Friday, July 1, 2005

Jendela Cinta

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Antologi FLP untuk Aceh

“Sesungguhnya Aceh selalu mencintai Jakarta. Sebagaimana kecintaan Fatahillah yang datang dan membebaskan Jakarta dari penjajah. Aceh akan selalu mencintai Jakarta, dan jembatan cinta itu adalah Islam.”

Ruang yang sebelumnya cukup sumringah, kali ini senyap. Semua menunduk, airmata tak tertahan menetes. Sang penutur pun tersenggal bahkan ketika baru memulai berbicara.

“Kejadian tsunami bagi kami, rakyat Aceh, sebagai pengingat. Semoga kami dan kita semua akan selalu mengingat…”

Kemudian terdiam…

“Saya masih ingat, sebelum tsunami saya menderita sakit malaria, dua minggu saya dirawat di rumah sakit. Suatu malam, kedua anak kembar saya, Jihad dan Imad, yang baru berusia 2 ½ tahun berkata kepada saya: ‘Abi, kami ingin shalat tahajud, mau mendoakan agar Abi sembuh’. Mereka pun mengambil sajadah dan shalat tahajud. Saya tak kuasa menahan haru. Beberapa hari kemudian saya harus rela melepas kedua anak kembar saya itu, mereka termasuk yang wafat dalam peristiwa tsunami, juga istri saya tercinta, Diana Roswita. Doa anak kembar saya terkabul, saya disembuhkan Allah dari penyakit, namun saya harus rela melepas syahidnya keluarga saya. Saya ridha. Saya hanya berdoa semoga Allah menikahkan saya kembali dengan istri saya di surga nanti.”

“Terima kasih sebesar-besarnya saya sampaikan kepada teman-teman semua, yang telah membantu dengan apa yang bisa, khususnya teman-teman FLP dengan antologi cerpen untuk Aceh ini.”

Laki-laki itu terisak. Airmata semakin menderas pada orang-orang yang mendengar penuturannya. Lelaki itu, Zulfadhli M. Juned, suami Diana Roswita, pendiri dan pegiat FLP Aceh yang syahid pada kejadian tsunami Desember lalu. Zulfahdli berkemsepatan hadir dalam launching yang cukup ramai dihadiri pengunjung.

Rasanya saya beruntung sekali bisa hadir pada launching Antologi Aceh ‘Jendela Cinta’ dan Antologi Milad ‘Ketia Cinta Menemukanmu’ yang diterbitkan Gema Insani Press, Sabtu, 25 Juni lalu di Pesta Buku Jakarta.

Antologi ‘Jendela Cinta’ (JC), merupakan salah satu bentuk kepeduliaan FLP terhadap Aceh. Jendela Cinta adalah satu dari lima antologi yang berhasil diterbitkan Forum Lingkar Pena bekerja sama dengan beberapa penerbit. Selain JC, antologi-antologi tersebut adalah: Addicted 2 U (LPPH), Menyisir Rindu (Cakrawala), Perempuan Bermata Lembut (FBA Press), dan Surat Buat Abang (Senayan Abadi).

Begitulah FLP. Mengutip Ketua Umumnya, Irfan, dalam launching tersebut, menulis bagi teman-teman FLP bukan sekadar kreativitas, tapi juga dengan nurani. Begitu pula cerpen-cerpen yang ada di antologi JC. Ada banyak sentuhan nurani dalam buku ini. Memang cerpen-cerpen di dalamnya tak semua bercerita tentang Aceh. Buku ini menghimpun kisah-kisah kehidupan, terutama kisah kehidupan rumah tangga.

Puisi “Acehku Dukaku” dari Faiz membuka ketukan nurani dalam buku ini, setelah pengantar dari Fauzil Adhim yang juga mengetuk-ngetuk nurani. Kemudian mengalirlah kisah-kisah, dari soal kecemburuan (Dia!, Asma Nadia), kesetiaan (Jendela Cinta, Fahri Asiza), sampai tentang kesigapan untuk membantu orang lain tanpa banyak berpikir (Lelaki Tua dan Proposal, Dian Yasmina). Kemudian Sakti Wibowo yang tertutur tentang “Tumis dan Sayur Asem”, Naqiyyah Syam (Telah berlalu), Arul Khan (Lukisan), sin Soekarsono (Tangkai Terakhir), Gola Gong (Surat Wasiat), Pipiet Senja (Malam Biru), Leyla Imtichanah (Bulan Mengapung), M. Muttaqwiati (Beribu Kafan), sinta Yudisia (Bidadari Kecilku), dan Haekal Siregar (Terapung). Ya, ada banyak nurani di sini.

Saya tertegun, terpana, bahkan menangis membaca cerpen-cerpen dalam buku ini. Tapi apapun, hanya satu tujuan persembahan, Aceh tercinta.

Tak hendak berhiperbola, namun buku ini sangat layak untuk dikoleksi. Bintang lima bukanlah saya maksudkan semata untuk kualitas sastra atau entah apalah, yang kadang saya sendiri pun tak mengerti. Namun bintang lima sebagai cinta untuk Aceh, ketika menjelma dalam genggaman jari, doa di lisan dan hati, serta goresan pena.

“Doakan Aceh selalu,” kata Zulfadhli, saat saya menghampirinya untuk berbincang sejenak ba’da acara.

Salam,
Dee

*Baarakallahu buat Zulfadhli untuk 23 Juli-nya.


1 comment:

  1. Doa untuk Aceh juga selalu dari kami yang jauh...dari lubuk hati.
    Thanks for sharing ya Dee

    ReplyDelete