Thursday, June 16, 2005

Mengenang Alm KH Rahmat Abdullah

Ini bukan tulisan saya. Tapi saya senang dengan tulisan ini. Ditulis Pak Sapto, dan dimuat di milist JMP (Jaringan Media Profetik). Hal yang membuat saya tercenung adalah, Ustadz Rahmat hanya lulusan Aliyah (setingkat SMA)! Masya Allah, subhanallah. Tapi pemikiran beliau layaknya lulusan master, doktor, bahkan profesor. Saat negeri ini dipenuhi sarjana, master, doktor, profesor berpikiran dan bermental anak SMA, SMP bahkan SD (ups, ini bukan generalisasi ya :), kepergian Ust Rahmat memang sebuah kehilangan yang sangat.


Salam,


Dee


------------------------------------------------------


Mengenang Alm. K.H. Rahmat Abdullah
“SYAIKH AT TARBIYAH” BAGI KAUM MUDA

Oleh:
SAPTO WALUYO
(Presidium Gerakan Rakyat Antikorupsi Indonesia)

Langit di Ibukota hari itu, Rabu (15/6), seperti tak
bisa menahan kesedihannya. Hujan deras mengucur bak
mengiringi pemakaman seorang tokoh nasional. Rahmat
Abdullah sebenarnya “kiai dari kampung Betawi” biasa,
tapi pengaruhnya sungguh luar biasa. Namanya tidak
cukup populer di media massa, sebab ketokohannya bukan
virtual. Ketokohan yang kongkrit terlihat dari puluhan
ribu kaum muda yang mengantarkan kepergiannya.

Ustaz Rahmat, begitu ia kerap dipanggil
murid-muridnya, pernah digelari “Syaikh at Tarbiyah”
(Sang Guru) oleh sebuah majalah nasional di tahun
2001. Itulah momen peringatan “20 Tahun Gerakan
Tarbiyah di Indonesia” yang telah melahirkan komunitas
unik: Partai Keadilan – dan akhirnya menjadi Partai
Keadilan Sejahtera. Selain tetap setia menjadi guru
mengaji, Ustaz Rahmat kini menjadi anggota DPR dari
Fraksi PK Sejahtera.

Karir politiknya benar-benar tak lazim. Sebagai murid
langsung allahuyarham K.H. Abdullah Syafi’i (pendiri
Pondok Pesantren Asy Syafi’iyah di Jakarta), ia tak
pernah membayangkan akan terjun ke dunia politik.
Waktunya habis untuk mengaji kitab kuning, sambil
mengikuti perkembangan pemikiran kontemporer. Dialah
salah satu model kiai yang mampu mengawinkan khazanah
pemikiran Islam klasik dengan pelbagai wacana
pemikiran dan gerakan modern.

Bagi Ustaz Rahmat sudah menjadi menu utama mengkaji
ulang kitab Tafsir Ibnu Katsir atau Jalalain. Tetapi,
tanpa sungkan ia sering mempertajam tinjauan klasik
itu dengan kitab Fi Zhilal al Qur’an dari Sayid Qutb
atau Turjuman al Qur’an dari Abul A’la al Maududi.
Sesekali saya pernah mendengar ia menyitir tafsir
Thabathabai dari kalangan Syiah atau “The Meaning of
the Holy Qur’an” dari Abdullah Yusuf Ali.

Sebagai mantan mahasiswa sosial-politik saya agak
kesulitan mengakses buku-buku klasik berbahasa Arab.
Namun, saya belajar banyak dari Ustaz Rahmat yang
hanya lulusan Madrasah Aliyah itu untuk rajin membaca
karya lintas disiplin. Saya terpana ketika ia mampu
mengkritik habis “Das Kapital” Karl Marx dengan
kerangka sejarah yang cukup kuat seperti Ali Syariati
atau Murtadla Mutahhari. Sayang sekali, buah
pemikirannya baru sebatas kuliah atau ceramah, belum
sempat dibakukan dan dibukukan. Padahal, bila saya
renungkan lebih dalam, banyak pemikirannya yang
sejalan dengan pandangan “The Third Way” dari Anthony
Giddens atau Alija Izetbegovic (Islam between East and
West).

