Tuesday, July 17, 2007

Laskar Pelangi

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Andrea Hirata
Ehmm... *clearing throat :D*... setelah sempat "terpesona" dengan Sang Pemimpi, yang saya baca duluan, saya memang niat banget baca buku pertama dari tetralogi Laskar Pelangi ini. Ekspektasi saya memang besar. Lantas?

Hal-hal yang saya dapatkan di buku kedua, tetap saya dapatkan di buku ini. Deskripsi yang detil dan cantik. Cerita yang sarat metafora. Kisah yang menyentuh. Humor yang cerdas (meski kalau soal kocak, Sang Pemimpi lebih kocak).Tapi... kenapa saya harus memaksa diri menikmati sepertiga bagian awal buku ini. Ada apa gerangan? Mungkin beberapa hal ini:

- Saya terlalu berekspektasi (halah, diulang!)

- Deskripsi setting yang terlalu detil. Bagus sebenarnya, tapi kok saya merasa tterlalu padat ya. Begitu juga tuturan tentang tokoh-tokoh. Menurut saya terlalu berjejal.

- Kurang konflik. Meski buku ini bukan fiksi (?), buat saya konflik tetap dibutuhkan agar cerita lebih bergerak. Nah, hingga bab 10, saya belum menemukan konflik tersebut. Kisah berjalan begitu datar. Mengenalkan si ini-si itu, tanpa ada rangka cerita. Meski sarat emosi, tapi seperti dicekoki. Bandingkan misalnya dengan buku kedua, di bab pertama, Andrea langsung menggebrak dengan kisah Ikal, Arai dan Jimbron yang dikejar Pak.. (sapa namanya, luppa :D) dan harus bersembunyi di kotak penyimpanan ikan (?). Mungkin karena buku kedua kali ya, Andrea udah belajar ;).

- Logika cerita. Saya melihat Andrea kurang bisa membedakan antara 'dia sekarang' dengan 'dia masa lalu'. Cerita jadi terkesan menumpuk. Setting waktu kurang jelas (baca: melompat-lompat) sepertinya yang membuat logika cerita jadi agak membingungkan.

- Taburan kata asing. Dengan kondisi saat itu, rasanya agak aneh. Informatif sih iya, tapi buat saya kok jadi mengurangi kesederhanaan cerita. Kembali ke logika cerita kali ya. Andrea sepertinya memasukkan pengetahuannya ams akini dengan ekjadian masa lalu yang ia ceritakan.

Kira-kira begitulah. Sekadar kesan saya saat membaca. Bukan resensi, makanya saya nggak naro tag resensi :). Saya juga nggak nulis tentang isi buku ini. secara sudah banyak yang nulis :).

Anyway, buku ini tetap oke (terutama setengah bagian akhir). Menyentuh, sarat hikmah dan pelajaran. Dan salut buat Andrea yang katanya menulis buku ini hanya 3 minggu, plus belum punya pengalaman menulis sama sekali (eh tapi kan dia pernah nulis tata cara bermain bulutangkis ya yang kemudian dibuang ke sungai ciliwung--tapi beda gaya kali yee :)

Oh ya, saya menemukan wawancara Andrea tentang buku ini DI SINI.

38 comments:

  1. belum sempat baca buku ini.
    semoga bisa baca sebelum filmnya jadi...

    ReplyDelete
  2. aq dah baca...bab 1nya ajah...
    trs ga dilanjutin krn...maless... :D
    ga suka dengan cara bertuturnya yg ga match dengan setting yg dia ceritain. setuju dengan mbak Dee utk poin 4 & 5.

    ReplyDelete
  3. aku sih bukannya lom sempe, tapi gk ada bukunyaa Yan, hehehe...makaish ah dah direview...

    ReplyDelete
  4. menurut aku gak ngaruh kok settingnya lompat-lompat ...malah seru kaya' puzzle ...

    ReplyDelete
  5. Ayo buruan lanjut ke Edensor... trus main ke sini deh (belum kesampaian nih nengokin tempat yang jadi setting, soalnya dari ujung ke ujung pulau). Soal Sang Pemimpi yang menurut Mbak 'lebih renyah' mungkin karena Laskar Pelangi memang buku pertama dan awalnya tidak direncanakan sebagai tetralogi.

    ReplyDelete
  6. Ayo buruan lanjut ke Edensor... trus main ke sini deh (belum kesampaian nih nengokin tempat yang jadi setting, soalnya dari ujung ke ujung pulau). Soal Sang Pemimpi yang menurut Mbak 'lebih renyah' mungkin karena Laskar Pelangi memang buku pertama dan awalnya tidak direncanakan sebagai tetralogi.

    ReplyDelete
  7. baru baca..... "sang pemimpi"

    langsung berasa serunya.....

