Tuesday, June 14, 2005

AMPLOP, BISKUIT, DAN KORUPSI

AMPLOP, BISKUIT, DAN KORUPSI


 


Saya baru saja baca majalah Tarbawi terbaru edisi 111. Di rubrik Dzikroyat (kenangan) mengangkat kisah Arif Sardjono, seorang staf Pemeriksa Pajak Departemen Keuangan yang ‘tersingkir’ karena tidak mau korupsi. Dikisahkan bagaimana Arif berjuang melawan korupsi di kantornya yang –bahkan—sudah begitu terencana. Banyak pengalaman yang Arif petik, di antaranya: orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan, apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan, dsb. Arif pernah merasakan bagaimana mereka menggunakan cara halus pura-pura berteman dan bersahabat, tapi setelah sekian tahun barulah dikhianati. Pegawai-pegawai baru didekati, dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, untuk menekankan bahwa begitulah cara kerja mereka.


 


Arif sendiri pernah punya atasan yang pada awalnya begitu simpatik di matanya. Mau datang ke rumah bawahan. Setiap akhir pekan atasan tersebut mengajaknya mincing atau jalan-jalan, singkatnya atasan tersebut benar-benar sahabat bagi Arif. Setiap habis jalan-jalan bersama, atasan tersebut juga menitipkan uang dalam amplop untuk anak-anaknya. Arif sendiri awalnya menganggap itu hanya sekadar hadiah, apalagi dalam persahabatan tersebut mereka jarang sekali bicara tentang pekerjaan.


 


Hingga satu saat, Arif mendapat surat perintah pemeriksaan di sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan tersebut, Arif menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Atasannya pun melakukan pendekatan kepada Arif, mengatakan bahwa bila semua penyimpangan itu diungkapkan, perusahaan itu akan bangkrut dan akan banyak pegawai yang di-PHK. Atasan tersebut juga meminta temuan tersebut dirundingkan saja dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara yang untung karena ada kas yang masuk. Singkatnya atasan dan teman-temannya berusaha membujuk Arif. Namun Arif tetap keukeuh, namanya korupsi ya korupsi.


 


Atasannya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri akhirnya mengatakan pada Arif untuk tidak munafik. Arif mendebat bahwa ia tidak munafik dan bahwa selama itu ia berusaha konsisten. Atasannya kemudian bilang bahwa uang yang selama dua tahun diberikan apda anaknya adalah uang dari klien. Arif tentu saja sangat terpukul. Di rumah ia menceritakan permasalahan tsb pada istrinya. Alhamdulillah, ternyata selama 2 tahun, uang tsb tidak pernah digunakan sedikitpun, bahkan amplop-amplopnya pun masih utuh, tidak pernah dibuka satu pun, disimpan oleh sang istri di sebuah tempat. Jumlah pastinya Arif tidak tahu, perkiraannya bukan lagi puluhan juta, lebih, karena hampir tiap pekan diberikan selama 2 tahun.


 


Arif pun mengambil amplop-amplop itu dan membawa ke kantor. Dalam forum, Arif melempar amplop-amplop tersebut di hadapan atasannya. Tentu saja mereka tidak bisa berkata apapun. Namun keesokan harinya Arif langsung dimutasi antarseksi. Awalnya di auditor, kemudian di bagian arsip.


 


Banyak sekali yang saya dapat dari kisah Arif ini. Mungkin kita sudah cukup banyak mendengar, membaca, atau bisa jadi mengalami sendiri hal seperti itu. Namun kisah ini kembali menyadarkan saya, betapa korupsi itu seperti Bung Hatta bilang puluhan tahun lalu, sudah menjadi budaya di negeri ini. Bukan budaya lagi, tapi benar-benar kejahatan yang sudah berkelindan. Orang yang tak kuat-kuat pendirian, moral, bisa terseret dengan mudah. Arif sendiri mencontohkan bagaimana teman sebangkunya saat kuliah di STAN yang sama-sama ikut kajian keislaman di kampus, dapat tergelincir, ikutan korupsi, bahkan sampai shalat pun ditinggalkan. Terakhir temannya tersebut ditangkap polisi ketika sedang mengonsumsi narkoba. Istrinya pun selingkuh. Na’udzubillahi min dzalik.


 


Dari kisah Arif ini saya juga kembali diingatkan betapa perjuangan untuk mengatakan yang haq benar-benar perjuangan yang berat, berhadapan dengan ‘kekuatan’ yang terorganisir, yang bahkan tanpa kita sadari dilakukan secara halus, bahkan melalui pendekatan bertahun-tahun. Bayangkan!


