Wednesday, July 6, 2005

Yes, You Can Do It!


 


“Everybody needs somebody in their life to say: Yes, you can do it!”


 


Kemarin saya baru membeli The Australian Women’s Weekly edisi Februari 2005. Majalah lama ya? Hehe, saya memang suka nunggu beberapa bulan biar harganya turun. Di toko Gunung Agung, majalah luar yang sudah kadaluarsa, biasanya dipotong harganya. Lumayan kan dari Rp60.000 jadi Rp15.000 :D.


 


Weekly edisi tersebut mengangkat kisah Oprah Winfrey (OW). Ia juga menjadi model di sampul majalah tersebut. Nah, pasti sudah tahu dong siapa Oprah Winfrey ini? Ya, salah satu orang terkaya di dunia yang terkenal dengan acara talkshownya “Oprah Winfrey Show”, atau kini direvisi lebih singkat menjadi “Oprah” saja.


 


Saya sendiri suka sekali dengan acara talkshownya, meski sebalnya di Indonesia disiarkan setiap Jum’at, Sabtu, dan Ahad jam 10.00 WIB (di Metro TV). Bukan sebal karena apa, tapi karena jam segitu kan jam kerja. Sabtu-Ahad meski libur kerja, tapi jam segitu biasanya saya ada kegiatan. Jadilah, saya jarang menonton. Makanya kalau pas ada di rumah dimanfaatin banget. Sering kali airmata menetes menyimak talkshow yang Oprah pandu.


 


Saya baru tahu lebih banyak tentang Oprah dari artikel majalah tersebut. Banyak hal yang menginspirasi saya. Ya, kita memang bisa belajar banyak dari pengalaman hidup orang lain. Yang baik diteladani, yang tidak baik dibuang :). Cukup banyak pula tokoh-tokoh seperti Oprah, yang berangkat dari ketiadaan, masa kecil yang kurang bahagia, hidup miskin, kurang kasih sayang orangtua, dan sebagainya. Kemudian perlahan mereka berusaha, berjuang, terus berjuang, hingga menjadi sosok yang eksis. Eksis, baik secara materi, kepopuleran, dan hal lainnya. Meski materi dan kepopuleran itu sendiri tidaklah eksis :).


 


Oprah sendiri lahir 29 Januari 1954 (seusia dengan mama saya :D) di Kosciusko, Mississippi, negara bagian paling miskin di AS. Sebenarnya nama Oprah adalah ‘Orpah’ (saudara ipar Ruth dalam bible), hanya saja karena kesalahan penulisan di akte membuat namanya menjadi Oprah. Ayahnya, Vernon, seorang tentara yang tidak tahu bahwa ia memiliki anak sampai sang ibu mengatakan kepadanya. Vernita tidak dapat mengasuh Oprah. Ia pindah ke Milwaukee, Wisconsin, untuk bekerja. Jadilah Oprah diasuh oleh sang nenek di rumah miskin mereka.


 


“I remember standing on the back porch and my grandmother was boiling clothes in a great big iron pot. I was watching her and I remember thinking, my life won’t be like this. My life will be better.”


 


Ya, Oprah bisa membuktikan tekadnya. Hidupnya tidak seperti sang nenek. Ia hidup lebih baik, bahkan jauh lebih baik. Meski memiliki sisi gelap kehidupan, ia dapat bangkit. Usia 6 tahun ia pindah ke Milwaukee untuk tinggal bersama sang ibu, dan dua saudara tirinya. Usia 9 tahun ia diperkosa oleh saudara sepupunya. 20 tahun ia simpan rapi rahasia tersebut. Yang lebih buruk, ia juga mengalami kekerasan seksual dari teman keluarganya dan pamannya sendiri. Peristiwa tersebut membuat perilaku Oprah jadi tak terkendali.


 


Usia 14 tahun ia hamil dan melahirkan bayi laki-laki prematur, yang hanya hidup selama 2 minggu. Syukurnya, sang ayah menyelamatkannya dari trauma peristiwa tersebut. Sang ayah membawanya ke Nashville dan mengasuhnya. Ia menjadi pelajar yang sangat antusias, bergabung dengan klub drama dan memenangkan beasiswa atas pidatonya “The Negro, the Constitution and the United States”.