    ReplyDelete
  8. Aku blm sempet baca mbak, Triloginya itu judul bukunya apa aja ya?
    Udah lama nih gak ke Toko Buku :((

    ReplyDelete
  9. Kutipan dari resensiku: "Saya berhenti membaca pada halaman 214. Tak tahan lagi, setelah memaksakan diri membaca beberapa puluh halaman terakhir. Saya heran juga, kenapa ya? ... mengapa saya tak bisa menikmati buku ini?"

    Terus ke bawahnya, poin-poin kita sama. Kita sehati-sejiwa ya... hehehe...

    Ternyata buku-buku selanjutnya membaik ya? Baguslah. Saya juga berharap begitu, tapi takut kecewa, jadi sampai sekarang belum beli.

    ReplyDelete
  10. Lha, kirain mas udin udah baca... :). iya, mo difilmin ya. sepertinya menarik, terutama sinematografinya, dnegan lanskap belitong gitu.

    ReplyDelete
  11. sebenarnya waktu awal2 terbit saya udah sempet ngintip bab-bab awal, cuman gitu, ten, kayaknya kok kurang menarik u/ dibeli :D. Akhirnya gitu deh, belum baca2, sampe akhirnya baca Sang Pemimpi, tertarik deh baca ini. Soal isi dan pesan sih oke banget deh nih buku.

    ReplyDelete
  12. hehehe... kalo mudik lagi sila dicari mbak ;). btw, ini bukan review mbak, cuman kesan doank kok :)

    ReplyDelete
  13. relatif kali ya, mbak etty... kalo buat mbak mungkin malah jadi seru, kalo buatku ya itu jadi bertanya-tanya karena berhubungan sama logika cerita :)

    ReplyDelete
  14. Wah iya, Mbak Leila kan di Babel ya! Asyik banget tuh mbak, bisa napak tilas, hehe. Pengen banget deh ke sana. Edensor lagi pesan nih mbak, kayaknya lumayan renyah ya buku ke-3 ini.
    Tentang Sang pemimpi, iya sepertinya Andrea juga udah banyak belajar dari buku pertamanya ya.

    ReplyDelete
  15. sepertinya buat orang kayak saya, baca sang pemimpi dulu baru laskar pelangi, nov, hehe.

    ReplyDelete
  16. Tetralogi, mbak widi, tapi yg terbit baru 3. Judul2nya: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, edensor, dan yang mo terbit Maryamah Karpov.

    ReplyDelete
  17. Haha, ternyataa... Baru ngecek lagi ke resensi yang Femmy tulis, udah setahon lebih yak dan saya juga reply. Udah lupa malah. Ingetnya dulu Femmy juga pernah posting di milist FLP terus lumayan ada diskusi. saya baru baca dan kesan kita sammah! ;)
    Sepertinya sih Fem, lebih berasa plot dan konfliknya (yang Sang Pemimpi), yang edensor saya baru mo beli nhe, lagi pesen di bukukita.com ;)

    ReplyDelete
  18. Laskar pelangi, Sang pemimpi, Edensor nilainya 8,7,6 ..
    Sangat mungkin Maryamah Karpov nilainya 5 ...:D

    ReplyDelete
  19. berarti laskar pelangi paling bagus ya, mas..
    ehmm, kalo pake deret ukur nilainya jadi berapa tuh? :D

    ReplyDelete
  20. baru kelar baca buku ini minggu kemarin...klo mba punya buku sang pemimpi...boleh minjem ??^_^

    ReplyDelete
  21. sempet tertarik....tapi belum tindak lanjut..!
    Bagus gak teh dee?

    ReplyDelete
  22. Mba Dee...
    Laskar Pelangi is my favourite book.
    - Deskripsi setting dan tokoh yang erlalu detail >> I like it, so kalo mba Dee bilang itu ga pas, artinya itu subjektifnya mba Dee aja.
    - Dia sekarang dan Dia masa lalu terkesan menumpuk?>> no, kalo mau dibilang, buku ini adalah fiksi. tapi fiksi yang diilhami dari masa lalu si penulis. kalo terkesan menumpuk, ya itu menurut saya gaya baru yg inovatif. :p
    - Taburan kata asing. >> justru itu keunggulan buku ini. artinya si penulis bener2 melakukan eksplorasi kata2 yg sangat luas. buku ini kaya kosakata.

    Justru di buku kedua saya tidak menemukan hal-hal itu. Saya juga bingung kok buku kedua tipis... hehehe, jawabannya ya karena deskripsi tokoh dan setting tempat sudah diceritakan di buku pertama. yg pasti, di buku kedua (sang pemimpi)saya cuma menemukan 3 pelajaran moral. kurang banyak :p

    ReplyDelete
  23. boleh banget meyla... tapi masih dipinjem tuh bukunya ;). hayoo maen ke sinih!

    ReplyDelete
  24. baru baca yang sang pemimpi.. tapi kok kurang ada keinginan baca yg laskar pelangi ya? mungkin cerita2nya hampir mirip?

