Friday, June 17, 2005

Gadis Kunang-Kunang

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Olyrinson [Zikrul Hakim, 2005]
Friendship ia a strange thing.
We find ourselves telling each other the deepest details of our lives.
Things we don’t even share with our families who raised us.
A Confidant? A Lover? A Fellow email junkie? A Shoulder to cry on? An Ear to listen? A Heart to feel? A Friend is all these things... and more.

Ya, persahabatan kadang ‘aneh’. Kita bisa begitu membutuhkan sahabat dibanding keluarga sendiri. Benarkah? Bisa jadi. Paling tidak, ‘keanehan’ tersebut sebagian ada pada novel Pemenang II Lomba Menulis Novel Milad ke-8 FLP yang baru saya baca. “Gadis Kunang-Kunang”, ditulis oleh Olyrinson, penulis asal Riau kelahiran tahun 1970 yang cerpen-cerpennya dulu sering dimuat di Anita Cemerlang, Aneka, Hai, dll.

Aslinya, novel ini ini berjudul “Jalan Menurun”. Kemudian saat diterbitkan oleh Zikrul Hakim diganti judulnya menjadi “Gadis Kunang-Kunang” (GKK). Lebih menarik dan sesuai menurut saya.

GKK bertutur tentang persahabatan Ujang, bocah laki-laki berusia 7 tahun, dengan Dar, gadis bodoh berusia 17 tahun, yang sering berperilaku seperti anak-anak. Pernah menonton sinetron “Cecep” yang diperankan Anjasmara atau “Si Yoyo” yang diperankan Teuku Ryan? Kak Dar, begitu Ujang memanggil gadis ini, tidaklah seperti Cecep atau Yoyo. Pengarang tidaklah ‘keterlaluan’ mendeskripsikan Kak Dar (kita singkat aja dengan KD ya, tapi bukan Kris Dayanti atau Kristina Dangdut, hehe), meski menurut saya masih ada kekurangan tentang penokohan KD ini. OK, itu nanti saja, sekarang kita korek ceritanya dulu.

Ujang tinggal di sebuah perkampungan kilang kayu dekat PT Caltex, Riau. Perkampungan yang terdiri dari rumah-rumah gubuk beratap seng yang menyerupai barak tentara. Bunyi chainsaw yang terdapat di sawmill milik haji Midi kerap meramaikan perkampungan kecl tersebut. Emak Ujang adalah pemilik salon kecil di kampung itu. Biasanya buruh-buruh kilang kayu memotong rambut pada emaknya. Sedangkan Abahnya (ayah) adalah penebang kayu yang seringkali pergi beberapa waktu untuk mencari kayu.

Suatu hari tetangga Ujang, Bang Risman, kembali dari kampung lain. Selain membawa istrinya, Bang Risman juga membawa serta adiknya yang bernama Dar. Ujang memanggilnya Kak Dar (KD), gadis bertubuh besar, berkulit putih, berambut keriting, yang di mata Ujang seperti boneka Barbie (?), yang gemar melantunkan lagu India. Pertama kali berkenalan dengan KD, Ujang langsung menyukainya. KD pun berperasaan sama. Sejak saat itulah mereka memulai persahabatan. Rumah Ujang yang bersebelahan dengan rumah Bang Risman membuat persahabatan mereka semakin dekat. Mereka pun sering pergi bersama, bermain ke hutan, memancing, memanjat pohon jambu dan memetik buahnya. Juga bermain ke sungai, dimana KD memanfaatkannya untuk mandi, dan Ujang menjaga di kejauhan, sambil melihat-lihat bila ada orang yang mengintip.

Ujang pernah melihat kelebatan orang yang sepertinya sedang mengintip, namun ia tidak tahu siapa, hanya kelebatan sarung. Sampai suatu hari ia memergoki Bang Gultom, komandan kuli angkat di sawmill milik Haji Midi, mengintip KD yang sedang mandi. Tertangkap basah oleh anak kecil tentu saja tak membuat Bang Gultom gentar, ia mengancam Ujang bila melaporkan kejadian tersebut. Bang Gultom malah menyogok Ujang dengan sejumlah uang. Dengan uang itu Ujang membelikan KD sandal jepit karena sandal jepit KD yang lama sudah putus. Ujang berbohong bahwa uang untuk membeli sandal jepit itu adalah uang tabungannya, dan ia meminta KD untuk tak berbicara pada siapapun bahwa ia telah memberi hadiah sandal itu pada KD.

Sementara itu akan ada pasar malam di dekat kampung mereka. Orang-orang kampung membicarakannya, dan berencana akan beramai-ramai ke sana. Komidi putar adalah atraksi yang paling menarik perhatian Ujang, juga KD. Namun karena tak ada uang, Ujang hanya bisa bermimpi dapat naik komidi putar itu. Tak disangka, KD memiliki cukup uang untuk membeli tiket komidi putar, bahkan beberapa permainan lain. Ujang sebenarnya heran darimana KD memperoleh uang sebanyak itu. Kali ini KD yang meminta Ujang berjanji untuk tidak memberi tahu siapapun bahwa ia memiliki uang. Ujang pun berjanji, meski di satu sisi ia merasa semakin banyak kebohongan yang telah ia lakukan.

