Monday, August 15, 2005

Melangkahi-Dilangkahi...?!



Menarik nih membaca
tulisan Fe dan Mbak Mamiek di Multiply mengenai “Melangkahi dan
Dilangkahi”. Apalagi baca pengalaman Mbak Mamiek, subhanallah,
ternyata dua kali dilangkahi ya, Mbak. Alhamdulillah, balasan Allah
atas kesabaran Mbak sudah diberikan ya.




“Melangkahi...
dilangkahi... fitrah manusia....”




Ini sih plesetan nasyidnya
The Fikr :-D.




Alhamdulillah, Sabtu 6
Agustus lalu, adik perempuan saya menikah. Dia adik tepat di bawah
saya. Akad nikah dan walimah alhamdulillah berjalan lancar. Kebetulan
adik saya maunya diadakan di rumah saja, jadilah dari pagi sampai jam
9 malam, tamu tak henti datang. Lumayan, nggak tidur semalaman sehari
sebelum acara dan sudah kayak setrikaan pas acara bolak-balik
membantu. Rasanya ketika acara selesai, napas kelegaan serasa
menghembus keras. Sampai-sampai, malam setelah acara saya tertidur
lengkap dengan kebaya karena sudah begitu 'tewas' sampai nggak sempat
ganti baju, hihi. Baru lewat tengah malam terbangun, bersih-bersih
seadanya dan ganti baju ;-). Rumah pun sudah kayak bunker, hehe.




Kebetulan, seminggu
menjelang hari H, saya tak bisa membantu banyak karena saya ada acara
Pertemuan Perempuan Teater, jadilah pada hari H, saya benar-benar
kudu total gubrak-gubrak. Sebenarnya sebelum-sebelumnya juga nggak
terlalu banyak membantu seeh, hehe, soalnya Mama saya emang perkasa
banget sih! Semua diurusin. Dan sepertinya keluarga juga mengerti
kalau saya emang ATM (Akhwat Terbang Malam), hehe. Alhamdulillah bisa
ke-handle.




Kembali ke soal melangkahi
dan dilangkah, ehm, tapi saya kok lebih sreg memakai istilah
“Mendahului dan Didahului” (MD) ya. Lebih 'manis' dibanding
istilah “Melangkahi dan Dilangkahi”. Duilee, kata Shakespeare:
'what is in a name' :-). Sama aja ya padahal. Saya didahului oleh
adik perempuan saya itu, namanya Elty. Bagaimana perasaan saya?




Sebenarnya ketika usia
saya semakin bertambah, dan pasangan dari Allah belum kunjung
dikaruniakan pada saya, saya sudah mempersilakan kepada adik-adik
saya untuk mendahului bila memang sudah siap. So, ketika Mama
mengutarakan pada saya bahwa adik saya Elty mau menikah, saya pun
alhamdulillah (kata apalagi yang lebih indah selain kata ini?).
Lagipula, adik saya juga sudah berusia 28 tahun (tepat 10 Agustus
kemarin). Usia yang buat ukuran normal juga sudah sangat lebih dari
cukup buat menikah.




Malah saya lebih kaget
saat abang saya menikah 8 tahun lalu, karena awalnya saya pikir saya
duluan yang akan menikah, hehe. Abang saya menikah di usia 23 tahun.
Beda usia dengan saya hanya 1 ½ tahun. Dan sejak kecil selalu
saya dikira anak pertama karena dianggap lebih dewasa, ehem. Makanya
saya pun sempat berpikir: Kayaknya gue nih yang bakal duluan.
Ternyata: Kesiaaaan deh lu, salah lagee! :D. Itulah kekuasaan Allah.
Manusia hanya mengira, berencana, mau begini-begitu, berusaha, tapi
kalau urusannya sudah jodoh-rizki-maut, Allah-lah pemegang hak
prerogatif.




