Wednesday, December 12, 2007

Tanah Perempuan

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Helvy Tiana Rosa
Judul: Tanah Perempuan: Drama Tragedi Sembilan Babak
Penulis: Helvy Tiana Rosa
Penerbit: Lapena, 2007
Tebal: 122 halaman

Tak banyak perempuan penulis naskah drama di Indonesia. Kita mengenal Ratna Sarumpaet dengan Teater Satu Merah Panggungnya yang sempat membuat kontroversi saat mementaskan naskah “Marsinah Nyanyian dari Bawah Tanah” dan “Marsinah Menggugat”. Selain itu, sepertinya sulit menyebut 2-3 nama. Perempuan pekerja teater mungkin banyak.

Helvy Tiana Rosa adalah satu dari sangat sedikit perempuan penulis naskah drama. Selain dikenal luas sebagai pelopor kembali maraknya fiksi Islami, Mbak Helvy adalah pendiri teater muslimah pertama di Indonesia, Bening. Sekitar 10 naskah drama telah lahir dari tangannya dan semua naskah tersebut telah dipentaskan Teater Bening. Namun baru kali ini muslimah yang lahir di Medan, 2 April 1970 ini menerbitkan naskah dramanya.

Tanah Perempuan awalnya ditulis mantan pemimpin redaksi Annida ini dalam rangka Lokarya Perempuan Penulis Naskah Drama yang diselenggarakan dua tahun lalu dan terpilih sebagai salah satu naskah terbaik tingkat nasional.

Berkisah tentang perempuan Aceh, Tanah Perempuan adalah luka. Membaca buku ini adalah membaca perempuan Aceh. Membaca derita Aceh. Membaca sejarah yang sering kali tersembunyi di sudut peradaban.

Safiah Cut Keumala adalah seorang guru SMU pengajar bidang studi sejarah. Namanya adalah paduan tiga perempuan pejuang Aceh; Safiatuddin Syah, Cut Nyak Dhien, dan Laksamana Keumalahayati. Tragedi telah menjadi sahabat dalam kehidupan Mala. Ma’e, abangnya hilang tak jelas rimba. Tak lama ayahnya ditembak orang tak dikenal di depan rumah. Mak, ibu Mala terguncang dan sakit-sakitan. Suatu malam, Majid, suami Mala pergi ke rumah Ibrahim, temannya yang dokter untuk mengobati Mak. Namun Majid tak kembali, dibawa paksa orang yang mengaku dari kepolisian. Mala kembali kehilangan laki-laki dalam hidupnya. Imran adik Mala, memaksa keluarganya untuk pindah ke Penang, namun Mak dan Mala tak mau. Di luar dugaan, Mak malah menyuruh Imran pergi karena tak ingin laki-laki dalam hidupnya kembali diculik, ditahan, atau bahkan dibunuh. Tinggal Agam, anak Mala, satu-satunya lelaki dalam hidup mereka.

Tsunami kembali memorak-porandakan kehidupan Mala. Rumah keluarganya hancur. Mala terpisah dengan Mak dan anaknya. Tubuhnya luka, lemah. Hanya satu yang ia inginkan: mati. Namun, sekonyong-konyong Mala bertemu dengan Laksamana Keumalahayati, pahlawan armada laut Aceh yang juga laksamana perempuan terkemuka di dunia yang hidup pada abad 16. Mala juga bertemu dengan Safiatuddin Syah, sultanah kerajaan Aceh di abad 17, anak Sultan Iskandar Muda yang berhasil membawa Aceh pada kegemilangan. Juga bertemu dengan Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Baren, dan Pocut Meurah Intan.

Mimpikah Mala? Atau sekadar halusinasi? Sepertinya tak penting lagi. Sebab membaca drama ini kita akan lupa pada masa. Penulis mengajak kita menembus waktu. Mengenal sosok perempuan Aceh pengharum semesta. Mungkin kita mengenal Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia, tapi dijamin tak banyak dari kita mengenal Safiatuddin Syah, Laksamana Keumalahayati, Pocut Baren, atau Pocut Meurah Intan. Dan itu juga sepertinya salah satu tujuan penulis; mengenalkan perempuan-perempuan pejuang pada khalayak.

Membaca buku ini juga membaca derita Aceh. Masa penerapan DOM (Daerah Operasi Militer) yang bagai mimpi buruk buat rakyat Aceh, diangkat kembali oleh penulis. Tentu bukan untuk membuka luka lama, namun menjadi pengingat, betapa kekuasaan sering kali membutakan. Betapa rakyat Aceh selalu menjadi korban. Peristiwa tsunami yang menghancurkan Aceh yang menjadi setting utama naskah drama ini juga membuat sesak dan nyeri. Ciri khas Mbak Helvy sebagai penulis yang penuh semangat, tampak jelas dalam buku ini. Namun tetap ada selipan humor. Humor dalam tragedi? Baca aja kali yee... :D

20 comments:

  1. wah, kayaknya ceritanya seru.
    btw, aku sering lewat sekitar annida (jl pramuka), kalau lagi ada keperluan ke jl balai pustaka. tapi kantor annida, kayaknya agak sembunyi ya? :D

    ReplyDelete
  2. Mbak Dee...mo beli buku ini...susah dapetin di sini.

    ReplyDelete
  3. Iya, seru, Mas, jadi inget lagi peristiwa tsunami :(.
    wah, sering lewat kok gak mampir seh? Gak ditraktir deh ;). Ditunggu lho silaturahimnya ke Annida.

    ReplyDelete
  4. coba pesan ke sini, lailan: lapena_04@yahoo.com

    ReplyDelete
  5. naskah sebelum dibukukan udah liat, tapi tetap aja penasaran:)

    ReplyDelete
  6. wah..ukunya seru semua...pengen baca....pinjem dunk mba.he.he..

    ReplyDelete
  7. entar mo cari ah di perpus andalanku hehehe *modal minjem*:-))

    ReplyDelete
  8. @ duniaintan: wah, udah ya? samma (waktu itu ngintip doank tapinya, barengan ikut lokakaryanya sama mba evy soale ;)

    @ nsneni: silakan mbak ke rumah :)

    @ inci73: gapapa, mbak... daripada modal dengkul (hihihi)

    ReplyDelete
  9. horeeee mba helvy ngasi buku ini ke aku waktu dateng ke spore kemarin mba :D
    tapi waktu mau baca aga bingung, ooh ternyata naskah drama tho, jadi diletakkin lagi di rak buku, disuruh ngantri dulu, hehe, baca segenggam gumam dulu deh

    ReplyDelete
  10. @ annidalucu: meski naskah drama tapi tetep enak dibaca kok, fe.

    @ ftz12: siapa? saya ya, mbak? hehe

    ReplyDelete
  11. Alahamdulilah udah baca pas terbit. dapet gratis dari LAPENA

    ReplyDelete
  12. Cukup mengaduk-aduk emosi waktu bacanya mbak.
    Mudah-mudahan setelah gak ada lagi perempuan aceh yang menderita

    ReplyDelete
  13. @ eki: senangnya yg dapet gratisan (samma dong! hehe). iya, semoga tak ada lagi duka di aceh ya, ki.

    @ ftz12: knapa? suka? hihi

    ReplyDelete

  14. Terimakasih ya Mbak Dian. salam kenal, ini Sulis. sejak hari ini buat Klub Pembaca Helvy. Saya adminnya.

    ReplyDelete