Thursday, January 3, 2008

168 Jam dalam Sandera

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Meutya Hafid
Sejak invasi Amerika ke Irak pada tahun 2003, sedikitnya 206 wartawan telah tewas di negeri para mullah itu. Saat ini Irak adalah wilayah paling berbahaya bagi pekerja media. Menurut lembaga International News Safety Institute (INSI), sepanjang 2007 saja, telah 64 wartawan yang tewas dibunuh. Saman Fakhri, reporter dari stasiun televisi Al-Alam, Iran, dalam situs eramuslim menyatakan, mereka diserang dari berbagai sisi; oleh pasukan koalisi, polisi Irak, militer Irak, pasukan darurat, dan partai-partai politik yang menyerang baik secara fisik maupun verbal.

Salah satu penyebab tewasnya para jurnalis tersebut adalah penculikan (penyanderaan), dan sedikit dari jurnalis tersebut yang setelah disandera dibebaskan. Kebanyakan tewas dibunuh. Meutya Hafid, seorang jurnalis televisi asal Indonesia adalah satu dari sedikit jurnalis yang “beruntung” dapat dibebaskan dari penyanderaan. Peristiwa penyanderaan Meutya Hafid dan Budiyanto, reporter dan juru kamera Metro TV sempat menyita perhatian masyarakat Indonesia, hampir dua tahun lalu, tepatnya Februari 2005. Ketika itu Meutya dan Budiyanto dikirim televisi tempat mereka bekerja untuk meliput pemilu di Irak. Pemilu pertama sejak kejatuhan Saddam Husein.

Liputan pemilu yang mereka lakukan berjalan cukup lancar selama hampir dua minggu. Saat akan kembali ke Indonesia melalui perbatasan Yordania, perintah untuk meliput peringatan Asy Syura’ di kota Karbala, membuat Meutya dan Budiyanto harus kembali ke Irak. Dalam perjalanan menuju Karbala inilah mereka diculik oleh kelompok Mujahiddin. Selama seminggu mereka disekap di sebuah gua di tengah gurun wilayah Ramadi.

Dalam peperangan, selain rakyat sipil dan petugas kesehatan, wartawan juga termasuk yang dilindungi. Namun sepertinya itu tidak berlaku di Irak (juga beberapa negara lain yang sarat konflik seperti Afghanistan, Sri Lanka, dan Filipina). Khusus di Irak, menurut Meutya yang sedang terjadi bukan sekadar perang senjata namun perang informasi (hal. 75). Maka di sini, posisi jurnalis dengan mulut dan tulisan akan membentuk opini masyarakat dunia. Soal opini inilah yang sepertinya menjadi penyebab “kekesalan” sebagian kelompok pejuang Irak—termasuk kelompok Mujahidin yang menyandera Meutya—terhadap jurnalis yang memberikan opini yang tak seimbang atau bahkan menyesatkan.

“Terus terang kukatakan pada kalian, kami sebenarnya tak suka wartawan datang ke sini. Kami menghormati alasan kalian meliput di sini untuk menyajikan pemberitaan yang berimbang. Tetapi, kami meragukannya. Kenyataannya malah banyak yang memojokkan perjuangan kami. Bahkan, ada juga mata-mata yang berkedok sebagai wartawan.” Begitu pernyataan Rois, pemimpin kelompok Mujahidin yang menyandera, saat menginterogasi Meutya dan Budiyanto.

Lepas dari pemerintahan otoriter Saddam (yang menjadi alasan kambing hitam invasi AS), Irak adalah korban ketidakadilan dunia. Negeri tersebut hancur lebur, rakyatnya jadi terpecah, kecurigaan menjadi sebuah hal lumrah bagi rakyat Irak terhadap orang luar, termasuk jurnalis. Setelah menyaksikan VCD yang sengaja diputar oleh penyandera yang berisi kondisi kota Ramadi saat hari pertama penyerangan AS, Meutya Hafid pun mengakui, para penyandera tak punya banyak pilihan.

"Nun di lubuk hati terdalam, aku memahami pilihan mereka. Ketika manusia ditekan di luar batas kewajaran, maka insting pertama adalah memberontak. Keberadaan pasukan asing merupakan bentuk penjajahan, dan penjajahan harus dilawan. Bukankah kita juga menganut paham bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan?" Begitu tulis Meutya di halaman 115-166.

Maka, buku ini bukan sekadar menuturkan hari-hari penulis selama disandera. Hari-hari yang penuh pergulatan emosi, bagaimana rasa takut dan harapan berbaur dengan kepasrahan. Juga sebuah renungan bagi seorang jurnalis tentang makna kemanusiaan dan kemerdekaan.

Yang juga menarik adalah bab terakhir buku ini, yang merupakan refleksi penulis tentang pekerjaan seorang jurnalis yang sering kali menantang bahaya demi keinginan memperoleh berita ekslusif. Padahal keselamatan diri juga harus diperhitungkan. Sering kali, jurnalis juga kurang melengkapi diri dengan perangkat keselamatan. Untuk meliput di medan perang misalnya, harus memakai rompi dan helm antipeluru. Di akhir buku, Meutya menulis: Perjalanan 168 jam dalam penyanderaan menyadarkanku, betapa pengetahuan dan keberanian tidaklah cukup sebagai modal wartawan perang. Yang lebih penting lagi adalah mengendalikan diri: kapan harus melangkah dan kapan saatnya berhenti.

Judul: 168 Jam Dalam Sandera: Memoar Jurnalis Indonesia Yang Disandera di Irak
Penulis: Meutya Hafid
Penerbit: Hikmah (2007)
Tebal: xviii+280

=======

Review ini juga dimuat di Annida edisi Januari ;)

8 comments:

  1. Udah ada di rumah, tapi belum khatam nih bacanya :D

    ReplyDelete
  2. jadi inget.... saat baca dulu saat suami lagi ada di indo, yg beli sih sebenarnya suami, tapi karena beliau bacanya sambil banyak comments gt.... sy yg sedang baca yg lain jadi penasaran, akhirnya saat lengah tak lirik bukunya, eh menarik juga, akhirnya rebutan deh baca tuh buku.... buku yg sedang dibaca sedikit dikesampingkan, entah karena lebih menarik... entah karena seni rebutannya itu yg menarik :D

    ReplyDelete
  3. @ myhaura; kudoakan bisa tamat, mbak hehe

    @ rinrin: kayaknya seni rebutannya, teh ;)

    ReplyDelete
  4. Padahal saya pernah bercita-cita jadi jurnalis loh mbak :(

    ReplyDelete
  5. ga mau baca ah, pingin beli aja. seru isinya ya mba?

    btw, aku dah kerjain PR lho mba. ngayal deh risoles eh resolusiku mah :D

    ReplyDelete
  6. Mendalam ya, kemarin pengin beli tapi takut monoton...

    ReplyDelete
  7. wahh dah ada bukunya ya mbak.. jd pengen baca.. pas pulkamp beli ah hehe

    ReplyDelete
  8. @ catatankecil: terus, masih bercita2 kan? no time to lose *jaka sembung yak? hehe*

    @ annidalucu: hehe.. bagus kok, fe. eh iya ya? blm sempat ngobrak-ngabrik mp lagi neh. nanti mbak baca ye ;)

    @ niwanda: kalo mendalam.. hmm... kurang sih menurutku mbak. menurutku meutya bisa lebih emndalam lagi mengupas sisi emosional dirinya terutama misalnya bgm dia menjalankan ibadah. di situ sama sekali gak disinggung (apa lupa ya aku? hehe)

    @ onit: beli ayo beli ;)

    ReplyDelete