Monday, May 15, 2006

Honeymoon with My Brother

Ditinggalkan calon lima hari sebelum naik pelaminan? Ratusan undangan telah tersebar. Segala pernak-pernik pernikahan telah siap. Bahkan tiket ke sebuah tempat romantis untuk bulan madu pun telah siap. Tiba-tiba sang calon menelepon dan berkata bahwa ia tak bisa menikah dengannya. OMG!


Apa yang dapat dilakukan? Bingung, sakit hati, marah, bergumpal menjadi satu. Yang bisa dilakukannya adalah menelepon sang kakak, yang diakui sebenarnya ia tidaklah dekat dengan sang kakak. Sang kakak pun membuka lebar tangannya. Mereka mencari solusi. Pernikahan tetap dilakukan. Tanpa mempelai! Bulan madu tetap dilakukan, dengan sang kakak! setelah bulan madu kakak beradik itu menjual semua harta miliknya dan bertualang selama 2 tahun ke lebih dari 50 negara! Dalam perjalanan itu juga ia bertemu dengan cinta sejati, yang mau menikah dengannya. Sang calon hanya telat 10 menit sebelum pernikahan, tak membatalkan.


Frank Wisner, dialah pria yang ditinggalkan calon istrinya tersebut.


Maaf, yang melihat Oprah Winfrey Show, Sabtu lalu, pasti tahu kisah ini. Setelah beberapa bulan ini banyak tayangan Oprah yang ulangan, dapat juga kisah yang menarik. Sebal juga, soalnya waktu tayang jam 10 pagi benar-benar nggak pas buat saya. Kamis-Jum'at kerja. Sabtu-Ahad, meski libur kadang ada aja acara ini-itu di jam segitu. Eh, sekalinya nonton tayangan ulang, hiks.


Kembali ke kisah Wisner, two tumbs up deh buat nih cowok. Mungkin banyak yang pernah mengalami hal seperti yang dialami Wisner. Tapi yang mau tetap melaksanakan pernikahan meski tanpa mempelai, jarang banget ya. Saya aja nangis bombay kali ya ditinggal 5 hari sebelum nikah, huah!


Yang bikin seru, keputusan untuk bulan madu dengan sang kakak (cowok juga lho), kemudian menjual semua hartanya dan keliling dunia selama 2 tahun itu yang... gile bener!


Hidup seringkali memang diwarnai kesedihan dan sakit hati. Tapi sejauh mana kita mau berdamai dengan kejadian yang bisa bikin sedih bahkan putus asa itu.


Melihat tayangan Oprah kemarin, saya jadi ingat teman saya yang juga meninggalkan calonnya. Teman saya itu cewek. Kurang dari sebulan (saya agak lupa, kalo nggak salah 2 minggu) ia membatalkan pernikahannya. Padahal gedung telah dipesan, katering telah siap, juga pernak-pernik lain. Waktu saya tanya teman saya menjawab karena ia merasa si ikhwan bukanlah jodohnya. "Ada sesuatu yang menolak dalam diri saya, Mbak."


Nah lho! Padahal sebelum memutuskan menikah mereka telah taaruf cukup lama. Sama-sama aktif di satu organisasi. Waktu itu saya heran aja, kok bisa? Lantas buat apa berbulan-bulan mempersiapkan pernikahan? Buat apa sekian tahun kenal? Tapi, itulah hidup, banyak misteri yang melingkup. Ikhwan, calon teman saya itu sendiri dari sisi fisik cukup punya kelebihna. Ganteng, dari keluarga kaya, berpendidikan. Saya benar-benar heran saat itu dengan teman saya.


Saya hanya bilang pada teman saya itu agar keputusannya tersebut benar-benar dipikirkan matang, bukan emosi sesaat. Saya sempat sedikit marah dengan teman saya itu. Karena mestinya dia lebih berpikir panjang sebelum benar-benar memutuskan akan menikah. Sebelum segalanya telah dipersiapkan.


Sang ikhwan, calon suami teman saya itu, tentu meradang. Bayangkan saja, semua keluarga dan teman sudah tahu, undangan akan disebar. Akhirnya sang ikhwan mencari "pengganti" teman saya. Alhamdulillah ada seorang akhwat, dipertemukanlah mereka. Nama mempelai wanita di undangan pun diganti dengan nama sang akhwat. Mereka menikah di tempat dan waktu yang telah ditentukan oleh ikhwan dan teman saya, tak ada yang berubah.


Teman saya sendiri juga telah menikah, kurang lebih setahun setelah sang ikhwan. Dia menjadi istri kedua.