Satu hari terjadi keributan di rumah Bang Risman. Bang Risman kedatangan seorang tamu, lelaki gagah bernama Joni. Ternyata Bang Risman telah membawa kabur KD, karena KD akan dikawinkan oleh Joni karena orangtua Bang Risman dan KD memiliki utang pada Joni, dan Joni telah meminang KD untuk menjadi istri ketiganya sebagai ganti untuk melunasi utang-utang tersebut. Namun karena tak ingin Joni menyia-nyiakan dan memperdaya adiknya, karena Joni adalah preman sedangkan KD hanyalah gadis bodoh, Bang Risman pun membawa kabur KD. Singkat cerita, akhirnya KD pun dinikahi oleh Joni. Namun keesokan harinya, kampung geger karena terdengar kabar bahwa Joni telah meninggalkan KD dan menceraikannya, karena KD dianggap tidak perawan lagi oleh Joni. Bang Risman tidak terima adiknya dibilang tidak perawan lagi.

Berbagai pikiran berkelebat di kepala Ujang. Ia yakin, Bang Gultomlah yang telah membuat KD tak perawan lagi. Ia ingin bercerita pada semua orang, namun siapa yang mau percaya?

Siapakah yang telah merenggut kegadisan KD? Benarkah Bang Gultom? Atau buruh lain? Ataukah Joni hanya berbohong?

-----

DESKRIPSI YANG ‘BASAH’

Mengikuti halaman demi halaman novel, kita akan dibawa pada deskripsi detil tentang setting. Benar-benar deskripsi yang basah, maksud saya, kita benar-benar serasa berada di perkampungan itu, kilang kayu, mendengar bunyi chainsaw, deru truk-truk yang masuk perkampungan, kecipak air, lebatnya hutan, dll.

Hampir di setiap awal bab, pengarang mendeskripsikan setting seakan sebagai bekal bagi pembaca untuk masuk pada cerita demi cerita. Yakinlah bahwa bila cerita ini dipindah settingnya, itu sangatlah sulit. Bukankah itu salah satu tanda aspek setting digarap dengan baik? Pengarang sangat menguasai setting. Buah karimunting, ikan cucut, ikan baung, jambu monyet, pohon pandan berduri, semakin memperkuat detil cerita.

ALUR & ENDING YANG MENGEJUTKAN
Alurnya pun mengalir lancar. Meski cenderung linier, namun deskripsi dan narasi yang kuat, plus penggunaan point of view aku-an Ujang, bocah laki-laki cilik, tidak membuat kelinierannya menjadi membosankan. Endingnya pun mengejutkan. Pengarang cukup pintar menyimpan ‘kejutan’. Meski bila pembaca cukup awas, pengarang sebenarnya memberi tanda-tanda di setiap bab sebelum memberi kejutan di akhir cerita.

PESAN KUAT
Pesan dari novel ini juga kuat. Persoalan psikologis seorang bocah kecil, moral, namun tidak dikemas secara verbal. Pengarang menyelipkan pesan dengan baik.

GADIS BODOH?
Satu hal yang membuat novel ini sedikit lemah, menurut saya adalah penokohan Kak Dar itu sendiri. Sejak awal pengarang telah menginformasikan bahwa KD adalah tokoh gadis bodoh yang sering berperilaku seperti anak-anak. Namun, membaca bab demi bab, saya kurang menemui ‘kebodohan’ KD. Malah seperti gadis biasa saja. Sayang sekali, padahal karakter tokoh Ujang, dan tokoh-tokoh lain seperti Emak, Abah, Bang Gultom, dll sudah cukup kuat. Pengarang sepertinya kurang menggali seperti apa ‘gadis bodoh’ itu, bagaimana perilakuknya, cara bicaranya, dsb.

Begitu juga sebutan ‘boneka Barbie’ oleh si Ujang. Sepertinya kok agak janggal. Ujang tinggal di pedalaman yang hanya menonton televisi dari kedai Tek Pia, bagaimana dia bisa tahu tentang Barbie? Mungkin lebih tepat menyebut ‘boneka’ saja.

-------

Lepas dari itu kekurangan yang sedikit itu, menurut saya novel ini bagus banget buat dipelajari teman-teman FLP (ehm, tim kompor :D). Idenya yang cukup orisinil, menggali kehidupan yang jarang diangkat oleh pengarang lain (terutama pengarang FLP :D), plus setting yang kuat. Bisa buat belajar cara membuat deskripsi tempat yang baik :).

Kalau endorsmentnya Mbak Helvy sih begini nih: “Buku di tangan Anda ini adalah pemenang sayembara novel tingkat nasional yang diadakan FLP tahun 2005. Di dalamnya ada orisinilitas, alur yang lancar, namun mengejutkan, serta penokohan detil dengan karakter kuat. Cara penuturannya juga berbeda dengan novel kebanyakan. Buku yang sangat layak Anda koleksi.”

Benarkah? Kalau mau buktikan ya baca aja dulu novelnya :D. Pengen tahu juga kan, seperti apa pemenang novel FLP? ;).

Silakan kalau udah ada yang baca, koreksi kalau ada yang salah dari saya.

Wassalamu’alaikum,
Dee

No comments:

Post a Comment