 


Saat di high school, Oprah mengikuti kontes Miss Fire Prevention. Ia hanya satu-satunya gadis berkulit hitam dari peserta lain yang semuanya berkulit putih. Dan… Oprah memenangkan kontes tersebut! Saat mengambil hadiah atas kemenangannya di sebuah stasiun radio, Oprah ditawarkan untuk mencoba menjadi penyiar. Sejak itulah Oprah mulai menapaki karier di dunia broadcast. Ia menjadi orang kulit hitam pertama yang menjadi newscaster di Nashville. Saat itu usianya 19 tahun.


 


Tahun 1983, Oprah mendapat tawaran untuk membawakan acara yang menjadi cikal bakal Oprah Winfrey Show. Saat berbicara dengan manajer acara tersebut, Dennis Swanson, Oprah sempat nervous dan ragu.


 


“You know I’m black and that’s not going to change, right?” Oprah berkata kepada Dennis.


“Yes. I’m looking at you.”


“I have a weight problem I’ve been fighting all my life.” Saat itu berat badan Oprah 108 kg.


“So have I,” kata Dennis yang kemudian mengaku hanya khawatir satu hal,


“I’m only worried how you’ll handle being famous.”


 


Debut Oprah di Chicago sangat sukses, dan acara tersebut menjadi “Oprah Winfrey Show”. Tahun 1986 acara tersebut memperoleh pemasukan 163 juta dollar, dan Oprah pun dapat memiliki sendiri acaranya tersebut.


 


“When my lawyer first came to me and said, ‘You can own show’, it literally took the ceiling off my brain because I had never even thought that high before. I never even thought that was possible. Everybody needs somebody in their life to say, ‘Yes, you can do it!’”.


 


Oprah juga mengakui bahwa salah satu perjuangan terbesarnya dalam hidup adalah menyadari bahwa dirinya sama dengan orang lain dan tidak merasa jumawa.


 


“I’m as worthy as the next guy. And I think the moment you start thinking that you are better than somebody else, you’ve lost sight of who you are. Because the truth of the matter I, we are all the same. And I know that, I really know that. And I think people sense that.”


 


Ya, inilah yang sangat menginspirasi saya. “Everybody needs somebody in their life to say: Yes, you can do it!”. Banyak orang yang berhasil dalam hidup karena ada seorang atau beberapa orang yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu, memberi keyakinan bahwa: “Kamu bisa!”, dan ketika berhasil melakukannya, mereka juga berkata: “Tuh, kamu bisa!”. Sebaliknya begitu banyak juga orang yang patah di tengah jalan karena orang-orang yang meremehkannya. Memang, ini kembali pada pribadi masing-masing sejauh mana menyikapi motivasi atau ‘peremehan’ tersebut. Tapi, motivasi memang salah satu kekuatan tersendiri buat setiap orang, membantunya mewujudkan sesuatu. Ya, karena kita memang tak dapat hidup tanpa orang lain. Dan hidup kita semakin hidup ketika orang-orang di sekeliling kita memberi keyakinan, ‘You can do it!’.


 


Saya jadi ingat beberapa pengalaman. Ketika dipilih memerankan salah satu tokoh utama dalam pementasan besar Teater Bening di TIM, saya tidak yakin bisa memerankan tokoh tersebut, saya ragu untuk menerimanya. Tapi Mbak Helvy (sutradara pementasan tersebut) dan Mbak Asma (yang juga berperan sebagai salah satu tokoh utama) meyakinkan saya: “Dian, kamu bisa! Kamu pasti bisa! Coba saja dulu!”. Alhamdulillah, saya bisa memerankan tokoh tersebut meski saya merasa masih ada kekurangan di sana-sini.