37 comments:

  1. wah saya juga nonton ini di oprah kemaren, jadi pengen baca bukunya

    ReplyDelete
  2. Saya jadi juga pengen baca, nish (salam kenal). Seru kayaknya ngikutin journey mereka. tapi kayaknya di Ina belum ada ya..

    ReplyDelete
  3. oh masa? di kino, atau aksara blon ya? ntar aku tanya deh.

    Salam kenal juga :)

    ReplyDelete
  4. aku belum ke kino atau aksara lagi sih, mbak :). kalo udah ada, boljug tuh. kasi info ya, mbak :)

    ReplyDelete
  5. hiks...dah lama gk nonton oprah...dah jarang nonton TV dah...
    temenku ada lho mbak...sepekan menjelang pernikahannya, keluarga akhwatnya memutuskan sepihak tanpa alasan jelas...
    dia sampe dua pekanan gk bisa tidur, bingung cara menjelaskan ke keluarganya, wallahu'alam akhirnya gimana.tapi yang pasti sekarang ia sedang mencoba meniti langkah baru...
    sama2 doain yuk...

    ReplyDelete
  6. semoga tegar meniti langkah barunya, ya, jeng, amiin.

    ReplyDelete
  7. Tetapi memang, jodoh adalah rahasia Allah yang sangat luar biasa.. :)

    ReplyDelete
  8. Wow! Kisah yang menarik!!!! Makasih sharingnya Mbakyu sayang :-)

    ReplyDelete
  9. tul, mbak! ampe sekarang aku masih nunggu rahasia Allah neeh ;)

    ReplyDelete
  10. Sama-sama, adekyu sayang juga ;-)

    ReplyDelete
  11. Amin...
    jazakumullah doanya mbak...tar kusampaikan deh:-)
    bisa buat bahan kisah sejati nida gak?:D

    ReplyDelete
  12. bener mbak...sedetik menjelang akad, segala sesuatu masih bisa terjadi bukan?

    ReplyDelete
  13. Menjadi istri kedua dari ikhwan itu ? atau...

    ReplyDelete
  14. acara Oprah disini sering banget, sehari itu bisa ada di beberapa channel TV dengan jam tayang yang berbeda. kenapa Ari ga suka nonton ya :( ... Emang bagus? Tapi untung aja Ari ga suka, soalnya bisa-bisa nongkrong depan TV terus, hehehe...

    btw, disini, membatalkan pernikahan itu sesuatu yang biasaaa banget, jangankan lima hari, lha wong the bride sudah siap di depang penghulu aja bisa batal kok.

    Trus jalan-jalan keliling dunia? Disini emang gitu gaya hidupnya. Mereka enggan kerja begitu keras ala orang-orang Asia. Mereka cenderung ingin menikmati hidup ini sepuas-puasnya. Benar mereka kerja, tapi kemudian hasil kerja tsb digunakan untuk libur kemanaaaa gitu, seneng-seneng.

    Liat aja turis-turis yang datang ke Asia termasuk Indonesia, Kesannya sih banyak duit soalnya duit die kan dollar, tapi kalau balik ke negri sendiri yaaa gitu deh kerjanya. Na wong supir bus di desa Guelph sini gaya kok, kalau musim panas dia bilang ga kerja jadi supir lagi, tapi jalan-jalan ke California. Disini kerja sehari aja banyak bener break-nya; tea-break (jam 9:30-an), lunch-break (jam 12-an), coffe-break (jam 3:30-an), untung jam kerja cuma sampai 5:30, kalau ga bisa ada dinner-break segala :D

    Ari justru belajar banyak dari gaya hidup mereka, bahwa hidup ini harus dijalani dan dinikmati. Sayang sekali kalau waktu berlalu begitu saja hanya karena hati ini terasa susah. Sedih itu manusiawi, namun sedih tidak akan membawa kita kemana-mana, mendung aja pasti berlalu kok, apalagi mendung di hati orang yang yakin bahwa ada Yang Maha Kuasa.

    coz life is so so so beautiful to be thrown away.
    Rie *lagi cerewet*

    ReplyDelete
  15. doh... masa cari akhwat pengganti ? kesian bgt akhwatnya...

    ReplyDelete
  16. menjadi istri kedua orang lain....

    ReplyDelete
  17. iya, aku nonton juga acara itu. nggg... perasaanku kebawa ama cerita Wisner itu. salut, lah! Menikah tanpa mempelai.....
    trus, tentang temanmu yang akhwat jadi istri kedua???
    hmmm... *no comment*
    salam kenal....

