Friday, July 15, 2005

GIE

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Other

Seorang sahabat ultah, pas dengan pemutaran perdana film “Gie”, 14 Juli kemarin. Pas juga saya diajak buat nonton tuh film :). Padahal pengennya sih nonton War of the World-nya Dakota Fanning (nggak nyebut Tom Cruise ya, karena saya emang nge-fans berat sama Fanning bukan Cruise :p). Tapi karena teman yang lain rata-rata idealis-sejarahis-kontemporeris (haha, peace, friends!), ya ikut nontonlah, gratis seeeh ;).

Saya emang nggak terlalu penasaran juga untuk nonton nih film. Nggak tau ya, mungkin karena pemeran Gie-nya Nicholas Saputra, hehehe. Tapi saya emang pengen tau juga gimana Riri Riza dan Mira Lesmana mengangkat kisah Soe Hok Gie. Saya udah pernah baca ‘catatan hariannya’ Gie, kalo nggak salah awal SMA gitu. Dapet di penjual buku bekas, tapi tuh buku sekarang entah di mana. Dan cukup surprise juga ketika denger Riri dan Mira mo memfilmkan kisah Gie yang diangkat dari “Catatan Harian Seorang Demonstran”. Jarang-jarang gitu film tentang perjuangan heroik seseorang diangkat.

Tadinya saya pikir film berdurasi hampir 2 ½ jam itu akan cenderung membosankan. Eh, ternyata saya cukup menikmatinya. Padahal sebelum nonton saya nguantuk banget, pas nonton sama sekali nggak, eh abis nonton nguantuk lagi, hehe.

Sinematografinya bagus. Rasanya tangan dingin Riri Riza sebagai sutradara memang berperan besar membuat film ini cukup asyik dinikmati. Visualisasi adegan tidaklah verbal ditampilkan, jadilah . Meski editingnya di beberapa scene terlihat kruang halus. Yah, dari awalnya 4 jam, dibabat menjadi 2 ½ jam saja.

Akting Nicholas juga lumayan, meski terlalu ganteng :D. Pemilihan Nicholas sebagai Gie sempat dipertanyakan banyak orang juga. Menurut saya sih, oke-oke saja, apalagi kalo ternyata aktingnya lumayan, kenapa nggak? Akting Sita (trio RSD yang dah bubar itu) sebagai sahabat Gie (pacar?) yah biasa sehh, kurang greget. Tapi, katanya kan Sita baru pertama kali tuh akting film lebar (kalo gak salah), jadi lumayan juga-lah. Akting Robby Tumewu juga bagus, berperan sebagai ayah Gie, yang seakan hidup apatis . Kayaknya seingat saya, Robby cuma berdialog satu kali menjelang film berakhir. Jadi sepanjang film, Robby cuma mengandalkan akting mimik dan gesture tubuh, dan cukup berhasil.

Setting film ini juga digarap cukup serius. Hasilnya juga lumayan oke, beraa banget tahun 60-annya. Yah lumayan soale dana yang dihabiskan 7 milyar. Meski keliatan ‘tempelan’nya di beberapa scene. Contohnya, kayak plang toko, keliatan barunya banget gituh, karena bikinan :), padahal mestinya bisa dibikin agak ‘buluk’ sedikit.

Nonton film ini saya serasa napak tilas senior saya (duilee, beda 30 taun lebih gituw lhoh, jauh banget hehe). Apalagi pas adegan pemilihan (kampanye) ketua senat. Aduh, jadi inget banget ingar-bingarnya sastra kalo lagi ada gawean itu. Memang, jamannya beda, tapi pertarungan antara kiri-kanan, plus yang di tengah-tengah, nggak beda deh. Di situ digambarkan, Gie yang nggak mau pro sana-sini akhirnya mendorong Herman, sahabatnya, untuk jadi calon ketua senat, dari unsur Mapala. Herman akhirnya terpilih. Walau di kemudian hari buat Gie perjuangan tersebut nggak sepenuhnya berhasil, dan dengan sinis Gie berkata: “Politik itu tai kucing!”

Ah. Mengutip Pak Dahana, konsep Gie mengenai peran mahasiswa seperti film koboi. Koboi turun ketika kondisi kacau, setelah aman, koboi kembali pergi. Mungkin itulah mengapa gunung menjadi ‘tempat kembali’ Gie, bahkan benar-benar menjadi ‘tempat kembali sesungguhnya’, karena Gie tewas di Semeru karena menhirup gas beracun.

Begitu juga mengenai keberpihakan. Gie ingin ‘netral’ karena dia melihat kelompok-kelompok mahasiswa (baik yang agamis maupun tidak) sudah ditunggangi dengan kepentingan-kepentingan atau menjadi underbouw. Tapi itulah, buat saya, hidup ini memang harus memihak. Harus jelas. Kanan, kanan sekalian, kiri-kiri sekalian, nyebur? Ya itu pilihan :). Gie pun akhirnya memihak dengan ‘ketakberpihakannya’ itu.

Yah, semoga semakin banyak film-film yang mengangkat heroisme. Kita punya banyak banget bahan baku. Tapi memang membuat film apalagi yang bersumber sejarah, bukan hal yang mudah juga murah. Riri dan Mira saja menghabiskan 4 tahun untuk riset film ini.

Saya kebayang aja kalo Riri, mira, dkk, mengangkat juga kisah Mohammad Natsir atau yang lainnya, yang meski tidak mati muda, tapi usianya benar-benar sangat bermanfaat untuk bangsa. Wah, utopis kali yee… :D

Gituh aja review dari saya. Bukan pengamat film, bukan kritikus film (jauhhh bangeth!), cuma cerita abis nonton alakadarnya aja eh ala Dee.. ;)

*tengkyu buat yoelie ‘traktiran’nya ;)


3 comments:

  1. mau dong, nonton juga!!!kapan y bisa nonton ni film?
    salam kenal y???aku juga suka dgn ni film!!!lho..padahal blm nonton!!:)

    ReplyDelete
  2. salam kenal juga mbak sikrit (secret?? :). baru diputar kok di snema2, mbak. kalo gak nanti tunggu aja VCD/DVDnya kelaur, tapi pasti masih lama.. :)

    ReplyDelete
  3. Udah nontn mbak. Keren. Riza suka "ketidakberpihakan" itu

    ReplyDelete