Wednesday, December 12, 2007

Pitaloka: Cahaya

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Tasaro
Judul: Pitaloka: Cahaya
Penulis: Tasaro
Penerbit: Aditera (Group Syaamil), 2007
Tebal: 448 halaman

Perang Bubat, mungkin tak banyak dari kita mengingat kisahnya secara detil. Inilah kisah tragis, saat penguasa tanah Sunda, Raja Linggabhuwana bersama putri dan pasukan pengiringnya tewas tak tersisa melawan pasukan Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit. Kala itu Raja Hayam Wuruk menginginkan Dyah Pitaloka, putri kerajaan Sunda untuk menjadi istrinya. Raja Linggabhuwana pun datang ke Majapahit bersama Dyah Pitaloka dan sepasukan kecil pengiring untuk menikahkan putrinya kepada Raja Hayam Wuruk. Namun belum tiba di Majapahit, Patih Gajah Mada mengubah rencana tersebut dan memaksa untuk menjadikan Dyah Pitaloka sebagai upeti, sebab Patih Majapahit itu ingin mewujudkan sumpah palapanya mempersatukan nusantara yang saat itu hanya menyisakan Kerajaan Sunda. Begitu kata sejarah, yang oleh Tasaro sang penulis, dijelaskan pada halaman awal novel ini, dikutip dari Carita Parahyangan, sargah 3, yang selesai ditulis 26 Agustus 1677.

Novel ini berkisah tentang Dyah Pitaloka, sang putri Kerajaan Sunda. Namun bila pembaca mengharap novel ini merupakan kisah sejarah yang berisi detil Perang Bubat dan keterlibatan Dyah Pitaloka, mungkin akan kecewa. Sebab novel ini, seperti diakui penulis sendiri, tidak akan mempertemukan kita dengan data-data sejarah populer. Pitaloka adalah tafsiran baru pemandu Anda bertualang ke langit antah berantah. Dunia chaos yang akan mengakrabkan Anda dengan pribadi kontroversial, Dyah Pitaloka, begitu kata Tasaro.

Meski begitu, penulis dengan lihai “mengacak-acak” sejarah dan menjadikan Pitaloka sebagai fiksi yang segar. Dalam novel ini, penulis menjadikan Dyah Pitaloka sebagai sentral cerita. Tak ada Hayam Wuruk, tak ada Gajah Mada, yang ada adalah Candrabhaga, Yaksapurusa, Purandara, Datu Tantra, dan beberapa tokoh lain. Mungkin baru di buku ke-2 dan ke-3 nanti kita akan mendapat detil perang Bubat, sebab penulis berencana membuat trilogi Cahaya-Mahkota-Nirwana.

Kisah dimulai dengan pengantar dari seorang tokoh yang ada dalam novel ini. Namun kita tidak akan mengetahui siapa dia hingga akhir cerita. Pitaloka dalam cerita ini adalah seorang gadis cantik yang memiliki kemampuan silat tingkat tinggi dan ilmu kanuragan, yang diajarkan gurunya, Candrabhaga. Pada usia 8 tahun, Pitaloka dimasukkan oleh ayahnya, Raja Linggabhuwana ke padepokan Candrabhaga secara terselubung dengan nama samaran Sannaha. Tentu ada maksud tertentu. Raja merasa Candrabhaga dan padepokannya telah mengajarkan ilmu “berbeda”.

Pitaloka alias Sannaha tak mengetahui rencana sang ayah, hingga setelah empat tahun menimba ilmu di sana, raja menitahkan untuk menutup dan menghancurkan padepokan tersebut. Candrabhaga sendiri bersama keluarganya menyingkir ke lereng Pangrango.

Di satu sisi, raja juga berkonflik dengan gerombolan Yaksapurusa yang terkenal sering meresahkan masyarakat. Yaksapurusa dendam karena raja pernah menyerbu tempat persembunyiannya. Ia pun menculik Pitaloka dalam perjalanannya kembali ke kerajaan. Setelah tumbuh menjadi gadis remaja, Pitaloka berangkat menuju lereng Pangrango, tempat Candrabhaga mendirikan padepokan barunya. Baginya, Candrabhaga adalah orang yang sangat dicintai dan dihormatinya. Ketika Raja Linggabhuwana mengirim seribu prajurit untuk menghancurkan kembali padepokan gurunya, Pitaloka bertekad untuk menyelamatkannya. Tapi, sebuah konspirasi telah menunggu.

Membaca novel ini seperti membaca cerita silat, namun dengan gaya berbeda. Segar, penuh aksi dan intrik, dan tiap halaman seakan menyimpan misteri. Penggambaran Pitaloka memang sangat perkasa, cenderung hampir sempurna. Yang mungkin membuat sebagian orang bertanya-tanya (ya nggak, Mas Beh? :D), apa bener Pitaloka "beneran" kayak gitu? Pada masa itu? Terus padepokan Candrabhaga, emang ada gitu? Yah, mungkin penulis bisa berkelit, namanya juga fiksi sejarah. Lebih kental nuansa fiksi memang di buku ini.

Yang saya suka, tuturan Tasaro mengenai ajaran Candrabhaga, cukup cantik dan elegan. Memang ajarannya apa? Yah, silakeun cari deh bukunya (beli kek, pinjem kek, ngutil kek, eh yang terakhir haram hukumnya!--ini dalam rangka promosi buat teman biar bukunya laku, ntar pan kite juga yang kecipratan, kekeke).

