Tuesday, September 20, 2005

Kotak Pandora Lara





Gadis itu cantik, sangat ramah, dan
senang sekali berbicara. Sebut saja Lia. Saya
mengenalnya pertama kali melalu e-mail dan chatting, mungkin satu
setengah tahunan lalu. Ia sering menyapa saya
melalui dunai maya. Dalam sebuah kesempatan kami
pun dapat bertemu muka.





Beberapa kali bertemu,
semakin saya mengenal Lia. Sering kali dia yang mengunjungi saya, dan
hampir tak pernah lupa membawakan penganan favorit saya dari kota
tempatnya bermukim. Tiap kali bertemu, ia selalu membawa banyak
obrolan. Ya, ia sangat senang berceloteh, dengan riang, dengan ramah,
namun dengan suaranya yang lembut.




Hanya saja, entah mengapa,
saya melihat gadis ayu ini menyimpan sesuatu dalam hidupnya.
Keceriaan dan keramahannya menurut saya bukanlah sesuatu yang lahir
dari keaslian karakternya. Bukan prasangka bahwa ia tak tulus, bukan.
Saya sangat merasakan ketulusan tersebut. Hanya, sering kali saya
merasa aneh dengan segala keramahan dan keriangannya. Terlalu
berlebihan.




Hingga satu saat
terbukalah kotak pandora itu. Kisah yang memilukan, kala saya
mendengar langsung dari dirinya. Lara-lara itu bagai berloncatan,
mengempas kiri kanan nurani saya.




Usianya belum lagi baligh
saat ia dan sang ibu mendengar bahwa ayahnya telah menikah lagi,
menikah dengan seorang gadis yang hanya berbeda usia 4 tahun dengan
anak gadisnya, baru lulus SMP. Sedangkan Lia baru kelas 5 SD.
Padahal, sang ayah masih memiliki 2 isteri yang belum dicerai serta 4
orang anak yang tak ia urus. Ayahnya hanya mengirim telegram yang
isinya pemberitahuan bahwa ia telah menikah lagi dan mengancam Lia
dan ibunya agar tak mengganggu dan menunggunya pulang.




Lia kecil pun menjadi anak
yang sering sakit-sakitan dan agak nakal. Ibunya menjadi wanita yang
tanpa senyum pada dirinya. Lia merasa sang ibu lebih menyayangi adik
laki-laki dibanding dirinya. Karena sering kali sakit-sakitan dan
berperilaku nakal, atas saran seorang kerabat, sang ibu membawanya ke
orang pintar. Oleh sang dukun, Lia disuruh untuk ditinggal dengan
alasan pengobatannya memerlukan waktu beberapa hari. Tapi, nasib
tragis yang menjadi trauma hidup Lia bertahun kemudian, menimpanya.
Ia diperkosa oleh dukun yang seusia kakeknya tersebut. Lia tak begitu
mengerti apa yang dilakukan oleh dukun tersebut. Saat bercerita pada
ibunya, sang ibu hanya bilang agar ia tak menceritakan peristiwa itu
pada siapapun.




Waktu berjalan, menginjak
usia remaja hingga SMA, tingkah laku Lia semakin sulit diterka. Ia
sangat sensitif, suka membantah, dna mudah sekali marah. Pernah ia
mengacungkan pisau ke leher adiknya hanya karena masalah kecil. Lia
juga pernah melempar jendela kaca hingga pecah berkeping dan melempar
barang pecah belah milik sang ibu. Ljuga ia sering
membentur-benturkan kepalanya ke tembok.




Sang ibu membawanya ke
dokter saraf, namun setelah diperiksa tidak ada yang bermasalah.
Dokter saraf merujuknya ke psikiater. Di dokter psikiatri, ia diberi
obat anti depresan, dan menganjurkannya untuk langsung ke rumah sakit
jiwa. Lia menolak dan marah, karena ia merasa masih normal. Ia malah
menginginkan menderita tumor otak seperti seorang sahabatnya.




Meski tetap beraktivitas
seperti biasa, berusaha menjalin persahabatan dengan beberapa
temannya, namun Lia tetap merasa asing, dengan dirinya, dengan
kehidupannya, dengan orang-orang sekelilingnya. “Alhamdulillah aku
nggak sampai jatuh untuk menggunakan obat-obatan. Padahal teman-teman
di sekelilingku yang juga bermasalah hampir semua menggunakan. Allah
masih melindungi aku.”




Di satu sisi, sang ibu
menikah lagi, dengan seorang pria beristeri. Menurut Lia, ayah
barunya itu baik, bisa ditebak, karena sang ayah masih memiliki
isteri, mereka menikah di bawah tangan. Lia tidak tahu ibunya
menikah, tiba-tiba saja ia dikenalkan oleh ayah barunya.




Masalah kembali muncul,
ayah kandung Lia ternyata tidak menganggap telah menceraikan ibu Lia.
Waktu sidang perceraian, sang ayah memang tidak hadir, namun suratnya
dikirim ke tempat sang ayah tinggal. Jadilah, sang ayah seringkali
meneror Lia, memarahinya, hingga kini. Membuat Lia serba salah
bersikap antara ibu dan ayahnya.




Entah ada lara apalagi
yang belum saya ketahui tentang Lia. Saya baru mengerti dengan
sesuatu yang tersimpan dibalik sikapnya. Lia hanya berusaha menutupi
lara-lara yang menghampiri hidupnya. Entah apakah kotak pandora
tersebut akan terus melontarkan lara-lara lain. Hanya saja saya kagum
dengan Lia. Lepas dari caranya untuk menutupi lara yang mungkin
terkesan berlebihan, tapi Lia berusaha melepas trauma-trauma
tersebut. Ia berusaha menata hidupnya.




Bila ada teman atau orang
di sekitar kita yang mungkin terlihat 'aneh', bisa jadi ia menyimpan
lara. Seperti Lia. Dan kita bisa belajar dari mereka. Bahwa, mungkin
lara kita tiada artinya dengan lara mereka. Atau, mungkin kita punya
lara yang sama dan bisa belajar dari mereka bagaimana berdamai dengan
lara tersebut.





20.09.05


























No comments:

Post a Comment