Perasaan saya, jujur saja,
biasa saja. Walllahu'alam, mungkin
karena saya memang sudah mempersiapkan diri bahwa sepertinya saya
akan didahuli. Saya juga sudah terbiasa melihat sahabat, teman, dan
saudara saya yang didahuli oleh adiknya, bahkan sampai ada yang
beberapa kali. Ada saudara saya yang usianya sudah menjelang 40,
sudah didahului hampir semua adiknya, ada juga teman yang usianya
menjelang 35, didahului juga didahuli beberapa adiknya, dan masih
banyak lagi. Jujur, banyak, sehingga saya tak begitu ingat. Saya
banyak belajar dari mereka.




Saya melihat saat ini
masyarakat sudah semakin biasa melihat adik mendahului kakaknya.
Kurang tahu juga apakah karena saya tinggal di kota Jakarta yang
sudah semakin terbuka (nggak semua sih?) Atau apakah karena di
lingkungan saya sudah cukup banyak yang didahului adiknya sehingga
masyarakat pun semakin mafhum? Wah, kalau mau tahu data valid harus
diteliti nih :-). Atau mungkin juga karena saya (dan lajang lain yang
didahului adik) yang santai dan nggak peduli omongan orang, sehingga
menganggap 'angin lalu' omongan-omongan yang tak perlu ditanggapi?
Mungkin. Yang jelas, saya melihat masyarakat sudah semakin menerima,
nggak banyak gunjingan (keduali saya nggak denger :D). Saya malah
sering mendengar nada positif dari orang di sekeliling saya seperti:
Jodoh nggak akan kemana, Insya Allah menyusul, Orang sabar disayang
Allah, dst. Bukti bahwa masyarakat sudah nggak begitu nyinyir lagi.
Kalaupun nyinyir bisik-bisik kali ya, jadi nggak kedengeran, hehe.




Oh ya, saat acara resepsi,
seingat saya hanya 2-3 orang yang bertanya kapan saya menyusul.
Kerabat dekat—yang kumpul tiga hari di rumah-- (ada kali 30 orang!)
juga nggak ada tuh yang bertanya-tanya. Makanya kesimpulan
(sementara) saya, masyarakat sudah semakin menerima. Mudah-mudahan
semakin baik lagi dan nggak hanya di lingkungan saya.




Lantas, masak sih nggak
ada perasaan sedih? Tentu saja, secara manusiawi ada, tapi perasaan
sedih tersebut bukan karena didahului, tapi lebih kepada kecemasan
apakah saya bisa istiqamah dengan lajang-nya diri saya? Maksudnya,
untuk terus memberdayakan diri, bersyukur atas kehidupan yang ada,
memberi manfaat pada banyak orang. Sebagai wanita normal, tentu saya
berpacu dengan waktu biologis. Cita-cita saya misalnya ingin
dikelilingi banyak anak, tentu ini harus dipikir ulang karena wanita
harus memperhatikan kesehatannya bila melahirkan di atas usia 40.
Makanya cita-cita saya yang lain punya anak kembar, dua kali aja gitu
melahirkan tapi kembar tiga, kan jadi enam tuh, haha! Jadi, ketika
beberapa waktu menjelang pernikahan adik saya agak 'melow', bukanlah
karena didahului, tapi lebih kepada pemikiran di atas. Dan itu wajar
menurut saya, nggak usah didahului pun, pemikiran tersebut
kadang-kadang muncul bagi seorang lajang 30-an. Natural, sangat natural.



Soal pandangan masyarakat
mah ngutip Mbak Mamiek: so
what gitu lho! :).