    ReplyDelete
  25. Hai, Wahyu... saya nulis ini mungkin memang subjektif, makanya saya bilang kesan saya membaca dan buka resensi yang objektif :). Dan menurut saya wajar saja ya, kita semua pasti punya kesan yang berbeda dalam membaca, gak semua harus sama kan?
    - Deskripsi setting dan tokoh mungkin lebih tepat saya sebut berjejal. Dan buat saya --seperti saya bilang-- 10 bab pertama membosankan. Kalau buat wahyu nggak, ya gak apa-apa.
    - Fiksi atau non fiksi sepertinya gak ada hubungan dengan kesan menumpuk yang saya rasakan. Jadi penjelasan wahyu mestinya bukan soal fiksi atau bukan. Sebab non fiksi pun bisa berjejal kalau si penulis "terlena" sehingga mengganggu keuntuhan cerita itu sendiri.
    - Tentang kata asing, kan udah saya bilang, mungkin informatif, mungkin mengesankan eksplorasi yang luas, tapi buat saya (sekali lagi: buat saya) sangat tidak cocok dengan setting itu sendiri, karakter tokoh itu sendiri. Andrea jadi kurang bisa membedakan antara dia waktu itu yang masih anak-anak, cara bertutur anak-anak tentu tak seperti dia saat ini yang sudah lebih cerdas dan berwawasan.
    Bagaimanapun, Wahyu, seperti saya bilang di akhir tulisan, buku ini tetap bagus menurut saya, di tengah taburan buku2 yang gak ada pesan, maka tetralogi ini sangat-sangat perlu diapresiasi. Tapi gak ada yang sempurna di dunia ini kan? :)

    ReplyDelete
  26. Gak papa mbak, gak harus maksa toh? :). tapi ceritanya beda kok, kalo LP tentang 11 anggota LP . Kalo SP lebih fokus ke kisah ikal dan arai, plus jimbron.

    ReplyDelete
  27. you're correct... definitely.
    hehehe, sorry i was not trying to express some disagreement.
    just want to write my opinion.
    ^__^ peace...

    ReplyDelete
  28. No worry, Wahyu... I open my door to express your opinion :)

    ReplyDelete
  29. *Toooooooooooooos dulu*
    Makanya sampe skr aku baru baca 1/3 aja Mba, belum kuselesaikan sampe hari ini, pas reply ini, hihihihihi :-)
    Keningku sampe berkerut2 pas baca, dimana gregetnya??? sambil bingung juga, kok orang2 bilang ini buku superb???
    padahal udah dibawain Mba Tita jauh2 dari indonesia :-D

    ReplyDelete
  30. Soal sarat nilai kebajikan dan pesan moral yg terkandung di buku2 Andrea, aye mah setuju banget! Ditengah2 buku2 yg kata orang gak jelas pesan apa yg mau disampaikan, LP dkknya benar2 oase :-D

    ReplyDelete
  31. gak supan ya udah dibawain jauh2 belon selese dibaca!! *sambil ngikik* :D
    yah, spt mba bilang di bawah sonoh... pan tiap orang gak sama kesan membaca/menangkap cerita. mbak sendiri sempet mo berenti tuh, tapi nerusin baca dgn gigih :D, dan setengah bagian terakhir cukup enak dinikmati kok, ma.

    ReplyDelete
  32. aku dah baca sang pemimpi (buagus banget buat motivasi..)
    ..tp aku belon beli buku ini ...
    heheheee...jd referensi sblm beli....

    ReplyDelete
  33. iya, menginspirasi dan kocak banget :)

    ReplyDelete
  34. sayah baru mau baca mba Dee... sepakat. sayah baru sampe bab 5, kok kayaknya udah menyeret2 buat nerusin minat baca terusannya.
    setuju, banyak banget istilah asing, secara sayah ajah serong bolak balik ngebukain halaman terakhir, coz ga ngerti artinya apaan :D

    lain kali kalo ada istilah2 asing gitu penjelasannya mending di catatan kaki or di tiap akhir bab aja kali yak, mbiar engga mengganggu kenyamanan meniikmati cerita. *sok teu juga euy...* :D

    ReplyDelete
  35. aihh...aihh... dua Gramedia menyatakan Stok buku ini ludeeeesss!!!!....

    padahal dulu pas masih banyak, gak dibeli... maklum lagi tongpes...

    ReplyDelete
  36. kasihan banget....
    :D

    padahal bukunya bagus.....

    ReplyDelete
  37. Dibanding Sang Pemimpi dan Edensor, buku ini emang 'jauh'. Itu karena Andreanya kan belum punya pengalaman menulis. Setelah itu baru deh dia dapet masukan dari temen2. Makanya Sang Pemimpi kan bagus bangets

    ReplyDelete