    ReplyDelete
  18. Maklumlah, mbak, aku kan gak pernah idup di luar, jadi palingan tau dari baca atau nonton, ato dari Mbak ari dkk :). Yang jadi fokus kayaknya bukan membatalkan dan jalan2nya, tapi gimana dia bisa menghadapi itu, bahkan pengalamannya ditulis jd buku (di sana biasa juga ya nulis buku? :).
    Oprah? Hmm, aku suka karena byk ngangkat hal yang biasa, sehari2, tp unik. Meski dalam membawakan menurutku banyak juga yang sama bagusnya bahkan lbh bagus dr Oprah di show lain.
    Yah, interest orang beda2 ya, Mbak. Mungkin ada yg Mbak Ari suka, aku gak suka, Mbak Ari gak suka, aku suka :). Talkshow yg humanis kyk gitu masih agak jarang di sini.
    Kita memang harus banyak belajar dari mana aja, siapa aja, dan kapan aja. Hikmah itu kan 'hak' muslim yang tercecer (cmiiw)

    ReplyDelete
  19. kenapa kesian, rik? :) saya pikir ini malah spt blessing in disguise, akhwat itu bisa menggenapkan 1/2 dien, meski mungkin caranya agak gimana. wallahu'alam, saya gak begitu tau, tapi sptnya akhwat itu gak tau kalo dia buat gantiin. kalaupun tau saya pikir itu malah bentuk kebesaran hati sang akhwat, mau menerima. saya dengar mereka udah punya anak 2. begitulah jodoh memang rahasia.

    ReplyDelete
  20. salam kenal juga mbak peni... :)

    ReplyDelete
  21. cerita yang hebat, dan si akhwat yg jadi istri kedua mungkin memang itu jalan dari Allah, salam kenal!

    ReplyDelete
  22. Itu keputusan dari pihak media di Indo sendiri.

    Ada satu masyarakat disini, Ibu Sri, yang begitu peduli dengan tayangan2 TV Indo. Susah-payah beliau hubungi TV pemerintah sini - yang punya program mendidik dan mencerahkan dengan harga-harga murah apalagi mengingat ini adalah untuk menjalin networking dengan negara lain. Semua sudah rapi dicatat, dll dsb, kemudian ibu Sri pulang ke Jakarta coba tawarkan kerjasama tsb, tapi ditolak, bahkan oleh media Pemerintah sekalipun.

    Padahal ibu Sri itu niatnya bener-benerrrr cuma mau membantu untuk menghubungkan. Pikir ibu Sri, banyaknya porsi tayangan2 tidak mendidik karena media Indo tidak tahu bahwa sebenarnya buanyyakkk tayangan2 yg bermutu. Ternyata oh ternyata, itu adalah kebijakan dari pihak media sendiri.
    Rie-

    ReplyDelete
  23. Iya bener :D
    Buku itu rasanya tidak pernah ada habis-habisnya. Jangankan buku, majalah aja belum sempet kebaca sudah terbit yang baru lagi, belum majalah-majalah lain. Kalau kata pak Subhan, sepertinya setiap topik itu ada majalahnya sendiri untuk mengomentari begitu banyaknya majalah yang tersedia.

    Ari sering iseng ke toko buku, tidak untuk membeli buku, tapi untuk melihat judul-judul buku, suka heran aja, kok ada yang mikir topik begitu sederhana untuk ditulis. Banyaknya buku juga ditunjang dengan sistem self-publishing juga sih, jadi mencetak buku itu memang begitu mudahnya disini. Bahkan untuk mencetak semacam buku photo-essay aja bisa dilakukan sendiri.

    Fyi, ada dua buku, Photo essay dan How-to, yang mengupas woman who travels alone. Nanti deh Ari cek lagi ke perpustakaan. Dua buku ini mengupas dengan asyik bagaimana agar wanita yang melakukan travelling sendirian tetap bisa menikmati perjalanannya. Soalnya eman-eman juga kalau punya kesempatan mengunjungi tempat-tempat indah tapi hati terasa susah, sepi, dan sendiri..... :D
    Rie-

    ReplyDelete
  24. Salam kenal juga, Citra.
    Iya, jalan dari Allah memang sering tak bisa diterka otak manusia :)

    ReplyDelete
  25. Ya begitulah, masih banyak kebijakan yang penting laku, yg penting ditonton, dst, hiks....

    ReplyDelete
  26. Sama, ogut juga! seger kayaknya ngeliat buku berjejer. Bahkan bisa ngilangin suntuk, meski kadang ta,bah suntuk kalo mo beli gak uang hihi. Biasanya aku skalian liat2 layout, ilustrasi dsb.
    Mau dunk photo essay en hor tonya :p. Udah jgn sendiri, ama ogut aja, hehe

    ReplyDelete
  27. waks Mbak Dee.... Subhanallah ceritanya... daku agak agak terdiam, ini.
    Hm. Na jarang banget liat TV. Apalagi yang siang, karena kerja. Tapi, na suka baca O magazinenya Oprah. Sama Oprahnya sendiri sih terus terang biasa saja. Tapi saya suka banget dengan artikel2 di dalam majalahnya, yang ada ttg pengalaman wanita, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai kakak, adik, anak, dstnya.

