Friday, October 7, 2005

Jilbab Yang Terburai



Saya bertemu gadis
itu dalam sebuah acara, minggu lalu. Saat diperkenalkan oleh tuan
rumah, gadis itu menyebut nama. Cukup familiar. Ketika kami
bersitatap, saya juga merasa sangat
familiar dengan wajahnya. Tapi saya tak yakin apakah benar dia. Gadis
berambut sebahu dengan stelan celana panjang dan kemeja itu hanya
tersenyum. Kemudian acara dimulai, kami pun concern dengan
acara tersebut.





Saat
memasuki acara performance art, tiba-tiba bahu saya disentuh.
Saya menengok. Tersenyum.




“Mbak
Dian pasti lupa sama aku?” sapa gadis itu.




“Ehm,
sebenarnya wajah kamu familiar banget,” saya tersenyum, “tapi
maaaaf banget... saya agak-agak lupa...” sambung saya, menyesal.




Gadis
itu tertawa. “Aku Rina*, Mbak! Adek kelas Mbak waktu kuliah, cuma
beda jurusan.” Kemudian gadis itu menyebut kembali namanya dan
jurusan saat ia kuliah. Ia tiga tahun lebih muda dari saya.




Saya
tersentak. “Rina?! Rina??” seru saya kurang percaya.




“Iya,
Mbak. Aku ngerti sih Mbak nggak ngenalin aku. Aku kan dulu pake
jilbab, Mbak,” sahutnya dengan santai.




Saya
kaget, tapi berusaha mengendalikan diri.




Dia
tertawa. “Kaget ya, Mbak.”




Saya
hanya tersenyum. “Makanya saya nggak ngenalin kamu.”




“Nggak
papa-papa, Mbak.”




Kemudian
kami berbicara aktivitas masing-masing dan sedikit bernostalgia
tentang kampus. Rina pernah menjadi adik mentor saya. Namun hanya
bertahan beberapa bulan. Karena persoalan teknis, Rina harus saya
transfer kepada mentor yang lain. Tak lama saya lulus kuliah, dan
kurang begitu memantau perkembangannya.




Dalam
hati saya berusaha menekan rasa penasaran. Tapi, saya harus tahu,
hati kecil saya berbisik. Tak tahan akhirnya saya bertanya.




“Maaf
banget nih, Rin, boleh tau nggak kenapa kamu nggak pakai jilbab
lagi?”




“Karena
konflik, Mbak,” katanya, masih dengan nada santai.




“Konflik?”
saya agak bingung. “Maksudnya?”




“Yaah,
akhir tahun 90-an kan banyak konflik tuh, Mbak. Ya Ambon, Poso...
Kebanyakan konflik itu membawa-bawa agama, merasa bahwa agama ini
atau itu yang benar. Saya merasa nggak nyaman. Makanya saya buka
jilbab, biar orang nggak menilai saya dari agama tertentu,” jelas
Rina sambil menggerakkan kakinya, mengikuti irama lagu yang sedang
dimainkan seorang musisi.




Saya
tertegun, berusaha mencerna perkataan Rina. Tapi yang keluar dari
mulut saya hanya gumaman 'oo, begitu...'. Rina melepas jilbab sejak 5
tahunan lalu. Lantas obrolan kami terhenti. Seorang pelayan
menawarkan kami mau meminum apa. Saya memilih air putih.




“Nggak
wine, Mbak?” tanya Rina. Di meja memang tersedia beberapa jenis
minuman, dari air putih, soft drink, sampai wine.




Saya
kembali tertegun. Tapi cuma tersenyum.




“Wine
menyehatkan juga lho, Mbak. Aku suka minum wine. Pokoknya asal nggak
sampai mabuk,” Rina berkomentar, kakinya masih bergerak-gerak
mengikuti musik.




“Saya
yakin air putih lebih menyehatkan,” jawab saya, masih tersenyum.




Rina
tertawa. “Sesekali sih nggak apa, Mbak.”




“Nggak
ah, ntar keterusan!” sahut saya tertawa.




Rina
ikut tertawa.




Saya
miris.



Malam
semakin melebarkan jubahnya. Setelah melanjutkan obrolan sebentar,
saya pamit.




