Thursday, July 7, 2005

Belajar dari Diana


 


“Setelah menikah Diana biasanya menulis di  kertas dengan pulpen. Kertas tersebut dilipat dua, kemudian dia menuangkan ide-idenya sambil mengasuh dua anak kembar kami. Setelah itu baru disalin di komputer.”


 


Baru saja saya dan kru Nida kedatangan tamu. Zulfadhli M. Juned, suami Diana Roswita, penulis yang kerap menulis di Annida dan salah satu pendiri serta pegiat FLP Aceh. Diana syahid saat peristiwa tsunami meluluhlantakan Nanggroe Aceh Darussalam.


 


Ba’da zhuhur telepon berdering, dari resepsionis mengabarkan bahwa saya ada tamu. Saya tanya siapa, resepsionis menjawab: “Dari suami Diana Roswita”. Saya langsung terlonjak dan bergegas turun ke bawah untuk menemui. Kaget juga senang. Kaget karena saya tak menyangka Zul menyempatkan datang ke Annida. Saat pertama kali bertemu di launching Antologi Cerpen “Jendela Cinta” di Pesta Buku Jakarta akhir Juni lalu, Zul memang berkata ingin silaturahim ke Annida sebelum kembali ke Aceh pada tanggal 4 Juli. Karena sudah lewat 4 Juli saya pikir tak jadi, ternyata tiba-tiba sudah sampai di Annida :). Zul ternyata tidak mendapatkan tiket ke Aceh, peak session membuat Zul harus menunda kepulangannya selama seminggu. Alhamdulillah, niat awal silaturahim dengan Annida pun bisa terwujud.


 


Selalu ada cerita menarik dari pria sederhana ini. Salah satunya adalah kalimat pembuka tulisan saya di atas. Ternyata Diana memang selalu menulis tangan hampir semua karya-karyanya. Apalagi ketika telah berumah tangga, Diana mensiasati waktu, dengan menulis sambil mengasuh anak. Bukan mengetik di komputer sambil digelayuti anak, atau menulis ketika anak-anak tertidur, tapi di setiap sela waktu ia menulis langsung di kertas sambil beraktifitas.


 


Ah, mungkin ada banyak orang yang seperti Diana, atau mungkin lebih (keras) usahanya dari Diana untuk menulis, tapi kisah Zul membuat saya tersentak kembali. Saya menajdi kerdil, karena saya terlalu tergantung dengan komputer. Kalau tak langsung di depan komputer, susah sekali ide mengalir. Di depan komputer saja ide tak mengalir :-).


 


Saya juga jadi ingat Melvi dan Yeni (Afifah Afra), sedikit dari penulis FLP yang saya ketahui punya kebiasaan sama. Saat mengirim cerbung Anugerah Terindah untuk Annida via saya (waktu itu Melvi belum menjadi redaktur Annida) ia bercerita bahwa cerbung sepanjang lebih dari 150 halaman itu ia tulis tangan di sebuah buku tulis! Setelah rampung baru ia ketik di komputer, dan baru dikirim ke Annida. Begitu juga Yeni, rasanya sampai sekarang anak manis satu nan cool satu ini masih suka menulis tangan deh sebelum disalin ke komputer :). Ingat, menulis di kertas atau buku tulis bukan sekadar ide atau garis besar lho, tapi beneran naskah keseluruhan! Dan saya yakin masih banyak teman-teman yang memiliki kebiasaan seperi itu.


 


Oh ya, kembali ke Zul, dia juga bercerita mengenai beberapa calon buku yang terendam atau terbawa air saat tsunami. Salah satunya adalah naskah buku Kado Pernikahan yang ia tulis berdua dengan sang istri. “Naskah itu adalah kisah-kisah (seperti Chicken Soup) mengenai pernikahan kami dan bagaimana kami memandang sebuah pernikahan. Sudah rampung, tinggal dikirim ke penerbit, namun tsunami menerjang. Naskah itu terbawa air.” Sekali lagi karena mereka menulis tangan.


 


Duh, saya terenyuh sekali. Karena saya yakin tulisan itu pastilah menarik. Dari mendengar tuturannya saja, saya sudah bisa menduga betapa pasangan suami istri muda itu adalah pasangan yang benar-benar berusaha mewujudkan ‘samara’ dalam kehidupan pernikahan mereka, meski baru berbilang tahun, dan harus terpisah jasad.


 


Ada juga naskah pribad Zul yang terendam, namun bisa diselamatkan, hanya saja ia harus menuliskannya kembali. “Diana-lah yang mendorong saya untuk mempublikasikan tulisan, dan sejak menikah saya semakin semangat menulis. Awalnya saya tak mau mempublikasikan  karena saya hanya mau tulisan saya untuk mendulang pahala, bukan untuk tujuan ekonomis. Namun Diana menyadarkan saya, bahwa di luar sana begitu banyak tulisan yang merusak, menyesatkan, bahkan berusaha menghancurkan umat. Kita dituntut untuk berkontribusi.”


 


Tak heran, saat honor tulisan Zul yang dimuat di Annida tak kunjung masuk, karena salah rekening, Zul tenang-tenang saja.


 


Sayang, sore menjelang. Zul harus pamit. Semoga kita berjumpa lagi, Zul!


 


*tepat Maghrib, 07.07.05


 


Keterangan foto 1: Zul kedua dari kanan (ki-ka: Dee, Mala, Iyus, Zul, Zahri)


Foto 2: Diana Roswita beserta 2 putra kembarnya. Mereka bertiga tewas saat tsunami.


 


 


 


 

6 comments:

  1. Mbak Dee, ya Allah... bacanya bikin airmata ini mengalir. Jzk sudah menuangkannya lewat jurnal di MP.

    ReplyDelete
  2. Pengin comment karena cerita Mbak Dee menarik, tapi kok speechless yah...saya cuman memandangi wajah mbak Diana dan dua putranya.
    Iya...saya selalu beralasan enggak sempat nulis karena tidak sempat duduk di depan komputer (aslinya sih...nggak tahu apa yang mesti ditulis :(...).

    ReplyDelete
  3. Sama2 Mbak Evi sayang... :). Semalam Zul mengirim sms tentang Diana, gak usah aku tulis, nanti mba evi tambah berlinang arimata ;).

    ReplyDelete
  4. Cerita-cerita seperti ini yang bikin aku suka "malas" ngelirik MP, karena pasti speechless dan bakalan airmata rasanya mau tumpah ruah.
    Jzk yah Dee..
    Sama dengan Diana, aku juga suka menulis tangan, kebanyakan di buku catatan yang isinya macam2, cuma bedanya gak pernah ditulis lagi di komputer :))

    ReplyDelete