Eh ya,
gimana soal pelangkah? Alhamdulillah saya juga bukan berasal dari
suku yang suka mempersoalkan hal ini. Saya benar-benar nggak peduli,
malah saya dan keluarga berusaha membantu adik agar bisa
menyelenggarakan acara pernikahan dengan baik namun nggak berlebihan.
So, surprise juga dua hari sebelum acara pernikahan adik dan calon
suaminya memberi saya sebuah handphone! Saya sempat tanya: ini
maksudnya pelangkah atau hadiah? Kalau pelangkah saya nggak mau
menerima, kalau hadiah boleh juga, huehehe. Mungkin melihat saya
sering meminjam hape-nya, adik pun tergerak memberi sang kakak
hadiah. Kali ini saya berdoa: Semoga hape hadiah kali ini awet, soale
dua hape hadiah dari sahabat sebelumnya rusak padahal baru dipakai
beberapa bulan. Ngomong-ngomong, saya kok nggak modal ya beli hape
sendiri??! haha, itulah asyiknya punya sahabat dan adik yang baik,
kekekeke....




23 comments:

  1. Selamat untuk adiknya ya Mbak Dee!
    Selamat juga buat Mbak Dee yang punya ipar baru...hehehe...

    ReplyDelete
  2. duuuuh baiknya ya mbak dee...senengnya adek yang punya kakak kayak mbak :)
    btw, mungkin seperti yg mbak bilang, krn mbak tinggal di kota besar jadi masyarakat udah lebih mafhum utk urusan MD, ya?
    mungkin yang masih 'nyinyir' ttg urusan MD ini masyarakat diluar kota kali yee? padahal ga punya data valid ttg ini siiiy ...he he

    Luv u mbak, maap yee, sering ngerepotin mbak :">

    ReplyDelete
  3. topik yang satu ini benar2 seru kalo dibicarakan :))

    Mbak Dee baik banget, sama kayak mbak Mamik :)

    tetapi sedikit sekali lho mbak yang begitu bijaknya menghadapi hal ini seperti mbak berdua. Nah masalahnya kalo sang kakak gak mau alias kesel kalo didahului gimana ? terus terang kalo saya di posisi adik jadi bingung untuk mengambil langkah terbaik dan dapat menyenangkan dua belah pihak

    ReplyDelete
  4. Memang gak mudah ya, Mbak, soalnya ini udah kembali ke pribadi/karakter orang dan skapnya terhadap suatu hal. Bicarakan baik-baik, dengan bahasa yang baik, hati ke hati. kalau sang kakak masih keukeuh ya tetap saja jalani. Luka akan sembuh bersama waktu, ini kata peribahasa :). Yang jelas, jangan menjudge kakak: kamu sih pilih2 jadi gak nikah2 deh, begini-begitu, dsb. Sedih sebagai kakak jadi dobel lho, pertama: mau dilangkahi, kedua: disakiti hatinya. Tetaplah bersikap santun dan berdoa semoga Allah membuka hatinya. Kalo bisa calon suami sang adik juga bicara dengan sang kakak. Emang mau nikah ya? InsyaAllah saya doain kakak mba siti legowo :-)

    ReplyDelete
  5. Gak jamin juga sih di luar kota aja yang masih nyinyir, bisa jadi orang kota, yang berpendidikan belum mafhum :), ada faktor karakter dan pemahaman seseorang/masyarakat di sini. Tapi, saya kok melihat peran sang kakak juga cukup besar untuk memafhumkan masyarakat. Kalau setiap kakak yangd ilangkah adik santai aja, tetap positif melihat hal tsb, bahwa jodoh hak prerogatif ALlah semata, dapat memperlihatkan sikap positif tsb pada keluarga dan masyarakat (tentu gak kamuflase, trus di kamar nangis mulu hehe), maka sikap masyarakat juga akan terbentuk. Wallahu'alam ya, ini salah satu faktor saja.