Di
taksi, dalam perjalanan pulang, saya tercenung. Adakah konflik agama
benar-benar telah membuat Rina melepas jilbabnya? Saya tak yakin itu.
Pasti ada alasan lain. Tapi, entah. Saya teringat, saat kuliah ada
juga beberapa muslimah yang melepas jilbab. Yang saya tahu sekitar 4
orang. Ada juga beberapa kisah lain yang saya dengar, yang bahkan
lebih ektsrim, ad ayang sampai berbusana buka-bukaan. Astagfirullah,
na'udzubillahi. Ada berbagai alasan, faktor pemikiran, ekonomi, juga
lingkungan.




Entahlah,
saya tak berhak men-judge Rina atau muslimah lain, siapapun (termasuk
saya) bisa saja lalai, lengah, sehingga melepas jilbab.
Na'udzubillaah, semoga Allah selalu melindungi kita. Hidayah
benar-benar milik Allah. Kita harus benar-benar menjaga saat telah
memperolehnya.




Jilbab
bukanlah jaminan bahwa pemakainya pastilah mumpuni, berakhlak baik,
pasti masuk surga. Oh, naif sekali. Tapi, insya Allah dengan jilbab
kita bisa membentengi diri (mestinya), Allah pun menegaskan dalam
Al-Qur'an bahwa dengan jilbab-lah kita dapat menunjukkan identitas
diri. Jilbab adalah bentuk syaja'ah (keberanian) kita sebagai
muslim. Pemakai jilbab bukanlah malaikat, yang tak boleh berbuat
salah. Ia manusia biasa, yang tak luput dari khilaf. Hanya saja,
sejauh mana kita dapat bersadar diri dari khilaf dan salah tersebut.




Saat
pamit, saya hanya berbisik dalam hati pada Rina, agar Allah
memberinya kembali hidayah. Juga buat saya sendiri, dan muslimah
lain, agar kita senantiasa dapat menjaga hidayah yang telah Allah
beri. Apalah arti karir, harta, dan segala macam bila kita
menggadaikan keyakinan, yang telah jelas termaktub dalam Al-Qur'an.





“Ya
muqalibal quluub, tsabit qalbi 'ala diinik...”






*nama
samaran












24 comments:

  1. serem jg yah!
    pernah tuh waktu semester akhir temanku kok tiba2 buka jilbabnya!
    aku rada shock krn dia termasuk org yg agak keras soal agama.

    pas ditanya katanya "dia byk bgt masalah pribadi dan dia bangun pagi ini merasa gerah n ingin membuka jilbabnya"...lbh shock kan!
    emang dia pernah curhat masalah pribadinya, mgk tdk seluruhnya dia sebutkan tp menurutku masalahnya tdk akan selesai dgn dirinya membuka jilbab!

    dia bil "gak tau hanya merasa gerah n ingin buka jilbab"...lbh shock kan!!!

    pdhl dia sdh cukup lama pakai jilbabnya drpd saya. dan saya tdk pernah berpikir dia bisa melakukan hal itu.
    semua image wanita yg tegar n pintar yg melekat ke dirinya spt hilang dgn jilbabnya!
    aneh...aku pun lbh aneh lg!

    emang kita hrs terus update iman kita terus menerus, jgn sampai kita kehilangan akal pikiran kita.
    smua org pasti punya mslh dan kita hrs terus berjuang utk itu!

    ReplyDelete
  2. minta izin buat aku link ya mbak.. thanks

    ReplyDelete
  3. betul banget, mbak...
    semoga adek kita tersayang itu bisa mendapat 'lagi' hidayah Allah... amiin....

    ReplyDelete
  4. Mbak Dee, minta ijin saya share dengan teman ya dimilis imsa sister? Selalu tulisannya penuh hikmah, salam sayang mbak dan Ramadan Mubarak.

    ReplyDelete
  5. Sampai minum wine segala ya, mbak? Apalagi gayanya yang santai gituh, masya Alloh. Ada juga sih, beberapa teman yang lepas, tapi dia biasanya saat ketemu malu atau salah tingkah..Mungkin ujiannya begitu berat ya..Semoga Alloh memberikan hidayah kepada kita semua, Amienn.

    ReplyDelete
  6. Munkinkah karena sejak awal memakai jilbab, alasannya bukanlah karena Allah, tapi "hal lain" diluar itu, yang menyebabkan kasus seperti ini ya mba...?