25 comments:

  1. aku belum baca "cahaya" tapi udah baca Dyah Pitalokanya kang Hermawan Aksan. setelah baca novel itu aku jadi "sebel" banget sama Gajah Mada, gara2 dia tuh Dyah gak jadi merit Hayam Wuruk, gara2 dia juga orang Jawa jadi musuhan sama orang Sunda setelah terjadi perang bubat..

    ReplyDelete
  2. seru keknya,pengen baca..yah..beli dimana,nunggu mudik^_^

    ReplyDelete
  3. wah bagus nih kayaknya, tp lihat tebalnya 448 halaman? waduh... anakku dikemanain ya? soalnya takutnya klo udah baca gak mau berenti lantas gak peduli alam sekitar, hehehe...

    ReplyDelete
  4. kerennnn.. aku udah baca ini walaupun minjem ama teh puji hehehe
    betul mbak dee, Pitaloka sepertina sangat macho sekali, mbak dee aja kalah macho kayaknya :p
    itu lho, pilosopinyah yang bikin aku mikir2 lagi.....

    ReplyDelete
  5. @ etika: maaap *gaya mpok minah*, saya bukan orang jawa, bukan orang sunda, hihihi. tapi soal mitos itu apa bener karena gajahmada mbak? ;). aku belum baca dyah pitalokanya hermawan aksan (pengen, belum beli :D). pengen bandingin gitu, plus pengen baca seri gajahmada-nya langit kresna hadi yang ada perang bubatnya.

    ReplyDelete
  6. @ inci73: haha, iya, kalo punya anak kudu ngatur2 ya, biar gak seneng sendiri keke. 448 halaman, tapi gak bikin kerut merut bacanya kok, mbak inci. kalo nonstop 2-3 jam selesai (= masak nasi + lauk pauk atau mandiin 17 anak atau nyuci sekarung baju hehe)

    ReplyDelete
  7. @ wib711: walah, sayah machoh? kamuh jangan gituh yahh, sayah kan lembuthhh...
    btw, pilosopih nyang mana, mas?

    ReplyDelete
  8. eh.. itu pilosopi atau ajaran chandrabaga ya.. yang tiap mulai halaman baru :D

    aku ngebayangin jadi siapa itu.. anaknya yaksapurusa... seru banget.. bandel2 dikit.. tapi jagoan hihihihi

    ReplyDelete
  9. oo itu, iya, ada juga yg bhs sunda, saya kagak ngarti hehe.
    anaknya yaksapurusa? Elang Merah. yup, aku juga suka karakternya dia, bikin novel ini tambah seru.

    ReplyDelete
  10. wah ada lagi buku tentang pitaloka ya...

    ReplyDelete
  11. asyikkk...setelah baca 'Samita, bintang bersinar di langit majapahit', aku ngefan nih ama penulis yg satu ini. Yang ini juga pasti bagus deh........(padahal belum baca, udah sotoy gini...)

    Chandrabhaga.....rasanya di 'samita' juga ada tokoh ini....tokoh yang sama atau???....jadi penasarannn. AYo..ayooooo....beli bukunya!!!!!!!!!

    ReplyDelete
  12. Mampir ahhh... Seneng Mbak Dee mulai ngeresensi lagi. Tapi resensinya kubaca nanti aja kalau aku udah baca bukunya juga, hehehe...

    ReplyDelete
  13. catet... :D, ayo yg rajin ngeresensi mbak...

    ReplyDelete
  14. @ niwanda: ya wish di-list, mbak, hihi.

    @ annidalucu: beli tokek! haha

    @ jmave: ada, mas.

    @ owleyelfiana: saya juga ngefans ama tasaro, ato kita buat KFC eh KFT, klub fans tasaro (segitunya, hehe). saya malah blm baca samita :D

    @ femmy: sebenarnya...sebenarnya...ini mindahin resensi yg saya tulis buat annida, fem, hehe. lumayan, jadi kedorong ngeresensi ;)

    @ ftz12: hehe... amiin...

    ReplyDelete
  15. Belum baca mbak, tapi udah masuk dalam list buku yang akan aku beli :-)

    ReplyDelete
  16. sedihhhhhhhhhhhhhh....T_T
    barusan ke toko buku nyari buku ini, plus dua buku lain............gak ada satupun!!!
    BT!!!! gara-gara mba dee nih! tanggung jawab mbak!

    ReplyDelete
  17. @ unisa: sip!

    @ owleyelfiana: waduuuh, saya berani jawab tapi gak nanggung :D. mungkin langsung pesen ke penerbitnya kali ya. tao tunggu islamic book fair maret taon depan hehe.

    ReplyDelete
  18. he..he...akhirnya saya pesan lewat www.palasarionline.com,
    pas udah mesen garuk2 kepala....kenapa mesti pesen dari bandung yak? emang d jakarta gak ada? he..he...bodo' lah, demi sebuah kata bernama 'penasaran'....dan 'kepuasan'....dua kata dong yak?!

    ReplyDelete
  19. haha, aya myuun... tapi bagus-bagus... segala sesuatu emang butuh perdjoengan :D

    ReplyDelete
  20. Kalo udah gatel pengen baca, beli aja ke sini http://www.aksiku.com/2013/09/pitaloka-cahaya-karya-tasaro-jual-novel.html

    ReplyDelete