Thursday, November 24, 2005

Bianglala Cinta 5 Jomblo

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Tasaro
Dago 335 The Single Guy's Series: Bianglala Cinta Lima Jomblo
Penulis: Tasaro
Penerbit: Syaamil Cipta Media (2005)

Namanya juga jomblo. Berlima mereka punya obsesi beragam, tapi soal perempuan, mereka nyaris punya satu sudut pandang.

Tanya saja Tahzan, bagaimana dia memahami sosok hawa?

“Perempuan itu ibarat buku. Perlu seni untuk memahami, lalu mencintai. Terlalu berharga untuk dihargai dengan 1001 janji.

Hmm. Filosofis. Lumayan. Tapi apa maksudnya?!

“Ya, perempuan itu makhluk kreatif yang harus diajak diskusi, bukan sekadar teman nonton film, atau lari-lari pagi.”

Whateverlah! Guyu, bagaimana menurutmu?

“Buat gue, cewek itu puncak segala lelucon. Dia ketawa, gue ketawa.Dia nangis, gue tetep ketawa. Nah, kalau dia ngambek, baru gue ketawa.”

Gariiiiiiiiing! Dasar pelawak! Benua pendapatmu?

“Wanita dijajah pria sejak dulu...”

Nyanyi Ben?!

“Sorry, kebiasaan. Kalau gue, wanita itu sama dengan lagu. Butuh perasaan untuk membawakannya, meresapinya lalu membanggakannya. Nah, lagu kan juga ada kelas-kelasnya. Mulai yang ecek-ecek sampai tingkat festival. Tinggal pilih aja...”

Cut! Garu, giliran elu!

“Ya buat saya, memahami wanita itu seperti mempraktekkan bisnis MLM. Harus ada perjuangan, ketekunan, paling penting pemeliharaan. Itu seninya. Tanpa itu semua, hambar rasanya.”

Oke... oke. Anggap gue paham. Sibi, harapan gue tinggal elu. Tolong kasi jawaban yang keren. Please banget!!!

“Buat saya, perempuan itu seperti sumur...”

What??!!!

“Sumur zam-zam lah. Sumber inspirasi yang tak pernah habis. Saya menghargai perempuan seperti saya menghargai hidup ini.”

Fuh!

***

Panjang amat ya intro-nya? Ya begitulah. Tapi dari intro yang saya ketik (saya ulangi: saya ketik) di atas, saya ingin memperkenalkan lima tokoh dalam buku ini: Laa Tahzan (Tahzan), Benua (Ben), Guyudasa (Guyu), Garudeya (Garu), dan Sibijeh Mato (Sibi). Unik? Aneh? Itulah Tasaro, yang bisa 'seenak'nya memberi nama tokoh-tokoh novelnya.

Saya baru membaca dua novelnya (dari 5 novel yang sudah ia terbitkan), tapi sepertinya saya mulai 'jatuh hati' pada Taufik Saptoto Rohadi alias Tasaro. Ups, jangan salah ya, 'jatuh hati' pada goretan pena Tasaro. Ada nuansa lain dari tulisan-tulisan Tasaro. Ada keunikan, ada kesegaran, ada gejolak, ada apakah? :D. Ok, sebelumnya kita kembali ke soal nama-nama tokoh yang Tasaro gunakan. Di novel sebelumnya yang sudah saya baca “Wandu, Berhentilah Jadi Pengecut”, Tasaro juga menggunakan nama-nama yang tak pasaran (Maruta, Bhumi, Chandra, Angkasa, dan Dahana). Tasaro tak 'asal' menentukan nama tokoh. Dalam Wandu misalnya, ia menyesuaikan dengan karakter tokoh-tokoh tersebut.

Nah, untuk di buku ini sepertinya begitu, meski saya tidak tahu persis arti-artinya. Paling Laa Tahzan (Jangan bersedih) dan Sibijeh Mato. Coba, betapa 'cuek'nya Tasaro memberi nama tokohnya. Tapi itu baru salah satu yang membuat buku ini jadi segar.

Bianglala Cinta Lima Jomblo (BCLJ) bercerita tentang persahabatan 5 pria lajang. Dago 355 adalah alamat kost mereka (lebih tepat rumah kontrak) yang ditata sedemikian rupa sehingga menjadi tempat asyik buat kelima jomblo itu, termasuk acara malam mingguan yang biasanya diisi dengan obrolan ringan tapi berisi. Malam mingguan?!

Yah begitulah. Sabtu malam minggu adalah waktu yang tak bisa diganggu-gugat. Lima jomblo tersebut harus hadir, dan mereka memang bersepakat, kegiatan apapun diusahakan sebisa mungkin (kalau perlu harus) menyingkir bila waktunya bersamaan dengan 'malam mingguan' mereka.

Laa Tahzan (Tahzan) adalah pemilik sebuah toko buku, pria yang memiliki darah Pakistan-Mesir. Garudeya (Garu) seorang pebisnis MLM, anak orang kaya tapi tak mau bergantung pada ortunya yang pemilik beberapa SPBU, punya hubungan kurang harmonis dengan ortunya. Guyudasa, seorang komedian, yang jam kerjanya alias show setiap malam, kecuali Sabtu tentu. Sibijeh Mato (Sibi) pria asli Aceh, kolumnis sebuah harian kota Bandung yang kehilangan hampir semua keluarganya saat tsunami. Dan Benua (Ben), seorang dubber.