    ReplyDelete
  6. Makasih banyak, Mbak Mamiek. enaknya ada ipar cowok, bisa bantu angkat2 barang, hehehe. Kruang enaknya, saya jadi kudu pake jilbab terus kalo ada beliau. Untungnya saya pulang biasanya malam, jadi sampe rumah tidur, haha! Kebetulan kamar saya di atas, adik dan suaminya di bawah, jadi masih agak luanglah.. ;)

    ReplyDelete
  7. ha ha ha.....dah nebak bakalan pertanyaan ini yang diajukan :D
    belum mbak, ntar woro-woro deh kalo dah mau.

    saat ini saya tidak berada pada posisi si kakak dan si adik, hanya seorang teman dekat berada pada posisi tersebut. semoga apapun keputusan teman tersayang saya ini adalah yang terbaik untuk semua pihak .... amiiiin

    ReplyDelete
  8. Wahh... mbak Dee.....
    terharu deh saya bacanya ..hiks!

    saya kayaknya udah diuber2 aja ama keluarga nih.... apalagi melihat gelagat saya mau nerusin sekolah lagi :p
    mereka dah wanti2...pokoknya lulus s2 nikah aja dulu..ntar klo nerusin sekolah lagi malah kelupaan nikahnya :)
    hihihi... jadi, mau gimana doong... maksain nikahpun, lha wong yang diajak nikah belom ada :p kekekeekk

    ReplyDelete
  9. He-eh tin, ini yang sering jadi pikiran juga.
    *sambil mikir siapa aja yang udah nguber-nguber*
    perlu trik apa ya untuk meyakinkan keluarga dan orang-orang di sekitar kita bahwa satu saat pasti deh giliran kita akan tiba waktunya, the right man in the right time?

    ReplyDelete
  10. Wah, Titin, mau mbak cariin?? :D Banyak sih sebenernya ikhwan, tapi kayaknya pada blm siap nikah kali yee, hehe, jadi pada ngeles (jangan tersinggung ya mas-mas... :). Soal meyakinkan keluarga memang perlu trik tersendiri, tin. Kalo yang saya lakukan sih bersikap tenang, meyakinkan ortu kalau jodoh di tangan Allah, tapi kita tetep usaha nyari. Kalo kita tenang insyaAllah ortu ikutan tenang. nah, kalo kita tenang ortu tetep gak tenang, gimana? Ya tenang2in ortu, hihi. Eh, tapi kalo emang ada yang mau dan Titin udah siap, yah nikah aja tin, hehe, abis nikah lanjutin sekolah lagi.

    Jadi inget nih sama sahabat yang ingin meneruskan kuliah di luar, tapi keluarganya ingin dia nikah dulu. Dia sendiri usaha nyari, saya ikutan bantu nyari ;), ada sih dapet, tapi pas ditanya2 info yang didapet tuh ikhwan lagi proses, cari lagi deh yang lain, ternyata belum ada. Akhirnya sahabat saya itu berusaha meyakinkan ortu bahwa jodoh benar2 di tangan Allah, dan lanjut sekolah bukan berarti jadi 'susah dpt jodoh' , ia pun ebrangkat melanjutkan kuliah. Setelah setahunan kuliah, alhamdulillah tuh prince charming nongol juga. Dan percaya atau tidak, pria itu adalah pria yang pertama itu, yang katanya lagi proses dengan muslimah lain. Tapi setelah nikah sahabat nanya: pernah taaruf gak? sang suami jawab: saya cuma proses sekali2nya ama kamu. Lho, jadi?? Hehe, yah begitulah, kalau emang ketentuan Allah udah turun apapun akan terjadi, kalau Allah belum mengetuk palu, ya gak akan terjadi. Yang pasti, kita terus ikhtiar, soal hasil serahin ke Allah.

    Nah Titin, hayoo cari juga, bareng ama mbak, hehe.
    Btw, kok saya pengen banget ya ktemu Titin? kamu anaknya ngangeni gituh ;).

