Wednesday, August 16, 2006

Tangan-tangan Mungil Melukis Langit

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Faiz dkk
Inilah bentuk kepedulian anak-anak terhadap anak-anak. Kumpul bocah! Bukan sekadar kumpul, tapi mereka berbagi kisah, berbagi hikmah, berbagi cinta dalam tulisan-tulisan mereka. Kemudian membagikan kembali hasil dari tulisan tersebut untuk anak-anak di sekitar mereka yang kurang beruntung.


Yup, tujuh penulis cilik (Faiz, Caca, Izzati, Aini, Adam, Echa, dan Rumaysha) yang berusia 5-12 tahun berkumpul dalam buku ini. 11 cerpen mengisi buku ini (Faiz, Caca, dan Izzati masing-masing menulis 2 cerpen).


Imajinasi anak-anak yang segar namun juga unik, juga kepolosan seorang anak bertebaran dalam buku ini. Membuat kita tersenyum tapi kadang juga tercenung.


Cerpen “Jangan Ngerepotin, Dong” yang ditulis Izzati misalnya. Seakan sindiran buat anak-anak seumurannya yang kadang lebih senang minta ini-itu tanpa mau repot berusaha. Sindiran juga buat orang dewasa yang lebih senang sesuatu yang instan, mungkin.


Juga, siapa bilang anak-anak tak bisa bermain pada simbol? Lihat cerpen “Melukis Langit” Caca misalnya. Tema yang sederhana menjadi cerita yang kuat karena kepiawaian gadis cilik ini mengolah cerita dan memilih diksi.


Mau yang seru? Cerpen “The Click Man”nya Adam (adeknya Caca nih) bikin kita layaknya sedang main PS (saya sama sekali belon pernah maen PS sih hehe). Adam yang baru berusia 5 tahun ini (waaaa, tewas deh ogut! 5 taon dah bisa nulis cerpen!!) menulis tentang Aidan, bocah cilik yang berubah menjadi jagoan.


Mau yang lebih seru? Simak “Cincin Frodo” yang ditulis Faiz. Hmm, pasti sudah nebak kan, Faiz terinspirasi cerita Lord of the Ring? Yup, benar. Tapi imajinasi Faiz keren banget lho di cerpen ini. Siapa sangka kalau ternyata cincin yang sudah dimusnahkan Frodo punya kembaran? Nah lho! Gandalf memerintahkan Faiz untuk memusnahkan cincin tersebut. Terus gimana cara Faiz memusnahkan? Dan apa hubungannya Umar bin Khattab ra dengan Aragorn. Keren lho nih cerpen!


Cerpen-cerpen lain pun cukup menarik. “Puas Gitu Lho” (Aini), “Kado yang Terlambat” (Izzati), “Aku Berani pada Hantu” (Rumaysha), “Aku Mau Jadi Apa Ya” (Caca), “Bedu Anak Ondel-ondel” (Faiz), “Orca dan Kemenanganku” (Aini), serta “Cici dan Lili Mencari Ayah-Ibu” (Echa—baru tau nih doski adeknya Leyla Imtichanah ;)


Kelemahan mereka dalam hal logika, konflik yang kurang diolah, menurut saya hanya sebuah tahap untuk pencapaian yang lebih baik bagi proses kreatif mereka. Bagaimanapun perjalanan mereka masih panjang, insya Allah mereka dapat meningkatkan kualitas tulisan mereka, semakin kreatif dalam berimajinasi dan mengolah cerita, bila semakin mengasah penanya (ihik, malu neh ogut!).


Top deh buat 7 penulis cilik ini! Semua keuntungan penjualan buku ini disumbangkan unruk pengembangan Rumah Cahaya lho.

---------

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House
Tahun: 2006
Halaman:103
Harga: Gratis, tapi tukar handphone, hehe (gak ding, 20 ribu kayaknya)

13 comments:

  1. top deh....
    semoga bukunya laris manis sehingga makin banyak anak2 yang terbantu :)

    ReplyDelete
  2. Aku mau beliiiiiiiiiiiiii! *mba Dee niy jago banget nulis resensi, jadi kepingin baca sekarang juga*
    Luv U mba :-)

    ReplyDelete
  3. bukunya nyampe hkg ngga ya, siapn buat bacaab anak-anak nanti, sayang lom punya buah hati

    ReplyDelete
  4. Penasaran pengen baca tulisan anak-anak ini, yang udah terlalu cepat dewasa :)
    Ada distributor di Belanda ngga Mba Dee?

    ReplyDelete
  5. setuju!!!!!
    ini resensi buku pertama *bukan hiperbol* yang buat Ren pingin beli tanpa berpikir ulang setelah ngebacanya

    ReplyDelete
  6. Mas Jonru: Aminn, insya Allah. Gak mau kalah nih bocah2 pade ama kakak2nya di FLP ;)
    Rainy: Alhamdulillah... beli yg banyak, Ren ;)
    Wina: sampe gak ya? Kudu ditanya ama penerbitnya dulu tu Win :). Didoain wina secepatnya dikaruniai Allah buah hati. kalaupun belum, bisa dibeli aja, win, buat disimpen hehe. Atau beliin keponakan, sepupu, anak tetangga, anak sodara, anak roang, anak jalanan :D

    ReplyDelete
  7. Wehh, jago apa, Ma? Masih suka error kalo nulis resensi. Kayaknya ini mah cuma review doank, resensi mestinya lebih berisi dari ini. Ini mah cuap2 doank ;). lup yu tu, Ima sayank...

    ReplyDelete
  8. Hehe, anak2 sekarang emang cepet gede yah. Tapi tulisan2 mereka sih sebagian besar masih keliatan polosnya anak2 banget deh.
    Distributor Belanda? wah, saya kurang begitu tau tuh, Ki. coba deh nanti saya tanya ke penerbitnya.

    ReplyDelete
  9. Perlu nyantri nih, sama bocah2 ini...:)

    ReplyDelete
  10. aku beli lho mbak dee bukunya, kereeen...jadi iri gimana bikinnya ni anak2...

    ReplyDelete
  11. Siip!
    Anak2 itu bikinnya pasti gak pake terigu en gula, dew, hehehe.

    ReplyDelete
  12. Aku juga beliii loh! Mau bikin reviewnya juga, tapi belon2 aja. Buku paporitku... Kubaca berulang2... Yang paling kusuka "Aku Mau jadi Apa ya" (Caca)... Lucu aja pikiran anak-anak itu ya... jadi senyum2 sendiri.

    http://keluargahamdan.blogspot.com

    ReplyDelete
  13. iya, mbak, cerpen itu emang sederhana dan anak2 banget... karena dah kenal caca, jadi kebayang gitu :)

    ReplyDelete