Friday, August 19, 2005

Sapa Cinta dari Negeri Sakura

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Abu Aufa
Judul: Sapa Cinta dari Negeri Sakura
Penulis: Abu Aufa (Ferry Hadary)
Penerbit: Pena Pundi Aksara (2005)

Assalamu'alaikum wr. wb.

“Masalah yang paling mudah kita tulis adalah apapun yang kita yakini, kita alami, dan kita rasakan.” [dari Inspiring Words for Writers, Mohammad Fauzil Adhim]

Abu Aufa alias Ferry Hadary seakan berbagi kepada kita apa yang ia rasakan, alami, dan yakini dalam buku terbarunya “Sapa Cinta dari Negeri Sakura”. Cocok sekali judul yang dipilih. Buku ini memang rangkaian sapa Abu Aufa, tak hanya dari negeri sakura, tempat ia bermukim saat ini, tapi dari berbagai sudut kehidupan, terutama dari negeri ini. Tentang ibu, anak, suami, istri, tentang anak jalanan, lajang, hingga tentang kematian dan tsunami.

Tiga puluh empat tulisan inspiratif Abu Aufa mengalir, membawa kita untuk berhenti sejenak, merenung, kemudian berjalan lagi untuk melanjutkan hidup. Sebab seperti Abu Aufa sendiri tuliskan (Patah Hati, hal. 224), the duty is more than time that we have. Maka setiap tulisan pun tidak terlalu panjang, cukup singkat bagi kita membacanya, namun dengan makna yang cukup menyisa saat kita sampai pada titik terakhir. Ia mengingatkan kita untuk menerima apa yang Allah telah anugerahkan (anak cacat), menerima ketentuan Allah atas diri kita (kehilangan orang yang disayangi, belum mendapat pasangan, belum memiliki anak), menghentak kita untuk lebih gigih berdakwah, mengingatkan untuk lebih menyayangi orangtua, juga tak mudah putus asa kala kepahitan menghantam.

Kalimat demi kalimat dalam buku ini mengalun, mengajak kita membuka halaman demi halaman tanpa terasa. Abu Aufa juga membuat kita terharu dengan perenungan yang ia tuliskan. Bunga-bunga kalimat menyelip dalam sebagian tulisan, kadang di beberapa tulisan terlalu banyak bunga sehingga pembaca harus menyibak untuk mencari makna tulisan di antara taburan kata-kata. Kadang kita harus cermat bermain kata, karena terkadang kalimat terlalu berbunga akan membosankan, terutama bila makna yang terkadung di dalamnya tidak kuat.

Ada dua atau tiga tulisan yang dibuat ceria bahkan sedikit funky (Ajari Aku Tuk Jadi Pejantan Tangguh , Duuh, Yon Sama, Patah Hati). Tapi buat saya itu malah mengganggu konsistensi gaya bahasa yang Abu Aufa gunakan yang cenderung lembut dan menggugah. Meski tulisan bergaya funky itu tetap menggugah, tapi karena menyelip di antara puluhan tulisan yang feminin, jadi serasa ditulis orang berbeda. Kata-kata seperti gubrakk, huwaa!, ihiks-ihiks, juga jadi mengganggu. Mungkin maksudnya sebagai penyegar di antara tulisan-tulisan yang lembut itu. Yah, bolehlah, karena kadang saya terkikik geli juga membaca tulisan ceria tersebut.

Singkatnya sebagian dari tulisan-tulisan di buku ini kadang membuat beberapa tulisan jadi kurang mendalam dan kurang fokus pada inti hal yang ingin disampaikan (Bila Airmata Tak Pupus Jua dan Di Persimpangan Jalan Jakarta dan Fukuoka). Mungkin karena judulnya sapa ya, bukan mengobrol... :-).

Tulisan-tulisan tersebut mestinya juga bisa dikelompokkan dalam sub-sub judul, misalnya: Ibu, berisi tulisan mengenai ibu. Itu akan membuat buku lebih terorganisasi dan juga membantu pembaca bila ingin melompat-lompat membaca, sesuai dengan tema yang lebih diinginkan untuk dibaca terlebih dahulu. Tapi, bisa jadi penerbit sengaja membuat tulisan-tulisan disebar.

Lepas dari sedikit kelemahan tersebut, seperti halnya buku lain yang berisi tulisan-tulisan inspiratif, maka ada banyak hal yang bisa kita dapatkan, terutama untaian makna yang memperkaya jiwa.

“Kata-kata tidak bermakna. Manusialah yang memberi makna. Tetapi kata dapat mengubah jiwa manusia. Dan sesungguhnya, pada jiwa yang berubah terletak perubahan yang niscaya bagi dunia dan kehidupan. Karenanya, hidupkanlah jiwamu setiap kali mengalirkan kata sehingga tiap goresan pena akan memiliki ruh.” [juga dari Inspiring Words for Writers, Mohammad Fauzil Adhim]

Wassalamu'alaikum, wr. wb.
Dee

7 comments:

  1. Mbak Dee, Alhamdulillah saya dapat bukunya kiriman Pak Adi Susmono. Bagus banget ceritanya dan membuat terharu saya. Suami yang jarang banget baca novel gitu, jadi seneng begitu baca bukunya Abu Aufa.

    Kapan ya mbak Dee saya bisa nulis kayak Abu Aufa gitu? Hiks... hiks... yang ini iri tanda tak mampu hehe...

    ReplyDelete
  2. Mbak Evi pasti bisa!! Mulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan Mbak Evi, pasti deh ada banyak makna yang bisa disingkap dari pengalaman sehari2 yang bergulir, terus tuliskan Mbak, jadi deh :). Hayoo, Mbak!! *tim kompor neh! :D*

    ReplyDelete
  3. Thanks resensiannya Mba...
    Jadi tahu lebih banyak ttg buku ini...
    (Yang lagi nunggu berita dari Abu Aufa, kalo-kalo bukunya sudah datang lagi ke Jepang...hiks)

    ReplyDelete
  4. Lho, emangnya belum balik ya, Mbak? saya pikir udah lama baliknya... sabar ya Mbak :). Eh, itu foto putri Mbak ya? Cantik.. :)

    ReplyDelete
  5. Belum..rencananya awal Okober...
    Putri? yang headshot kemaren? Iya. Arigatou. Doain ya, supaya cantik hatinya... dan hebat seperti Tante Dee

    ReplyDelete
  6. Saya jadi tertarik kepada Inspiring Words for Writers. Terima kasih ya.

    ReplyDelete
  7. iya, bukunya sederhana, pak ferry, tapi emang inspiring... coba aja cari di toko buku, pak :)

    ReplyDelete