Cerita berjalan dari satu tokoh ke tokoh lain. Guyu yang penasaran dengan wanita misterius yang hadir setiap ia show, namun wanita itu selalu hilang tanpa ia sadari. Sibi dengan kesibukannya mencari ide-ide segar untuk Curhat si Sibi. Garu yang tiba-tiba menghilang, membuat keempat jomblo lain bingung, namun tiba-tiba muncul dan mengaku habis menjadi figuran sebuah film bioskop. Benua yang tiba-tiba minta dicariin istri oleh Tahzan, lantas dibawa Tahzan ke tempat mangkal waria, ke mal, hingga akhirnya mentok ke seorang ustadz (lho?). Juga Sibi yang mendapati email-email aneh dari pengirim misterius di mailboxnya. Asyik sekali mengikutinya, apalagi cerita cowok ditulis oleh cowok juga, dan sepertinya banyak juga yang pengalaman pribadi Tasaro dan teman-temannya (sepertinya... :-)).

Jalinan cerita berkelindan. Segar, cerdas, berusaha dibumbui humor, meski Tasaro berkata sendiri dalam pengantarnya bahwa melucu itu tidak gampang. Tapi setidaknya humor yang berusaha Tasaro tampilkan adalah humor yang smart, tak berlebihan, sekadar bumbu yang tak membuat BCLJ jadi berkurang kesegarannya.

Ada banyak sindiran-sindiran, tentang pria yang me-rebonding rambutnya, tentang pengiriman putri Indonesia ke ajang Miss Universe, tentang pemerintah kota Bandung yang hanya mempercantik kota saat ada event besar (Konferensi Asia Afrika), tentang waria (saya menemukan 'kesamaan' dengan Wandu), dan 'tentang' lain, yang menyelip di antara dialog dan narasi. Sepertinya latar belakang Tasaro yang pernah bekerja di media (terakhir sebagai redpel Radar Bandung) cukup mempengaruhi (banyak malah) keluasan wawasan Tasaro tentang hal-hal yang baianya memang jadi santapan media.

Bertaburan juga quote-quote dari tokoh terkenal. Juga unik, karena Tasaro menyelipkannya di dialog. Dan tak perlu mengaku-ngaku itu kalimat ciptaan sendiri, tapi Tasaro memberi keterangan langsung siapa pembuat quote itu.

Satu kelebihan Tasaro yang lain adalah caranya menyampaikan pesan yang smooth. Bila penulis lain berbicara tentang “menjauhi” pacaran mungkin melalui tokoh berjilbab atau berjenggot :-), tapi Tasaro tidak. Seorang gadis melayu, berambut legam, dingin, dan cuek menyampaikan tentang 'nilai' pacaran.

--Saya tidak pacaran. Saya memilih untuk tidak pacaran. Buat saya, cinta sebelum menikah itu bohong besar. Mereka bicara cinta, pengorbanan, kesetiaan, itu semua bohong besar. Kalau kamu sudah menikah, kamu tak punya kompensasi untuk berkorban. Kamu harus bekerja untuk menghidupi anak istri kamu. Kamu hanya akan memikirkan, bagaimana membesarkan anak kamu, memberi dia fasilitas terbaik. Dan kamu tak pernah berpikir untuk meminya bayaran. Kamu tulus melakukannya. Itulah pengorbanan.--

Begitulah sebagian pendapat Shekina, gadis melayu itu tentang pacaran.

Oke, sepertinya sudah kepanjangan. Yang jelas, fresh sekali saya membaca buku Tasaro ini. Menghibur, berisi, padat. Saya nggak sabar menunggu lanjutan serial ini. Nggak rugi baca buku ini, bener, nggak hiperbola.

Kekurangannya, tokoh-tokohnya kelihatan sekali “Tasaro”nya, maksudnya kurang terlihat karakter yang berbeda, terutama dari segi pemikiran. Contoh film AADC misalnya, kelihatan sekali kan karakter masing-masing tokoh? Yang kalem, lembut, panasan, sporty, sampai yang tulalit. Nah, mungkin Tasaro bisa lebih jeli lagi 'membedakan' karakter.


5 comments:

  1. ai ai...jadi penasaran niiiy pingin baca...
    makasih mbak Dee, tapi sebenernya, ada satu lagi yg menarik. Pemaparan mbak dee itu lhoo, bisaan...
    Gimana biar bisa menceritakan ulang apa yg kita baca dengan menarik mbak?

    ReplyDelete
  2. iya ya ummi nida! jadi penasaran banget. emang, mba Dee ini paling jago kalo promosi. jadi kalo ummi punya apa2 untuk dipromosiin, serahin aja sama mba Dee ini. dijamiiiin.......!

    ReplyDelete
  3. Hehe, jangan salah, mbak juga suka bingung en susah bikin resensi yang menarik. Pengen gitu bikin resensi yang dalem, tapi belum bisa. Asli, butuh keahlian tersendiri. Ini mah masih suka2 aja transfer apa yang didapatd ari baca buku jadi tulisan alakadarnya :D.

    Buat Ratih, hayoo kalo punya buku kasi ke saya, bair dibaca ;)

    ReplyDelete
  4. Iyah..
    Suka ma cara meresensinya.
    Terus penasaran ma bukunya.

    ReplyDelete
  5. hehehehe sebenarnya pada suka ama TASARO apa Mba' Dee nya nih ? mbak salam kenal yaa....

    ReplyDelete