Wednesday, October 5, 2005

Kala Rakyat Berempati, Pemimpin Mana?!




Pagi tadi dalam perjalanan ke kantor saya benar tak mampu menahan tangis, sesak di dada.



Di mikrolet, saya duduk tepat di belakang pak supir. Sekitar 500 meter,
mikrolet yang saya tumpangi berpapasan dengan mikrolet dari arah lain.
Supir mikrolet sama-sama menghentikan mobilnya, berbicara sebentar.



"Lu gak naikin ongkos kan?"

"Nggak! Gile aje, mahal banget naeknya!" kata supir mikrolet yang saya tumpangi.

"Iya, jangan mau!"

"Nggak gue pasang kertas pengumumannya. Nih!" kata pak supir sambil mengibaskan kertas.



Lantas kedua mikrolet sama-sama melanjutkan rute.



Penumpang di bangku depan, samping pak supir bertanya: "Memang sebenarnya berapa pak kenaikan tarifnya?"



"Dari 2500* jadi 4000. Kemahalan! Kasian penumpang. Saya nggak tega, rakyat udah susah."



Saya menguping.



"Kita sama-sama orang susah, saya ngerti yang naik mikrolet banyakan
menengah ke bawah. Sebelum ada pengumuman resmi, nggak papa deh masih
pake tarif lama. Tapi banyak juga yang ngerti, ngelebihin ongkos."



Pantas saja, malam sebelumnya saya kesulitan mencari mikrolet 02.
Ternyata mereka mogok. Demo karena buat para supir tersebut merasa
kenaikan tersebut sangat tinggi. Bajaj pun sangat laku, berseliweran di
rute tersebut.



Ah, rakyat bawah saling berempati. Tidak lantas menaikkan tarif
seenaknya, mungkin ada yang menaikkan, tapi realitanya, saya menemukan
rasa empati tersebut. Para pejabat mana?? Mana para pemimpin kami yang
mestinya menaungi kami?!



Berapalah pendapatan seorang supir mikrolet? Tapi mereka mengerti...



Melanjutkan perjalanan, saya naik metromini. Kali ini saya juga
menemukan nuansa berbeda. Penumpang yang berjumlah sekitar 10 orang
berbincang tentang kenaikan BBM.



Seorang ibu mengeluh kenaikan minyak tanah yang lebih dari 100%.



"Biasanya uang 3000 biasa dapat 2 liter, itu juga masih dapet kembalian. Sekarang 3000 cuma dapet seliter."



"Masih mending kalo harga mahal, barangnya ada. Kemarin saya kesusahan nyari minyak tanah!" sambung seorang bapak.



"Kiamat saja ya, atau perang saja sekalian Indonesia ini..." seorang bapak lain lirih berkata.



Saya tersentak.



"Yaa nggak bisa begitu juga. Kita harus berusaha terus..." sambung yang lain.



"Cuma bisa pasrah kayaknya sekarang... BBM nggak naik aja barang udah
pada naik... nggak tau deh kasian anak-anak, jangan-jangan nggak pernah
bisa makan ayam atau daging. Boro-boro daging, telor aja sekarang
jarang," timpal seorang ibu.



"Pemerintah tega banget ya..."



"Kesian juga mahasiswa yang pada demo. Nggak ngaruh. Naik mah tetep naik!" sahut menyahut kembali terdengar.



"Kita aja yang demo!"



"Ah, capek! Mending didengerin!"



Dada saya sesak. Pelupuk mata saya mulai mengembang. Sekuat tenaga saya tahan, tapi setitik turun. Lekas saya hapus.



"Pemerintah bener lho, naiknya BBM untuk mengurangi orang miskin. Kan
orang miskin nggak bisa makan, mati deh. Sakit nggak bisa ke rumah
sakit karena mahal, mati! Berkurang deh, haha!"



Semua tertawa. Tapi getir.



Allah... kepada siapa kami mengadu?

Mana para pemimpin kami?!

Pemimpin yang mestinya menaungi kami.

Memberi kami payung kasihnya, dekap sayangnya.

