Friday, February 15, 2008

Novel Pangeran Diponegoro

Rating:★★★
Category:Books
Genre: History
Author:Remy Sylado
Judul: Novel Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu Adil
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Tiga Serangkai (2007)
339 halaman

“Aku memang ingin jadi pemimpin, tapi pemimpin agama kita, agama yang sudah dilecehkan oleh Belanda. Aku ingin menjadi Amirul Mukminin Panotogomo Kalifatullah Tanah Jawi.”

Sejarah selalu memiliki banyak wajah. Dalam kekuasaan, sejarah sering kali bergantung pada siapa yang berkuasa. Bagaimana dengan penulisan fiksi? Dalam konteks berbeda, seorang penulis fiksi dapat menafsirkan sejarah dengan bekal rujukan berbagai sumber.

Remy Sylado, sastrawan yang telah menulis puluhan buku ini mencoba “menafsirkan” kisah Pangeran Diponegoro dalam buku terbarunya ini, yang dalam judul jelas-jelas ditulis “novel”. Entah, apakah penulis yang menguasai banyak bahasa ini bermaksud mewartakan pada pembaca bahwa buku ini benar-benar karya fiksi atau sekadar pelengkap judul belaka. Namun yang jelas, membacanya kita akan mendapat banyak informasi tentang Pangeran Diponegoro, yang selama ini mungkin tak banyak kita ketahui. Kerja keras penulis dalam melakukan riset terlihat dari detail cerita yang ia tuturkan.

Novel ini sendiri berkisah tentang kehidupan Pangeran Diponegoro di masa muda (rentang usia 7 sampai 20-an) yang kala itu lebih dikenal dengan nama Ontowiryo. Ontowiryo adalah cucu dari Sultan Hamengku Buwono II (SHB II). Ayah Ontowiryo adalah Raden Mas Suroyo (kelak bergelar Sultan Hamengku Buwono III), satu dari 80 anak SHB II. Saat masih bayi, Ontowiryo tak menangis saat digendong oleh Ratu Ageng, nenek buyutnya. Padahal dengan yang lain, termasuk kakek buyutnya, Sultan Swargi alias Sultan Hamengku Buwono I (SHB I), bayi Ontowiryo resah dan tak mau diam. Melihat hal tersebut, Sultan Swargi alias Sultan Hamengku Buwono I, meminta istrinya untuk merawat Ontowiryo. Ratu Ageng membangun puri di Tegalrejo, khusus untuk membesarkan Ontowiryo yang dalam penglihatannya akan menjadi Herucokro (Ratu Adil) kelak.

Sejak kecil Ontowiryo telah memperlihatkan bibit sebagai seorang pemimpin. Selain itu, ia juga cerdas, shaleh, dan kutu buku. Segala bacaan dilahap Ontowiryo, mulai dari buku-buku ilmu pengetahuan, sejarah, suluk, babad, filsafat, mantik, hingga wayang dan primbon. Ontowiryo muda juga gemar membaca kitab-kitab karya ulama-ulama besar Islam seperti Tuhfah al Muhtaj li Syarakh al Minhaj karya Syekh Ibn Hajar dan Ihya’ Ulum ad-Din karya al-Ghazali yang berbahasa Arab. Digambarkan juga bagaimana buku-buku tersebut kumal karena sering dibaca. Kegemaran membacanya itu membentuk Ontowiryo menjadi pribadi yang pintar dan berwawasan luas. Yang menarik, soal buku ini, pengarang menyelipkan tokoh Ong Kian Tiong, orang Cina penjual kelontong (termasuk buku-buku) yang akrab dengan Ontowiryo—dan suatu hari kelak berperan dalam perjuangan Diponegoro.

Selain kehidupan masa muda Pangeran Diponegoro, tentu saja novel ini juga menuturkan sepak terjang penjajah Belanda, lengkap dengan intrik-intrik seputar perebutan kekuasaan di Kraton Mataram, serta pengkhianatan orang dalam—Danurejo II—yang juga menantu SHB II. Danurejo II menjual informasi kepada Belanda. Saat mengetahui pengkhianatan itu, SHB II menahan Danurejo II dan kemudian mengeksekusi mati. Hal tersebut dianggap perlawanan bagi Belanda. Daendels, Gubernur Jenderal yang baru pun menurunkan SHB II dari tahtanya dan menunjuk ayah Ontowiryo, Raden Mas Suroyo menjadi sultan yang baru. Konflik semakin kental saat Inggris menaklukkan Belanda yang membuat Daendels ditarik dan digantikan oleh Thomas Stanford Raffles. Jawa pun beralih “penjajah”, dari Belanda kepada Inggris.

Menyimak tuturan penulis dalam novel ini sangat menarik. Penulis terlihat teliti dalam menampilkan fakta. Terlihat juga kehati-hatian penulis, misalnya dalam menyebut fisik Daendels atau Diponegoro sendiri, penulis menuturkannya dari deskripsi lukisan yang pernah ia lihat. Penulis juga banyak menampilkan kosa kata seperti seperti arkian, wabakdu, garwo, leter, kawruh, kawindra, dll yang jarang digunakan tapi sepertinya adalah usaha penulis dalam mensosialisasikan kosa kata pribumi tersebut. Hanya saja gaya bahasa dan narasi novel ini menurut saya cenderung kaku. Untungnya terbantu dengan plot cerita dan dialog-dialog yang kaya makna.