    *I pray both akhwat and ikhwan are now finding and accepting their true happiness with their choices. And I pray, I hope, she "the akhwat" has never regreted her decision to leave him. allahumma amin. "

    Kadang Mbak, udah mikir masak-masak pun tidak menjamin bahwa pilihan yang kita pilih akan stay dengan kita....

    Allah knows best.... the bestest of Planners.

    ReplyDelete
  28. Wah, saya baru baca 2 edisi O magazine. Abis di sini jatuhnya jadi muahal :D. Bagus emang.
    Iya, benar kata Mbak Na, keputusan yg diambil penuh dgn pemikiran, pengendapan bisa aja suatu saat salah, tapi pasti ada hikmah di balik itu :)
    Makasih ya Mbak Na komennya...

    ReplyDelete
  29. jangankan dua pekan.... pagi-pagi sebelum akad aja masih ada yang nekad nanya ke ira, "yakin mo nikah...?"
    dan suamipun ditanyain hal serupa...
    hehehhee... kalo boleh jujur, sebenernya gak gitu yakin pula sih...rada gamang dan gak percaya...tapi Allah juga yang kasih kekuatan...TOP BANGET EMANG...!!!
    so, gak jadi deh..RUNAWAY BRIDE nya..:p

    ReplyDelete
  30. wow, lebih memilih istri kedua daripada istri yg pertama...? Masya Allah...ada-ada aja...

    ReplyDelete
  31. Sepertinya itu beda dgn cerita ini, Ra. Kalau model kayak IRa gitu, hampir semua teman yg nikah saya nemuin sedikit gamang atau keraguan itu, tapi tetap nikah kan? gak gagal? hehe.

    ReplyDelete
  32. yaah, itulah hidup, mbak... wallahu'alam knapa dia milih jadi istri kedua... :)

    ReplyDelete
  33. emang beda...!!! hihihi...
    kemaren di Life n Style malah ada penulis buku yang cerita pengalaman dia yang "hampir" jadi pengantin. berikut tips-tips untuk memutuskan apakah langkah untuk menikah itu adalah bener atau mending ditinggalin aja...hehhehehe
    Teteuup gak nyambung!!!

    ReplyDelete
  34. Mbak mungkin memang teman Mbak Diyan menolak itu karena dia benar-benar tidak yakin dengan pilihannya. Mungkin saya terdengar naif banget sih, tapi bukankah hak perempuan untuk menolak selama akad belum berlangsung? Mungkinkah Allah memang baru memberikan jawaban atas istikharoh2nya di saat2 terakhir? Bisa jadi juga itu 'blessing in disguise' buat keduanya (i.e. si laki2 dan perempuan), karena seandainya mereka memang tidak cocok satu sama lain, tentunya lebih baik si laki2 ditinggal di saat terakhir daripada harus bercerai kemudian? Mengenai menjadi istri kedua, menurut saya tidak menggambarkan apapun. Bukankah Aisyah juga bukan istri pertama Rasulullah?

    It's just my humble opinion.

    ReplyDelete
  35. Mungkin ada benarnya Mbak bilang. Saya juga gak pernah menyalahkan pilihan teman saya itu.Yang membuat saya agak kesal karena ya.. (saya gak bilang di sini :). Apapun, saya yakin pasti ada hikmah di balik itu (blessing in disguise spt mbak bilang) ya kita gak benar-benar gak tau seperti apa.
    Saya juga gak bilang menjadi istri kedua adalah suatu aib atau apa, sekali lagi itu pilihan teman saya, juga pilihan wanita lain, dan tertera dalam Al-Qur'an. Wallahu'alam, saya juga gak tau takdir saya nanti, bisa saja saya akan menjadi istri pertama, kedua.. (gak tega nyebut ampe 4 hehe). Namun, sampai di mana saya memahami, menyiapkan diri, setuju atau menolak (ini juga pilihan wanita kan? meski wanita juga hrs menyadari konsekuensi dr penolakan dan penyetujuannya), dsb. Dan kisah teman saya itu membuat saya banyak belajar.

    ReplyDelete
  36. salam kenal Mbak..
    cinta memang aneh ya... detik menjelang pernikahan memang hati kita biasanya diliputi was-was dan berbagai ketakutan..mungkin akhwat itu kalah sama was-wasnya tadi..mungkin loh..:)

    ReplyDelete
  37. Iya, sepertinya begitu, Mbak Afnan. salam kenal juga... :)

    ReplyDelete