 


Begitu juga ketika saya diajak bergabung di majalah Annida. Saat itu saya benar-benar ragu, tidak yakin, karena saya tidak punya background penulisan yang baik. Tulisan saya cuma sekali dimuat di Annida. Menurut saya masih ada orang yang lebih baik untuk menjadi redaktur di Annida. Tapi Mbak Helvy meyakinkan bahwa saya pasti bisa. Sebab, salah satu alasannya mereka bukan sekadar mencari orang yang bisa menulis, namun yang bisa bekerja sama (padahal soal ini saya nggak yakin juga, hehe, nggak ding!). Pertama kali masuk saya juga langsung ‘diceburin’ untuk menulis di rubrik Bianglala. O-ow! Lagi-lagi saya tak yakin, tapi lagi-lagi Mbak Helvy meyakinkan, begitu juga kru Annida yang lain. Alhamdulillah, sampai kini, saya masih terus menulis di rubrik Bianglala.


 


Saat sebuah cerbung di Annida habis ditayangkan, Mbak Dian Yasmin juga menantang saya buat bikin cerbung. Sekali lagi, saya nggak yakin, tapi beliau meyakinkan: “Kamu bisa deh!”. Saya pun tandem dengan Mbak Afi menulis cerbung, yang kini sudah diterbitkan dalam bentuk novel “Sejuta Cinta di Sydney”, novel perdana saya :-).


 


Dan… ada banyak pengalaman lain, ketika saya dikuatkan oleh orang lain, teman, sahabat, orangtua, untuk melakukan sesuatu. Pasti kita juga masih ingat ketika kecil dulu, saat belajar berjalan, naik sepeda, dan lain-lain, kita diberi motivasi orangtua, “Ayo, Nak, kamu bisa, kamu pasti bisa!”


 


Ya, sampai kapanpun kita memang akan selalu membutuhkan seseorang yang menguatkan kita.


 


Namun yang lebih dari itu, kita juga harus menjadi orang yang dapat menguatkan orang lain. Memberi keyakinan pada orang lain, pada saudara, adik, kakak, teman, sahabat, bahwa mereka dapat melakukan sesuatu, mewujudkan impiannya. Dengan ‘hanya’ berkata,”You can do it!”. Mungkin kita tidak membantu secara langsung, tapi telah memberi semangat, keyakinan, bahwa ia bisa melakukannya.


 


Saya berharap dapat menjadi teman, sahabat, kakak, ibu, istri, saudara, yang akan selalu menguatkan, memberi keyakinan kepada orang di sekeliling saya, untuk melakukan kebaikan, mewujudkan impian, dengan berkata, “Yes, you can do it!”


 


06.07.05, 18.10.


 


 


 

18 comments:

  1. mbak dee….samaaa saya jg penggemar berat acara Oprah…walo jrng nonton jadwalnya sering bentrok,tp sedihnya pas hr minggu kmrn saya kaget pas Oprah Menayangkan tayangan seorang anak Iraq berusia 14 thn yg menyebutkan “I hate my father coz he’s a mujahidin”itu yg diterjemahkan penterjemahnya, jd si bocah itu melaporkan tempat persembunyian bapaknya dgn para mujahidin lainnya,apapun latar belakangnya si bocah itu membenci ayahnya, saya yakin ada konspirasi politik didlmnya, tentara Amerika disitu digambarkan pelindung bocah itu,tlalu panjang klo saya tulis disini,yg pasti saya sediiiih,meleleh airmata ini, ingin protes ke Oprah knp acara bagusnya di tunggangi dgn hal2 ini??

    ReplyDelete
  2. wah makasih mba rahma;)

    saya jg fav oprah, selalu nongrokin di Metro tiap sabtu-minggu.
    setiap shownya jg selalu meaningful n membuka pikiran setiap org.
    dia selalu dibil "Oprah is Sensational"

    iya yah mba emang hrs ada org yg semangatin kita n jg kl kita nurutin ... hehehehehhe

    ReplyDelete
  3. sebenernya tanpa ditunggangi pun, subjektif pasti ada, din. dan meski banyak rakyat amerika gak setuju dengan kebijakan presidennya 'menyerang' irak, tetep ada sebagian yang setuju kan? yah, gak nuduh oprah setuju sih, tapi pastilah paradigma mereka dengan kita beda, din :). Lepas dari itu sih, ada banyak hal positif yang bisa saya dapat dari acara ini :). Kan hikmah itu milik setiap muslim. ya gak? ;)

    ReplyDelete
  4. sama-sama, mbak soraya... :). iya, kalo disemangatin doang kitenye kagak jalan, ya tetep jalan di tempat, hehe. eh, wajahnya mbak kok familiar banget ya?? pernah ktemu kayaknya ya? minimal waktu di lauhl mahfudz dulu, hehe.

