Thursday, May 18, 2006

[Aceh Note #4] Selalu Ada Yang Lebih Lara



"Kalau mau mengikuti sedih dan kehilangan, tak akan ada habisnya. Masih ada yang lebih menyedihkan kondisinya. Aris hanya kehilangan ibu, adik, dan 40 keluarga dekat. Tapi yang lain? Lebih banyak lagi."


Muhammad Al-Haris. Pemuda sarat prestasi. Cerdas, ceria, apa adanya. Tahun 2002 terpilih sebagai pemenang kedua Remaja Berprestasi Annida (RBA) tingkat nasional. Usianya kini 21 tahun. Usia 19 tahun telah bekerja sebagai staf di sebuah bank pemerintah terbesar di Banda Aceh, merangkap kuliah di Unsyiah. Keceriaan dan optimisme tak pernah hilang dari sorot wajah dan langkah hidupnya, saat sekitar satu jam kami napak tilas peristiwa tersebut.


Rumahnya terletak di Lampulo, hanya berjarak tak lebih 20 meter dari tepi laut. Habis tak tersisa kala tsunami menggulung. Sang bunda baru saja selesai shalat dhuha saat gempa mengguncang dan kemudian tsunami menerjang. Bersama bunda dan ketiga adiknya, Aris menyelamatkan diri. Berpegangan tangan. Sang bunda masih mengenakan mukena saat berlari dikejar tsunami. Ayah Aris sendiri sedang ke luar kota.  


Gelombang hitam melumat apa saja yang dilewati. Mereka berlari melompat-lompat. Air beraroma bensin campur tanah. Hitam pekat. Kayu, batu, mobil memukul-mukul tubuh mereka. Saat itu ia hanya berdoa: “Ya Allah sekiranya hidup hamba-Mu ini masih bermanfaat bagi agama-Mu, maka selamatkanlah hamba dari gelombang ini. Namun jika hari ini adalah ajalku maka matikanlah aku dalam keimanan pada-Mu.”


Kekuatan dahsyat mencerai-beraikan ibu dan anak tersebut. Aris terpisah dengan ibu dan kedua adiknya. Di sebuah rumah bertingkat ia dan satu adik laki-lakinya diselamatkan seorang bapak. Luka-luka di sekujur tubuh Aris dan adik. Bahkan kaki mereka tertembus kayu, yang tak terasa saat mereka bergumul dalam gelombang.


Di sebelah saya, sambil menyetir mobil, Aris menunjukkan rumahnya, lokasi ia berpisah dengan sang bunda, rumah bertingkat tempat ia diselamatkan, gedung-gedung yang tadinya hancur, tempat ia menemukan mayat-mayat, mengangkat dan menguburkannya. Mata saya berembun kemudian menganak sungai. Dengan tenang Aris bercerita. Rasanya saya ingin berteriak: “Sudah, saya tak tahan mendengarnya!”. Di bangku belakang, Cut Intan, Cut Jan, dan Eki juga tenang mendengarkan.


“Sekarang sudah mulai ada denyut kehidupan, Mbak. Hingga tiga bulan ba’da tsunami, Aris masih menemukan mayat-mayat. Lampulo seperti kota mati.”


Hingga kini ibu dan kedua adiknya tak ditemukan. Mungkin termasuk yang dikubur massal. “Aris pasrah. Semoga Allah mempertemukan di jannah nanti.”


Amin allhumma amin. Insya Allah, Ris.

5 comments:

  1. merasa masih jauh sangat beruntung, ketika kita membaca kisah2 sedih mereka yang seperti ini, mungkin kalo saya yang mengalaminya, tak kan bisa setabah aris :(

    ReplyDelete
  2. Iya, eka. Mungkin itulah mengapa sodara kita di Aceh yang mendapat ujian tersebut. Karena mereka lebih mampu menanggung ujian tsb dibanding kita

    ReplyDelete
  3. Hiks :-( Jadi ingat pas aku teriak2 di pinggir jalan raya pas musim dingin di Glasgow utk Aceh appeal. Ada di jurnal ku Mba :-)

    ReplyDelete
  4. Iya, Ima, mbak dah baca tuh, seru! semoga "teriakan Ima menjadi investasi amal kelak. amin :)

    ReplyDelete
  5. Aris satu dari ratus ribu orang yang melihat kebesaran Allah. Allahu Akbar

    ReplyDelete