Wednesday, October 19, 2005

Kala Cinta Terurai Jadi Laku

Menarik nih. Thumuhat-nya Ustad Anis Matta di Tarbawi terbaru (edisi
119/17 November 2005). Saya udah pernah baca sih kisah ini beberapa
kali, cuma setiap dibaca, selalu menggugah lagi. Bisakah saya mengikut
jejak sang lelaki bila Allah memberi saya takdir seperti itu? Ataukah
saya harus menyiapkan diri untuk segala keputusan Allah seperti
apapun... Tak hanya berekspetasi pada rasa ideal pada diri manusia yang
sering kali sempit? Ataukah seperti sang perempuan yang juga tanpa reserve mempersembahkan segala yang ia punya?



Maaf ya yang udah baca :). Judul aslinya seh "Kata Terurai Jadi Laku", tapi saya ganti jadi kayak subjek jurnal ini :D.

---------------------------------



KATA TERURAI JADI LAKU



Kulitnya hitam. wajahnya jelek, Usianya tua. Waktu pertama kali masuk
ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah
hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sangupkah ia
menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali apda tekadnya. Ia sudah
memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun risikonya.



Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah
lama kutabung, pakailah untuk mencari wanita idamanmu. Aku hanya
membutuhkan status bahwa aku eprnah menikah dan menajdi seorang istri."



Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."



Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup
mereka. Bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan
dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudia orang-orang
menanyakan rahasia ini padanya.  Lelaki itu menjawab enteng, "Aku
memutuskan  untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang
terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia
lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak merasakan kulit hitam dan wajah
jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang
melupakan aku pada fisik."



Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati... terkembang dalam kata... terurai dalam laku. Kalau
hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya.
Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan
tidak nyata. Kalau cinta sudah terurai dalam laku, cinta itu sempurna
seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata,
buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati,
terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.



Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta
besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datangd ari pribadi yang
kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang
punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang
kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.



Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama
adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta
sejati di sini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan
karena perasaan cinta yang bersemi dalam hati, tapi karena kebaikan
tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki
itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk
mecintainya.Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari
cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban
atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam
masyarakat kita.



Tidak mudah memang menemukan cinta yang seperti ini. Tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafi'i,

Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu

semua kan jadi ringan

dan semua yang ada di atas tanah

Hanyalah tanah jua







9 comments:

  1. subhanallah....
    duh mbak...apa ya yang dilakukan perempuan itu hingga suaminya bisa se'enteng' itu menerimanya?

    ReplyDelete
  2. Aduh..kritis amat sih pertanyaannya. Orang pada kagum ma laki-lakinya, ternyata mba Febi ada pandangan lain. Iya mbak..itu yang musti kita tiru :))

    ReplyDelete
  3. waaah, mbak dian. ini kisahnya kayak kisahku, cuman aku yang jadi suaminya... huehehe. bukannya ge-er, loh, tapi temen2 deketku yang nganggap begitu. gak ngerti kenapa, kok menurut temen2ku suamiku itu beruntung bgt dapet aku, tapi mereka gak ada yang tau, kalo dalam tiap solatku, akulah yang terus2an bersyukur dikasih suami kayak dia... (tapi suamiku gak jelek, loh... cuman item aja, hehehe)

    ReplyDelete
  4. =)) aduh mba uci.. bikin ketawa aja neh..!
    btw itulah dunia... segala sesuatunya diciptakan berpasang2an.
    ada yang putih ada yang hitam...

    (kabuuuuuuuurrrrr.....)

    ReplyDelete
  5. hehehe, iyaa suamiku gak jelek cuman kebetulan item, dan aku juga gak cakep, cuman kebetulan agak putih, hihihi *malu-malu*

    ReplyDelete
  6. Kan ada di tulisannya, Fe... :). "Perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku". Tapii.. itu dilakukan setelah laki-laki itu menerima si perempuan. jadi memang sejak awal si lelaki sudah berusaha ikhlas, dan si perempuan pun membalas. Begitulah cinta, lebih banyak memberi. sang lelaki 'memberi' segala keikhlasan yang ia punya, dan sang perempuan 'memberi' segala kebaikan yang ia punya. Subhanallah....

    ReplyDelete
  7. Hehe, iya nih, Uci luthu banget. Orang hanya bisa melihat kasat mata ya, Ci, tapi Allahlah yang benar2 tau siapa yang terbaik buat kita. Eh, jangan ngomong soal item ah, mbak juga "imut" neh, item multak! Hehe. Tapi mbak gak berharap dapet yg putih kok, yang penting shalih plus (plus kaya, plus ganteng, plus plus... haha, utopia!)

    ReplyDelete
  8. Assalamu'alaikum...

    Mbak Diyan, boleh gak saya link artikel ini ke Multiply saya? Boleh ya.... :-)

    ReplyDelete
  9. Boleh banget, Mbak, silakan... :). Ini tulisan Ustadz Anis di Tarbawi kok, yang saya ketik ulang di sini :D. Salam kenal ya, mbak...

    ReplyDelete