    ReplyDelete
  5. setuju banget mbak !!! Berasa beda banget, jika kita "jalan" berdua atau bertiga atau berempat dibanding dengan "jalan" sendiri ;)

    indahnya sebuah ukuwah..;) Terutama jika kita bisa menjadikan sahabat-sahabat menjadi seperti saudara meskipun gak ada keterikatan darah.. :) mereka akan ngerti kita, menyemangati di kala lagi down, dan ngomong "yes, you can do it" waktu kita lagi buntu :D

    Meskipun pada akhirnya nanti, tetep kita sendiri yang akan menapaki jalan itu ;) but i luv u all :*

    ReplyDelete
  6. moso sih? aduuuhhh capek dibilangin muka pasaran nih!
    lauhl mahfudz apaan tuh???
    aku cm pernah ikut organisasi anak mesjid (julukan disana) pas dikampus dl, tp gak terlalu aktif.

    ReplyDelete
  7. iya tuh mba dini...aku juga ntn.
    berasa ngimana gitu, kok penuh dgn muatan politik gitu sih!
    aku rasa sebel jg kok oprah kyk gitu sih!
    tp yah itu hak mereka liat dr versi mana.
    kl kita liat dr versi warga Iraq itu adalah pengkhianatan.

    tp yah mo diapain lg itu kan kesuksesan negara mereka yg sangat mereka banggakan!

    ReplyDelete
  8. Saya juga salut pada Oprah dan orang-orang sukses yang membangun dunianya berdarah-darah. Itulah mungkin sunnatullah. Barang siapa yang berjuang keras, dia akan mencapai tujuan. kalau kata orang pesantren mah man jadda wa jada. Tapi, bila kita lihat sekeliling kita, kita banyak melihat mereka yang menyerah pada kehidupannya. Contohnya, banyak pemuda yang seperti putus asa dengan mengungkapkan wacana ancaman di bus-bus untuk para penumpang. Tentu saja agar penumpang memberi mereka imbalan. Ancamannya adalah berhubungan dengan kriminalitas karena tak kunjung bekerja. Menurut saya justru ini masalah mental. Terbayang kalau mereka mengalami hidup seperti Oprah. Mungkin mereka sudah bunuh diri. dan memang banyak yang bunuh diri karena hal itu. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di negara "maju" sekalipun.
    Saya pernah menonton film indie barat tentang prilaku bunuh diri ini. Judulnya Suicide. Pokoknya, film tsb sadis karena merekam langsung orang yang bunuh diri. Mulai yang bunuh diri dengan pil, menembak diri, melempar diri, menabrakan diri, dan membiarkan diri teracuni gas di mobilnya sendiri. Itu semua terjadi di barat sana. Menurut saya Oprah adalah satu dari sekian juta orang yang berhasil menangani dirinya sendiri. Jiwa kuat Oprah lah yang membuat dia bangkit. Jiwa kuat itu bisa dihasilkan dari penemuan terhadap diri sendiri. Karena itu Allah menyiratkan tentang Barang Siapa yang mengenal Dirinya sendiri Maka Akan menganal Tuhannya (KU).
    Mengenal pribadi seseorang dan perjuangannya memang sangat diperlukan oleh siapa saja, tentu saja untuk aksi pencerminan dan transfer aura perjuangan. Untuk ini, Anis Matta, menuliskannya dalam seri Kepahlawanan. Pada dasarnya diri kita adalah pahlawan bagi ruang masing-masing.

    ReplyDelete
  9. hehehe, keciaan deh. asik lagi wajah pasaran, kalo dituduh teroris, bisa nuduh orang lain yg wajahnya sama, hihi kidding!.
    maksudnya lauhl mahfudz, kan dulu (duluuuuu banget) sebelum manusia dilahirkan, Allah mengumpulkan semua ruh manusia yang (akan) hidup di dunia. ada di alqur'an, tapi saya lupa ayatnya. Nah, saya pernah dengar dari teman, kalo kita baru pertama kali kenal orang tapi serasa udah pernah ketemu, kemungkinan kita pernah bertemu waktu di di lauhl mahfudz. untuk lebih shohih nanya ama ustadz kali ya tentang ini, hehe.