Mungkin terlalu muluk untuk mengharapkan figur alim
yang bersahaja seperti dirinya agar menulis buku.
Sebab, dalam hampir semua ceramahnya yang pernah saya
ikuti, ia lebih lebih kerap menyulut kepekaan nurani,
walau tak mengabaikan ketajaman rasio. Mengikuti jejak
gurunya, ia mengembangkan majelis taklim dan memimpin
Islamic Center Iqro di Pondok Gede, serta mengisi
rutin kuliah dhuha dan renungan malam di sebuah radio
lokal di kawasan Bekasi yang padat penduduknya.

Para jamaah anggota majelisnya tak pernah kehilangan
waktu untuk mendengarkan nasehatnya, karena sebagai
wakil rakyat di gedung parlemen ia tak sedikitpun
melupakan hak konstituen. Bahkan, posisinya yang
sangat penting selaku Ketua Majelis Syuro dan
sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai di jajaran
teras PK Sejahtera, tak pernah mengorbankan jatah
waktu sosialnya. Hanya saja, sejumlah jamaah
bertanya-tanya tatkala namanya sempat mencuat sebagai
alternatif calon Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR) dari Koalisi Kerakyatan. Untunglah, tokoh yang
lebih muda Hidayat Nur Wahid akhirnya naik panggung.
Ia tak pernah merasa dilangkahi sejengkal pun, bahkan
seperti terselamatkan (saved by HNW) dari beban
politik yang berat.

Habitat aslinya jelas bukan ranah politik, walau ia
tak pernah menutup-nutupi kenangan manisnya kala
berdiskusi dan berguru dengan tokoh-tokoh politik
Masyumi, seperti M. Natsir, Syafruddin Prawiranegara
dan Mohammad Roem. Secara berterus terang, ia mengakui
telah mengadopsi sebagian logika dan metoda orasi yang
diperkenalkan Isa Anshari atau Buya Hamka. Tetapi,
guru besarnya tetap Abdullah Syafi’i yang masyhur
dengan teriakan menggugah jiwa, “Laa ilaaha illallah….
Muhammadun rasulullah”.

Salah satu keistimewaanya adalah mampu menggubah
syair, mengungkapkan pikiran dan renungan filosofis
dalam format puitis. Sekali lagi, ini mengingatkan
saya pada pemikir-penyair semacam Muhammad Iqbal,
suatu varian yang semakin jarang ditemukan di kalangan
aktivis dan pemikir muslim. Bersama koleganya, Abu
Ridla (mantan Wakil Ketua MPP PK Sejahtera), mereka
menebarkan spirit baru di barisan seniman-budayawan
nasional.

Sutradara Chaerul Umam, penulis skenario Misbach Jusa
Biran, novelis Helvy Tiana Rosa, artis kondang Deddy
Mizwar atau Inneke Koesherawati, hingga entertainer
Ferrasta “Pepeng” Soebardi serta Cici Tegal tentu
mengenalnya. Mereka merupakan lapis baru dari
seniman-budayawan yang tetap mempertahankan “nilai
transendental” dalam segenap ekspresi jiwa dan
kreativitasnya. Kenyataan itu, menurut hemat penulis,
telah membantah salah satu tesis penting Kuntowijoyo
yang menyatakan bahwa gerakan modernisme dan
puritanisme Islam secara sadar telah menggerus akar
budaya dan tradisi lokal. Tidak semua hal berjalan
linear.

Cukup banyak karya seni dan budaya yang dilahirkan
dari periode “islamisasi budaya” itu, antara lain
berkembangnya Nasyid (acapella muslim), film dan
sinetron relijius, cerita pendek dan novel alternatif.
Dalam kesaksian penyair sepuh Taufik Ismail, misalnya,
bangsa Indonesia patut bersyukur mendapat karunia
budaya berupa ribuan penulis muda yang tergabung dalam
Forum Lingkar Pena (FLP). Karya nyata generasi
santri-penulis itu kini memenuhi seluruh toko buku dan
memberi keuntungan besar pada penerbit di seantero
Nusantara.

