Wednesday, June 15, 2005

Langit Pun Merindu

Rintik hujan menyapa saat kaki ini melangkah menuju dirimu

Satu tekad di hati, mohon disempatkan meski hanya ujung
keranda yang terlihat mata




Ratusan mobil dan motor seakan menuju satu titik. Padat.




Namun, langkah kaki harus tertahan di sebuah rumah saat
rintik hujan semakin membesar




Puluhan orang berteduh




Ratusan lain di rumah depan, rumah sebelah, sebelah…




Ribuan lain di sekitar kediamanmu dengan wajah tak percaya




Tak percaya engkau tlah meninggalkan kami




 




Doa melantun selesai tunaikan Zhuhur




Wajah-wajah muram masih menanti reda sang hujan




 




Rintik hujan makin membesar




Tahukah engkau? Mereka menangis… ya langit menangis…




Menangis rindu




Rindu ingin bertemu denganmu, wahai hamba Allah yang shalih…




 




Dan tangisan itu masih tak kunjung henti




Kami terobos hujan, tak apa basah menerpa…




Tubuh menggigil, bukan karena dingin




Namun karena samar gema takbir menyapa telinga saat makin
mendekat pada dirimu




Kaki terhenti di gerbang




Gema takbir bergemuruh, semakin bergemuruh




Seluruh tubuh merinding




Ketika ribuan orang bergerak, wajah muram, berbulir air mata
turun menghiasi wajah-wajah mereka




Tubuh kami merapat ke dinding, tepat di gerbang, terdesak ribuan orang




Takbir melangit… semakin melangit…




 




Dan… oh, kulihat keranda itu…




Bergerak. Bergerak. 




Semua orang ingin membawa kerandamu. Ingin menyentuhnya




 




Kemudian kerandamu tepat di hadapanku. Setengah meter.




Mataku tak sanggup memejam, meski air mata sudah memburami




Tubuh ini makin bergetar dengan takbir itu.



Seakan seluruh bumi ikut bertakbir




 




Langit masih menangis… menangis… terus mengiringimu menuju
liang lahat yang hanya berjarak puluhan meter dari kediamanmu




Kaki-kaki berlari kecil, membelah tanah merah basah




Kaki ini pun mengejar. Masih ingin melihat kerandamu. 




Takbir terus melangit…. Melangit…




Langit dan menangis






Hati ini cukup lega sudah, meski hanya memandang keranda
hijaumu. Di kejauhan…




Sementara perlahan engkau diturunkan




 




Kemudian kaki ini menepi, beranjak menjauh




Langit terus menangis, merindu




Engkau telah terbebas dari dunia fana ini, ya Ustadz…




Sedangkan kami? Akan berapa banyak khilaf lagi yang kami
lakukan?




Berapa banyak lagi ketidaktaatan yang kami lakukan?




Kami menangis karena berkurang orang yang akan mengingati
kami




Yang dengan lembut membimbing kami




 




Namun nasihatmu masih di hati, moga kami terus mengingat




Untaian mutiara dari penamu masih akan kami baca…




 




Langit, dekaplah dia. Sambut dia dengan senyum




Rabb, tempatkan Ustadz kami di sisi-Mu yang terbaik, terbaik…




Surga, tunggu dia….




 




*Dee/Ba’da pemakaman Ustadz
Rahmat Abdulllah, Rabu, 15 Juni 2005




 




 





3 comments:

  1. ................nangis.................
    gak bisa kutahan air mata ini.....
    selamat jalan ya ustadz....
    surga menunggumu......

    ReplyDelete
  2. membacanya dengan berurai air mata.....

    selamat jalan ya ustadz
    semoga hikmah yang kau tebar
    akan menjadi kereta indah menuju surga-Nya

    ReplyDelete
  3. Iya, Titin, Biru, kalo inget kemarin masih sesak dada ini. Kiamat memang semakin dekat ya, dimana salah satu tandanya adalah Allah akan 'mengambil' hamba2nya yang shalih. Lantas bila kita dipanjangkan usia, gembirakah kita? Kalau hanya memupuk khilaf dan dosa...

    ReplyDelete