nulis Mba mirip dia, cuma ada yg kurang gitu rasanya. Walo aku gak tau juga apa itu. Diksi barangkali ya??? Entahlah! Hanya soal rasa bahasa aja kok Mba :-)

    Tetap semangat ya Mba Nadeera :-D

    ReplyDelete