Ustaz Rahmat pasti tidak mengenal mereka semua secara
langsung, tetapi sentuhan dakwahnya telah menyebarkan
virus kreativitas di berbagai bidang dan jenjang kaum
muda. Sampai suatu titik, gerakan kolektif kaum muda
santri telah mengubah konstelasi politik nasional.
Gejala ini bisa dihipotesiskan sebagai kebangkitan
kembali politik Islam kali ini melalui gerakan
sosial-budaya (baca: dakwah kultural). Politik dan
dakwah bertemu pada satu titik krusial yang paling
konstruktif, karena mendorong proses reformasi
nasional dan demokratisasi bangsa.

Dalam kasus Indonesia, pendapat Oliver Roy tentang
kegagalan politik Islam (Failure of Political Islam)
tak terbukti valid. Kekuatan politik Islam – juga
tendensi relijius lain -- justru sedang bangkit secara
signifikan tergambar dalam hasil Pemilihan Umum 2004
lalu. Ideologi nasionalisme sekuler dan pragmatisme
politik tengah menghadapi tantangan berat dan digugat
habis, karena simbol politik nasional dalam format
partai-partai besar telah bangkrut. Secara nasional
maupun internasional, memang harus diamati: apakah
gejala itu bersifat sementara atau kecenderungan yang
makin menguat.

Karena itu, mengamati dengan lebih cermat kepergian
tokoh nasional dari kampung Betawi ini akan sangat
membantu pemahaman kita terhadap dinamika politik
kontemporer. Pengaruh Ustaz Rahmat dapat diukur dari
bertumbuhnya 450.000 kader aktivis dan 8,3 juta orang
konstituen yang telah menjatuhkan pilihan kepada
partai “dua bulan sabit yang mengabit padi emas”.
Popularitasya jelas tidak sama dengan Abdullah
Gymnastiar (Aa Gym) atau Zainuddin M.Z. yang pernah
dijuluki “dai sejuta umat”. Tapi, tanpa pretensi
membanding-bandingkan figur selebriti, setiap tokoh
punya panggung dan pengikutnya sendiri.

Cuma, saya tersentak ketika menyadari bahwa Ustaz
Rahmat meninggal dunia dalam usia yang tergolong
“muda” untuk politisi kita, yakni 52 tahun (lahir
1953). Rambut kepala dan jenggot yang sudah memutih
ternyata tidak menggambarkan umur yang sebenarnya. Ada
fenomena yang khas di kalangan politisi PK Sejahtera,
mereka dipandang terlalu serius dan moralis dalam
berpolitik. Akibatnya raut wajah mereka kebanyakan
lebih tua dari usia di KTP-nya. Semoga ini tanda dari
kematangan berpolitik, dan bukan beratnya tekanan
publik. Sebab, negeri ini masih memerlukan energi dan
stamina politik yang prima untuk menyelesaikan
bengkalai krisis multidimensi.***

10 comments:

  1. Semoga anak laki-laki saya bisa menjadi Ustadz Rahmat Abdullah dimasa depan, bagus akhlaknya dan 'sangat berilmu', amin ya Allah..

    ReplyDelete
  2. dari tulisan pak Sapto sepertinya Beliau rajin membaca.
    Berguru langsung kepada ulama allahuyarham K.H. Abdullah Syafi’i (pendiri Pondok Pesantren Asy Syafi’iyah di Jakarta), juga termasuk belajar loh :)

    Agak kurang benar kalau belajar berarti harus duduk manis di bangku sekolah. Dan sepertinya ada kecenderungan kalau kita rajin mentadabur Al-Qur'an, akal kita akan semakin sehat dan daya pikir semakin kuat. Lihat saja (atau baca) riwayat imam-imam yg mulia, meskipun mereka tampaknya hanya mendalami ilmu agama tapi di lain sisi ilmu-ilmu dunia juga mereka kuasai dengan baik dan benar.