    ReplyDelete
  7. Munkinkah karena sejak awal memakai jilbab, alasannya bukanlah karena Allah, tapi "hal lain" diluar itu, yang menyebabkan kasus seperti ini ya mba...?

    ReplyDelete
  8. Munkinkah karena sejak awal memakai jilbab, alasannya bukanlah karena Allah, tapi "hal lain" diluar itu, yang menyebabkan kasus seperti ini ya mba...?

    ReplyDelete
  9. Mbak Dee, kebetulan di lokal komuniti saya ada satu sister yang suka memberi halaqah. Isi halaqahnya kadang sampai membuat orang menangis. Dan lalu ada kejadian 911 & suaminya dicari2 pihak berwajib, sampai sekarang belum ketemu. Dia kmd tidak hanya mencopot niqabnya tetapi juga membuka jilbabnya. Akhirnya pindah ke California. Berita terakhir dia mengabari sister disini photo dia & anak2nya berlatar belakang christmast tree. Masih tanpa hijab. Kelihatannya dia shock berat saat menghadapi kejadian itu. Wallahualam. Perasaan saya pas dengernya jadi campur aduk aja.

    ReplyDelete
  10. aduuuh... innalillahi wa inna ilaihi rojiun (eh pantes nggak sih dibilangin gini).... saya suka bingung deh kalau gini, dulu juga pernah ada temen yang gini, saya sampai tertegun2... dianya sampai salah tingkah sendiri....tapi ya gimana, kita nggak bisa apa2... wong kagetnya aja nggak ilang2... ya Allah... tetapkanlah hambaMu ini dalam jalanMu... jadi serem deh

    ReplyDelete
  11. Semoga hati kita dikuatkan oleh Allah untuk selalu menjaga apa yang telah diberikan oleh-Nya.....amiin

    ReplyDelete
  12. Ass.wr.wb. Hai Dian, apa kabar? Selamat menunaikan ibadah puasa. Terima kasih sudah berkunjung ke rumah maya saya. Senang bisa berkenalan dgn Dian. Saya harap suatu saat kita diberi kesempatan untuk bertemu. Insya Allah.
    Saya tertarik sekali dgn postingan Dian tentang pengalaman Dian kali ini. Dan saya juga mengerti dgn posisi Rina. Hm... sulit memang mempertahankan hidayah itu. Butuh perjuangan lahir batin. Mungkin sama dgn berjihad ya... Dan benar sekali kalo kita tidak berhak men-judge apa yg menjadi pilihan Rina. Wallahu'alam bishawab.
    Mohon sambung do'a ya Dian, semoga kita semua terhindar dari perbuatan tercela dan bertentangan dengan ajaran agama. Salam hangat dari stella. LienOtt

    ReplyDelete
  13. Iya, Mbak. Malah sama 'adik' ini, saya yang malu :). Saya sih yakin sebenarnya dari lubuk hatinya yang terdalam dia malu, tapi menutupinya dengan gaya santai. Wallahu'alam ya. semoga Allah membimbing adikku ini kembali pada cahaya hidayah.

    ReplyDelete
  14. Bisa jadi ya, Mbak, "innamal 'amalu binniat" memang yang akan menyetir setiap perbuatan kita ke depan . Tapi saya juga menemukan beberapa kasus, muslimah yang awalnya sangat-sangat teguh dengan jilbabnya, aktif banget dalam kegiatan dakwah, namun di tengah jalan 'futur' juga. Wallahu'alam, kita gak bener2 tau niat seseorang dalam melakukan satu hal ya, Mbak. Allah pembolak-balik hati, usaha kita adalah berdoa dan ikhtiar agar Allah senantiasa menjaga hati kita tetap dalam agama-Nya, dalam perbuatan baik selalu.

    ReplyDelete
  15. Wah, kok hampir sama kisahnya, Soraya? Saya juga punya adik kelas lain yang buka jilbab karena merasa 'panas, gerah, dan katanya ada suara2 yang menyuruh dia buka jilbab'. Beberapa kali dia pernah kayak 'trace' gitu, pingsan trus teriak2 pengen buka jilbab. Akhirnya memang buka :(.
    Iya, betul, kalo kata Raihan: Iman adalah mutiara... tanpamu Iman bagaimanalah... kita harus selalu memperbarui iman kita.