Membaca novel ini hingga akhir, terasa ending yang menggantung (bukan terbuka). Sepertinya penulis berencana menulis lanjutannya, meski tak disebutkan secara eksplisit bahwa ada jilid lanjutannya. Yang jelas, ada banyak hal yang belum terungkap, terutama saat Ontowiryo (yang akhirnya bergelar Pangeran Diponegoro) perang melawan Belanda. Juga tentang tambatan hati pangeran, yang menjadi penanda di prolog dan ending novel.

29 comments:

  1. waaa kok tema tulisanye mirip2 punya aye :)

    ReplyDelete
  2. tulisan nyang mane, om? globalisyesyen?

    ReplyDelete
  3. iye... kan ttg zaman penjajahan juga *tosss*
    apa gara2 mimpi kemaren yah :-p

    eh bukunya yg ini aja :-p

    ReplyDelete
  4. iya ya, ada benang merah.
    jangan2 mimpinya bersambung neh, hihihi
    mo buku ini? tukeran ya ama es krim yee. huh, dikau sombong tak bertemu diriku waktu mudik :p

    ReplyDelete
  5. waa iya maaf mbak ....kemarin pas pulang tuh konsen di kantor n wiken ke kuningan...
    taappiiii kita beberapa kali ketemuan temen2 mbak dee kok ga pernah ikut hayooo ...

    ReplyDelete
  6. baru inget, pan waktu itu ogut masih di sonoh-noh
    abis itu ogut kurang tau pas temen2 ketemuan, dikau kagak ngajak2, huh :p

    ReplyDelete
  7. walah... kirain kl bunda tau mbak dee juga tahu
    mbak sama Bunda bukan dynamic duo toh

    yaah kalau gitu kesalahan bukan di layar kaca anda dong :))

    ReplyDelete
  8. berarti kudu protes bu wirda neh, hehe.
    es krim es krim... pempek pempek...!

    ReplyDelete
  9. wah ini anak Bunda ke berapa nih?
    kl lbh muda ga boleh protes sama Tante & Kakak ya ...:)))

    ReplyDelete
  10. hahaha!
    dani masih kecil, kok, yud. anak angkat kayaknya, hueheheh!

    ReplyDelete
  11. mbak dee...minta review bukunya PS i love you doong dan buku atonement nya ian Mc Ewan....aku lg mo beli buku itu...and hunting DVD nya..
    ehhhh ato mo nobar ??? aku slasa bsk ada di summitmas lhooo....:)

    ReplyDelete
  12. hehe, pengen sih ngereview, tapi krn bukunya minjem en dah dikembaliin, jadi blm sempet. ngereview gak megang buku di tangan gak asyik ;). atonement blm bac, din. udah beli dvdnya, tapi blm sempat ditonton. ada kali 25 dvd yg udah dibeli, blm ditonton :D
    waa, mba rencana mo nonton senin besok, nomat (hihi). tapi kalo dini mo selasa bole bgt tuh, di semanggi kali yee, pan deket2 situh. (gapapa deh gaj jadi nomat, apa sih yg gak buat dini, taelaa... :D)

    ReplyDelete
  13. dah nonton yg ini nih :))

    hmmmm ...

    ReplyDelete
  14. hihihihi....asiik dunk..tp hrs nunggu mbak dee plng kantor dl ya?
    hmm..gmn klo tgl 27 feb aja ?janjian dl d Rt Plaza or aku lngsung ke semanggi ?no hape dah ada blum?PM dong..:)
    ha?25 DVD? mau dong pinjeeeeem...kta sama2 SuFi dong ya...( Suka Film) :p

    ReplyDelete
  15. waa....reviewnya doong...aku br liat trailernya aja di yutub...

    ReplyDelete
  16. "hmmm"-nya yudi biasanya penuh makna :p

    ReplyDelete
  17. reviewnya? Atonement dapat 14 nominasi tapi cuma menang 2 hehehe

    sebagai cerita, film ini (terutama alurnya) lumayan.. pesan moralnya tentang kejujuran dan beban psikologis karena bohong juga oke (ini universal kali ya?)

    sebagai produk ideologi tentunya ada nilai2 sosial yg dtawarkan yang nggak beda dengan film2 barat lainnya

    ReplyDelete
  18. Nah, ngomong juga die :p
    kayaknya malem ini jadwalin nonton tu pelem, secara detlen udah selese, horeeee!

    ReplyDelete
  19. abis ditodong 2 pendekar gitu siapa juga yg nggak ngeper

    ReplyDelete
  20. ciattt, ciattt, pendekar jilbab bertopeng!!

    ReplyDelete
  21. bukan ah
    pendekar jilbab berpena eh ber-keyboard :)

    ReplyDelete
  22. Belum pernah baca novel Remy Sylado nih... Selama ini baca karyanya yang nonfiksi aja.

    ReplyDelete
  23. Sama kok, Mbak, ini juga novel pertam Remy yang aku baca. pernah sih bbrp novel lain, tapi kayaknya gak sampe abis bacanya hehe

    ReplyDelete
  24. sudah punya. masuk waiting list..:D

    ReplyDelete
  25. kalo dah baca, review juga ye mbak ;)

    ReplyDelete
  26. ya Dee. Tp kayaknya masih lama. antreannya panjang dan pula ini "dosa pribadi" bukan "dosa pemberian".

    ReplyDelete
  27. ternyata dosa ttg buku ada banyak jenisnya juga ya, hehehe...

    ReplyDelete