    Saat ini Ari juga lagi ngincer imam mesjid IMO di Toronto, Subhanallah beliau pintar sekali. Dunia akherat! Ari sekali ikut kuliah Jum'at beliau, masya Allah! Trus dengar lagi tausiah beliau di ISNA conference Mei lalu. Pingin nih sekali-kali bisa duduk dan diskusi bareng beliau. Cuma maluuunya itu :(

    Qalbu salim, kalbu yang selamat (tenang). Barangkali itu kuncinya. Hasil dari kedekatan dengan Al-Qur'an dan Rasulullah SAW. Barangkali loh... cuma menduga-duga, belum pernah diteliti sih. Tapi sebenarnya logis. Coba kalau kalbu kita merana, pikiran pasti deh butek, bawaannya tidak tenang, gelisah. Bisa emosian, atau malah jadi tidak pedulian. Nah, orang dengan jiwa begini nih, jangankan disuruh mikir bener atau bertingkah laku bener, makanan lezat aja bisa terasa ngga enak. Iya ngga?

    udah ahh, jadi ngga enak ati nih kepanjangan.
    Punten yeeee, Ari ini emang tuman kalau disuruh nulis .....

    ReplyDelete
  3. Setuju banget dg kata penutup Pak Sapto. Makasih postingnya Mba Dee ^-^

    Mba, aku mau ikut milist JMP kemana subscribe-nya ya? Bolehkah?

    ReplyDelete
  4. Silakan banget, Mbak Ima... subscribe ke: profetik-subscribe@yahoogroups.com. seingat saya untuk masuk milist tsb pake rekomendasi anggota milist yang lain. Dulu saya direkomendasiin Mbak Helvy ;). Mbak Ima nanti bilang aja direkomendasiin saya :).

    ReplyDelete
  5. Hehe, 'tuman' yang bagus dan bermanfaat kok, Mbak. Tuh, dipanjangin dikit 'tuman' Mbak Ari ini bisa jadi artikel tersendiri lho ;). Betul banget yang Mbak bilang. Maksud komen saya sebenernya ya itu, bahwa sekolah tinggi bila gak diiringi dengan tafakur, tadabbur, hasilnya ya cuma gelar. Banyak saya temui ustadz/ustadzah yang hanya lulusan SMA namun pemikirannya subhanallah. Saya malu, sarjana tapi gini2 aja. Saya harus lebih buanyak lagi membaca, tafakur, tadabbur... ahh....
    Makasih Mbak, komennya.

    ReplyDelete
  6. Iya, Mbak. Betul sekali. Saya merasa sangat kehilangan dan sempat terharu walaupun jarang banget ketemu beliau. Tetapi ada rasa apa gitu..ya yang bikin sangat dekat. Tulisan, ceramahnya, kepribadiannya membuat hati tenang. Orang baik cepat dipanggil ALLAH. Sayangnya banyak orang yang tidak tahu sosok yang begitu indah ini.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih Mba Dee :-) Syukran alfu syukran. Bener gak papa bilang rekomendasi dari Mba?

    ReplyDelete
  8. Karena hanya sedikit yang tahu (tapi saya sangsi, karena kata Bunda Helvy jenazahnya diantar ribuan orang, subhanallah) makanya kenal beliau menjadi terasa 'lebih istimewa'.

    Btw, pemikir2 Islam memang banyak yg luar biasa, sayangnya ummat Islam saat ini lemah aka. tak mendominasi media, makanya 'tak bersuara' kelihatannya. Sudah saatnya kita mentranslate tulisan2 bernas para pemikir muslim dan diterbitkan di Barat, supaya mereka juga 'melek'.
    FLP sudah mulai melakukan dengan sangat baik menurut saya, pekerjaan besar membibit penulis2 muda. Dalam benak saya, insyaAllah setelah berkutat dengan cerpen dan novel, akan berkembang menulis topic2 yg lebih 'serius'. InsyaAllah ^-^

    ReplyDelete
  9. Setuju Dee, dan awanpun bergetar menumpahkan semua tangisannya mendapat kabar langit akan kepergiannya...

    ReplyDelete
  10. Tokoh yang serupa dengan KH. Rahmat Abdullah perlu ditumbuhkan kembali, tentunya peran media dan orang-orang seperti Bapak Sapto Waluyo sebagai Wartawan Pro Pemikiran Muslim penegak keadilan juga harus ditumbuh suburkan.
    Dan tak lupa dunia pendidikan aharus dibenahi.

    ReplyDelete