Hidup semakin keras, semakin susah.

Rakyat saling mengerti, tapi pemimpin kami?

Adakah telinga mereka telah tersumbat rapat?



100 ribu? Buat apa untuk hidup yang berat ini?

Minyak tanah 2500/liter. 100 ribu hanya untuk 40 liter.

Apakah kami harus meminum minyak tanah tersebut?



Allah, rakyat saling mengerti... mana pemimpin kami?!



04.10.05



*tarif terjauh

12 comments:

  1. Tulisannya bikin mata saya merebak mba Dee...speechless..

    ReplyDelete
  2. aduuuh mbak dian.. awalnya aku nyengir liat ilustrasi kucingnya yang lucu itu, tapi setelah baca, netes juga airmataku... duh Indonesiaku...

    ReplyDelete
  3. sigh...kucingnya aja ikutan nangis ya mbak Dee... itu airmatanya sampai dua ember...:)....Iya nih, kok negara OPEC tapi bbm muahal banget, ya? Gak ngerti gimana ngaturnya.

    ReplyDelete
  4. *sakit...sedih...perih...pedih...nyeri...sempit...*

    ReplyDelete
  5. Astaghfirullah......

    Sambil mikir apa ikhtiar yg bisa kita lakukan...
    Yuk sama2 berdoa untuk kaum miskin papa Indonesia...
    atas penederitaan karena Ketidakadilan yang berkedok 'Keadilan'

    Smoga Allah senantiasa menjaga kebeningan hati kita agar tetap dapat dengan mudah 'beresonansi' terhadap kemalangan sesama.....
    Smoga kita tak termasuk insan2 yg dzalim....

    Insya Allah sekecil apapun perjuangan kita tak akan ada yg sia-sia
    Amien...

    NB: saya mohon ijin copy paste tulisannya ya mbak :)

    ReplyDelete
  6. sedih, tanpa daya, kecuali optimisme akan ada satu "keajaiban".

    ReplyDelete
  7. Iya, kucing2 juga sedih, karena harga ikan juga naek :D. Gak ngerti juga ya, Mbak, kalo gak salah saya pernah baca, keberadaan Indonesia di OPEC akan dipertimbangkan karena daya produksinya semakin kecil, padahal ada limit kalo mo tetep jadi anggota OPEC. Trus, dibantah sih ama Indonesia. Wallahu'alam. Katanya beras kita udah impor, kedelai impor (bayangkan, tempe ternyata barang impor!), gula impor, hik!

    ReplyDelete
  8. Ya, betul, Wan. Apa yg bisa kita lakukan, lakukanlah. yang paling lemaaaah banget adalah doa. Tapi setelah iktiarnya dilakukan :).

    ReplyDelete
  9. eh ya, maaf kalo foto kucing-nya mengganggu kesedihan. tapi foto kucingnya cukup merasa kan, ci? ;)

    ReplyDelete
  10. Sepertinya negeri ini memang butuh banyak keajaiban, Mas Tian. Tapi gak tau apakah kejaiban itu mau menghampiri Indonesia. Lho, jadi pesimis? :) Ya, ya, optimis-optimis... optimis agar pemimpin2 yg gak amanah diganti :).

    ReplyDelete
  11. Setuju!
    *bahkan airmataku sudah kering Mba, ihiksssss, aku khawatir hati ini menjadi 'tawar'*

    ReplyDelete
  12. Jangan sampai kering, Ima, karena masih banyak yang perlu ditangisi, ups :). Kemarin (ato 2 hari lalu) di Republika ada foto bapak2 tua (lupa namanya), kalo gak salah seorang pemulung. Dia membagi jatah 300 rb (dana kompensasi BBM itu) dengan beberapa temannya, karena teman2nya yang lain gak dapet. Huhuhu, tambah sedih bacanya. Mana dia difoto di dpn rumahnya yang ampir ambruk. Tapi, dia rela membagi jatah buat teman2nya yang gak dapet kartu kompensasi. Indonesiaku... indonesiaku...

    ReplyDelete