    ReplyDelete
  11. Perlu trik 'tak kenal lelah' sepertinya, 'tak kenal lelah meyakinkan keluarga' hehe. Saya mungkin gak bisa jawab dengan meyakinkan, karena belum ada 'bukti', maksudnya kalo saya udah nikah kan ada bukti: meski nunggu lama, tapi akhirnya jodoh pun datang :). Nah, mungkin Mbak mamiek yang udah punya pengalaman lebih nih, menunggu dan akhirnya sang pangeran pun datang... ;). Ayo mbak, bagi2 ama kite.. ;)

    ReplyDelete
  12. Hehehe...kok jadi nunjuk saya. Itu mah asli karena kebaikan Allah sama saya. Memang repot yah ngasih pengertian ke orang sekitar, apalagi ortu. Untungnya mereka melihat sendiri saya juga usaha. Jatuh bangun saya jalanin. Dikenalkan sama siapa aja saya turutin. Jadi mereka mengerti bahwa saya tidak bersantai-santai. Bahkan mereka melihat sendiri saya "babak-belur" beberapa kali ditinggal nikah sama doi...hehehe...
    Mbak Titin...jalani saja kalau mau sekolah. Soalnya, biarpun nongkrong di rumah, kalau jodoh belum datang ya nggak akan terjadi apa-apa. Jodoh pun belum tentu dapatnya di Indonesia, atau orang Indonesia. Coba kayak saya ini. Siapa sangka jodoh saya ada di seberang lautan?

    ReplyDelete
  13. Waktu dulu ibu saya berdoa, supaya jodoh saya bukan 'orang seberang' (maksudnya luar Jawa), katanya supaya gak dibawa pergi jauh. Akhirnya pas saya menikah sama orang yg rumahnya cuma 30 menit dari rumah, beliau senang sekali. Gak tahunya....dibawa bukan cuma ke seberang lautan tapi ke ujung dunia...:) Lama pula! Mungkin kalau berdoa harus lengkap, ya!

    ReplyDelete
  14. Mbak Dee, ikuti aja resepnya mbak Mamiek. InsyaAllah manjur.

    Juga tenang aja mbak, single fighter malahan lebih 'menyenangkan' deh kayaknya, kita punya waktu buat sekolah, buat berkarya dll (woaaa ini sih kalau dibandingin married person males kayak saya ya hehe...).

    Tapi bener mbak, bagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan ber MP hehe... lebih berat buat orang yang udah menikah. Tapi mungkin teori saya salah kali ya hehe... Yang lain boleh protes. Maaf ini nulis pake MP nya suami, soalnya ternyata masih sign in. Salam, Evi.

    ReplyDelete
  15. Sebagian besar ummahat biasanya nasihatnya sama dengan Mbak Vanda :D. Intinya: manfaatkanlah waktu sebaik2nya saat lajang, kalau sudah menikah gak bisa ini-itu, dsb. Kalo dibilang menyenangkan, dalam satu sisi mungkin ada benarnya, Mbak, tapi dari sisi lain, yah ada gak enaknya juga ;), ini berkaitan dengan keinginan manusia normal dan perintah Rasul, menikah. Wajar saya pikir. Kalo mo lebih menyenangkan lagi sih masa kecil ya, Mbak, kayaknya hidup kita asyik2 aja gitu :D.
    Mungkin ini jadi masukan buat kita semua; lajang maupun double (atau triple, hihi) untuk memanfaatkan sebaik2nya waktu kita dalam apapun kondisi kita dan peran kita (ibu, istri, anak/lajang, dsb). Karena hidup adalah proses, dari kita bayi, remaja, dewasa, tua, dan kelak nanti kita semua akan mati. Sebagai wanita kita pun berproses, dari menjadi anak ortu kita, kemudian diamanahkan pada suami, lantas mendapat amanah dari anak, dst. Saya (dan teman2 lain) yang masih lajang mestinya mengambil hikmah dan pelajaran dari rekan2 yang sudah menikah :). Karena menjadi ibu memang pekerjaan yang tidak mudah, dan harus selalu belajar, bukan begitu, Mbak?
    Dan begitu juga setiap diri, harus selalu mengambil hikmah dari kehidupan orang lain.
    Bila kehidupan yang kita alami kurang normal (maksudnya: belum menikah sampai usia senja, menikah tapi tidak punya anak, dsb), pastilah ada rahasia dari Allah buat kita.
    Lho kok jadi panjang?? hehe, bablas.. ;)