    Oya, sedikit masukan buat teman2, belum lama dapet penjelasan sedikit tentang stress dan depresi. Salah satu tandanya adalah sedih lebih dari 2 minggu (ini sudah masuk depresi minor). So, kalo punya teman yang keliatan gak stabil, sedih terus menerus (karena byk persoalan), mungkin ita bisa lebih 'aware'. Akibatnya bisa macem2 soalnya. Ada yng pengen bunuh diri, bengong gak ngapa2in, sampe buka jilbab.

    ReplyDelete
  16. Bingungnya kita bisa jadi lebih gede dari bingung yang bersangkutan ya, Mbak Ginuk (o ya, salam kenal! dan ukhuwah slalu). Saya juga kadang bingung, tapi biasanya saya berusaha bersikap biasa saja, bukan berarti menyetujui apa yg ia lakukan, tapi plg gak kita tetap berteman, gak menjauh. Kalo menjauh, mereka malah semakin jauh (lah iya :D).

    ReplyDelete
  17. Sedih banget ya Mbak... :(. Apalagi kalau potensinya besar seperti itu. Semoga Allah membawanya kembali, agar potensinya kembali untuk Islam. Amin.

    ReplyDelete
  18. Sudahlah kawan, gak usah musingin orang yang buka jilbab, pake jilbab, jilbab modis, jilbab panjang atau apalah....masing2 punya alasan personal sendiri yang tidak bisa dibanding2kan dengan diri kita atau org lain yang sekiranya sama seperti kita. Menurut saya, sebaiknya kita semua berusaha utk membuat org lain (yg pake, yg lepas, yg tidak pake) utk merasa nyaman dekat kita. Toh, dalam kehidupan ini, banyak nilai2 yang membuat kita dekat....bukan cuma karena tampilan luar...Semoga kita sebagai org islam bisa menunjukkan bahwa islam benar2 rahmatan lil-alamiiin...

    ReplyDelete
  19. Don't judge people too much please, jangan mengasihani orang atas dasar standar hidup kita sendiri. Bisa jadi justru kita yang dikasihani orang. Kalo terus2 an menilai cara orang lain beragama, gimana kita mau saling menghormati dan menyayangi. Yang ada adalah prasangka...rasa benci...gak sepaham, gak sejalan..gak kaffah...PLEASE...PLEASE...PLEASE....banyaklah bergaul dan berbicara dengan banyak orang, agar kita bisa saling memahami dan saling menghormati. AH...INDAHNYA DUNIA KALO ITU TERJADI..

    ReplyDelete
  20. gak usah lah tanya2 alasan ke orang yang lepas, yang belum pake atau yang pakenya lebih modis...Janganlah buat orang jadi risih. Everybody has her own life. Kecuali kalo mbak diminta pendapat. Biarlah Allah yang menilai karena rasa beragama sifatnya sangat personal. Kalau kebaikan hanya ada satu bentuknya, kenapa dunia ini begitu berwarna secara alami? Wallahu A'lam bissowab!

    ReplyDelete
  21. Kalo diminta pendapat juga ya yang objektif, jangan hanya melihat dari kacamata dan pengalaman pribadi.....

    ReplyDelete
  22. Hai Alyshaa, terima kasih ya atas replynya :). Maaf ya baru baca.
    Sebagai manusia saya pasti pernah salah dalam menilai sesuatu. Saya berlindung dan mohon ampun pada Allah bila telah melakukan hal yang tidak nyaman bagi orang lain, termasuk gak nyaman buat Alyshaa mungkin.
    Setiap kita punya hak untuk berpendapat, seperti halnya Alyshaa berpendapat di blog saya ini :). Setiap kita juga bisa gak sependapat, karena itu juga yang membuat dunia berwarna.

    Semoga kita semua banyak belajar dari banyak hal, gak mudah menjudge, gak mudah menuduh, dsb.
    Saya juga berusaha memperluas pergaulan, Alyshaa :). Alhamdulillah dipertemukan dengan Alyshaa. Kita sama2 memperluas pergaulan dan wawasan ya, karena memang sbg manusia kita terbatas sekali. Kadang tanpa sadar kita merasa diri benar, membuat orang lain gak nyaman dengan pendapat kita.

    Insya Allah kita sama-sama mewujudkan Islam yang rahmatan lil 'alamin.

    ReplyDelete