    ReplyDelete
  10. wahh, kang irfan!! udah 'keep in touch' neh ama multiply, hehe. makasih kang 'tambahan bergizi'nya soal 'mengenali diri maka mengenal Tuhannya'. Isam telah mengajarkan ribuan tahun lalu, sedangkan psikologi dengan 'konsep diri'nya baru ratusan atau mungkin puluhan tahun lalu :).

    ReplyDelete
  11. wowww... so thougtful mbak dee...!!!
    aku di jepang nggak pernah mengikuti Oprah show.. :((
    nggak tahu, ada nggak ya?
    tapi emang dasarnya titin jarang nonton tv sih...

    ReplyDelete
  12. Dee, saya menerjemahkannya sedikit beda lho. Ini versi saya, berdasar sedikit campuran catatan dari Mas Hernowo.
    Jika kita ingin menjadi sesuatu (cita-cita tertentu), maka sebaiknya kita memiliki sosok tertentu untuk kita tiru langkahnya. Seseorang yang inspiratif. Keberhasilannya.
    Kalau mau sholeh, beriman, bertaqwa, tentu saja kita panut ke Rasulullah.
    Tapi untuk jadi pengarang, saya telisik benar jalurnya Enid Blyton, dan beberapa pengarang yang saya anggap berjasil (khususnya penulis cerita anak).
    Dalam sebuah episodenya ... Oprah mengaku mendapat inspirasi menjadi seorang pembawa acara/host karena menyaksikan kehebatan seorang pembawa acara bernama Martha Stewart. Oprah mengakui, dalam awal karirnya ia banyak meniru Martha, baik gesture maupun pilihan kata. Sampai akhirnya ia menemukan ciri sendiri.
    Dalam dunia penulis, kita sering melihat pengarang muda yang:
    Ke'Seno-seno'an, Ke'Helvy-helvy'an ... sayangnya kita langsung membunuh karir pengarang itu dengan cap menjiplak, tidak orisinil.
    Padahal, sebagai suatu proses ada baiknya kita bantu.
    Di AFI, Indonesian Idol , dll ... kita masih menemukan penyanyi baru yang ke "KD-KD" an, ke "Reza-Reza"an ....
    Artinya ....
    Mbak Dee kalo jadi Redaktur jangan galak-galak ya sama penulis muda ... :P

    ReplyDelete
  13. eh, masak sih tin?? coba puter2 lagi salurannya, hehehe. kayaknya sih ada tin... kalo gak ada, ya naziibbb... :D

    ReplyDelete
  14. Hehe, gak apa, Mas, dengan banyak terjemahan kan wawasan kita juga bertambah. Betul yang Mas Benny bilang, bukankah proses hidup kita memang banyak 'meniru' orang lain? Waktu belajar bicara, kita niruin ortu atau orang sekitar kita, gitu juga belajar yang lain.
    Makasih diingetin soal 'jangan galak2', Mas :D. Saya gak galak kok, cuma paling suka nguap baca naskah setinggi setengah meter tapi gak ada yang okeh, hehe.
    Annida pokoknya mah selalu berusaha melahirkan penulis muda, dan bantuin moles gituh :).

    ReplyDelete
  15. Iya mbak Dee, saya juga fans nya Oprah:) Juga jarang nonton, karena disini diputar di NBC tiap sore jam 4 weekdays, lha jam segitu sama masih kerja juga.

    ReplyDelete
  16. ...iya bener mbak dee ...makasi....,ada banyak hikmah disemua sisi kehidupan ya mbak, walopun dijalanan sekalipun, sekolah kehidupan, asalkan kita bisa memfilternya ya mbak...,saya emang fans berat acara Oprah yg inspiring bgt...,ambil segi positifnya ya mbak..:)
    sering2 posting yg inspiring dan touching jg ya mbak...
    btw, bagi2 juga dong ilmunya di jurnalistik...;)

    ReplyDelete
  17. Gmn ya mbak untuk tetap memotivasi diri???

    ReplyDelete