    ReplyDelete
  16. Yap! Ini juga inti dari cerita sahabat yang saya ceritain ke Titin. Nyari2 ampe 'botak sariawan' (istilahnya Mbak Helvy neh) di Indonesia, ternyata dapetnya di luar negeri sono :D. Jadi Titin, sekolahlah... siapa tahu Allah mempertemukan Titin dengan jodoh di sekolah. Bis sekolah yang kutunggu-tunggu kutunggu uuu... tiada yang datang! hehe, jadi nyanyi! ;). Eh tambahan, niatnya bukan nyari jodoh lho, tapi kayak Ustad Yusuf Supendi bilang: sambil menanam padi dapet belut, gituhh...;) (ini ngigetin saya juga, maklum soal niat emang harus slalu diluruskan.. :)

    ReplyDelete
  17. Nah ini, jadi inget ama dosen di ma'had dulu. Beliau juga bilang kalo doa kudu lengkap, contoh becandaannya nih: jangan cuma minta dipertemukan tapi jelas, saya mau nikah sama si itu. Soalnya Ustadz cerita (kisah nyata) ada muslimah yang berdoa: Ya Allah pertemukanlah aku dengan dia.
    Ceritanya si muslimah pengen nikah sama seorang pria. Bener sih, ama Allah dikabulin doanya, dia bertemu dengan si pria, tapi si prianya ngasi undangan buat si muslimah, undangan nikah ama muslimah laen, gubrakk, hehe.
    Mestinya si muslimah berdoa: Ya Allah eprtemukanlah aku dengan si fulan dalam ikatan pernikahan.
    Gitu kali ya, hehehe.

    ReplyDelete
  18. Iya Mba' Jodoh emang di tangan Allah. Jadi inget, beberapa hari yang lalu ada kerabat (yang emang sudah sangat cukup umur) nikah sama sesorang hanya karena calon istrinya itu ngga mau didahului oleh ade'nya. Mereka baru kenal beberapa lama. Di foto pernikahan ngga ada senyum sedikit pun, yang ada cuma cemberut, kan aneh harusnya itu hari yang paling bahagia untuk mereka.

    ReplyDelete
  19. hehhehehe kudu lengkap...kap...kap....:-)
    kalua gitu nambah doanya mbak. semoga fulan yang jadi calon suami nanti mendapat restu dari ortu. soalnya ini juga masalah sensitif. calon mempelai sudah sreg dan mau langsung 'berangkat' eh ortu merasa gak sreg sama calon. berabe juga ya kalu gini. apalagi alasannya bukan syar'i. hehehee berjuang lagi deh. tapi emang urusan jodoh. benar-benar rahasia Allah. seorang teman yg menikah diusia menginjak 40 menasehati saya. kita bakal ketemu orang yang tepat. di waktu yang tepat dan tempat yang tepat, serta cara yang juga sangat tepat. gak meleset sama sekali. karena semuanya sudah diatur oleh Allah. santai aja. dijalanin aja. iya sih :-) sambil cengar cengir. semoga istiqomah

    ReplyDelete
  20. Beruntung ya mbak, orang tuanya ga maksa mbak nikah duluan. Adik temen kantor saya batal nikah meluly karna orang tuanya tidak mengijinkah sang adik mendahului kk-nya, padahal kk-nya belum dikaruniai jodoh oleh Allah dan kk-nya ga keberatan didahului :(

    ReplyDelete
  21. Aku belum mo nikah dulu.. Secara masih 25 gito loh.. Masih banyak yang mo dilakukan as an individu. Nanti kalo udah nikah, nyesel lagi...hehe :p

    ReplyDelete