 


Yang juga dapat saya ambil, betapa dukungan keluarga, istri dan anak, juga sangat besar untuk menyelamatkan diri dari jeratan korupsi. Saya kagum dengan istri Arif yang sama sekali tak tergiur uang-uang di amplop, bahkan hampir 2 tahun! Padahal hidup mereka benar-benar sederhana, jauh dari berkecukupan, bahkan sering kali kekurangan uang. Keteguhan inilah yang memberi pelajaran kepada saya untuk dapat menauladaninya, kelak bila saya menjadi seorang istri. Banyak kita dengar kisah tergelincir seseorang karena tuntutan keluarga.


 


Saya jadi ingat cerita mama saya, beliau bercerita, sewaktu papa saya masih bekerja, pernah ada seseorang yang datang ke rumah, membawa sekaleng biscuit. Orang itu bilang sekadar silaturahmi. Mama pun tanpa curiga menerima biskuit tersebut, menyangka itu adalah teman papa. Ketika papa pulang dari kantor, mama menceritakan soal biskuit tersebut. Oh ya, papa saya sebelum wafat bekerja di BRI, loan section (seksi peminjaman). Ketika papa mendengar hal itu, beliau bertanya siapa orang itu, mama pun menjawab: si X. Papa langsung marah (eh, papa saya kalau marah nggak menyeramkan kok :D). “Jangan sekali-kali menerima apapun dari orang yang tidak jelas dan tidak kamu kenal. Dia itu salah satu klien peminjam. Ajuan peminjamannya belum disetujui, jadi dia datang memberi biscuit itu untuk mengambil hati, biar pinjamannya cepat disetujui!”


 


Alhamdulillah biscuit tersebut sama sekali belum dibuka dan dinikmati oleh keluarga kami. Keesokan harinya, papa mengembalikan biscuit tersebut. Itu baru biskuit. Padahal menurut papa, peminjam-peminjam besar tak ragu mengeluarkan uang puluhan juta untuk ‘menyogok’ agar pinjamannnya cepat disetujui. Wajar saja kan kalau banyak debitur-debitur nakal yang tak mau bayar utang, akhirnya membuat pinjaman macet bank-bank. Sampai-sampai salah seorang teman papa pernah berujar: “Pak Rusdi (nama papa saya) sebenarnya bisa cepat kaya, kalau mau ambil kesempatan, toh sebenarnya itu hanya hadiah.”


 


Yah, alhamdulillah papa saya tak mengambil ‘kesempatan’ itu, bisa-bisa saya jadi anak bandel (udah bandel sih dikit :D), tapi kalau tambah makan uang korupsi, hiyyy, bandel nggak ketulungan kali ya :D.


 


Anyway, mungkin godaan yang dihadapi papa saya tak seberat Pak Arif, atau orang-orang lain. Tapi ini kembali menyadarkan kita betapa perjuangan melawan korupsi di negeri ini benar-benar berat. Negeri ini begitu kaya, sangat, kalau orang-orang serakah tak bergentayangan di negeri ini.


Salam,


Dee


 


 

7 comments:

  1. Mbak Dee, ceritanya bagus sekali ya. Boleh Evi fwd ke imsa sister dan imsa@? Mbak Dee, saya ini takut banget kalau kami sekeluarga pulang dan suami kembali ketempat kerjanya. Doanya ya mbak, semoga kita semua tetap istiqomah. Amin... Salam sayang dari Troy yang semakin menghangat aka panas banget hehe...

    ReplyDelete
  2. Silakan banget Mbak Evi sayang... :)
    Insya Allah, kita sama-sama mendoakan bair istiqamah ya Mbak. Tak mudah tergoda. Salam buat suami ya Mbak. Duh, kapan neh saya ke Troy? hehehe.

    ReplyDelete
  3. Beberapa waktu yl. saya dan suami berandai-andai, yang berujung pada adu argumentasi kecil (kalau mau dibilang bertengkar kok serem banget :)). Saya bilang seandainya nanti pulang ke Indonesia dan (berkhayal) ada tawaran menjadi pejabat, sebaiknya ditolak saja, metah-mentah. Alasannya,pertama, amat sangat susah menghindari KKN (saya sendiri tidak yakin bisa). Jadi mendingan ditolak dari awal. Kedua, tanggung jawabnya di akhirat...wow...bisa-bisa saya dapat nightmare setiap hari (gara-gara kasus Pak Supriono, saya heran jika para pejabat bisa tidur nyenyak setelah peristiwa itu).
    Suami saya bilang, kalau orang muslim yang baik (ge-er, merasa baik nih kite) tidak mau jadi pejabat, lagi-lagi akhirnya yang jadi pejabat yang "jelek-jelek".
    Tapi resiko tergelincir itu?? Sudah banyak contohnya kan? Ngeri!Naudzubillah...naudzubillah...
    Semoga saya selalu ingat istrinya Pak Arif ini.

    ReplyDelete
  4. Dulu, jaman khalifah, mereka sedih jika terpilih menjadi pemimpin, karena harus mempertanggung jawabkan semua yang dipimpinnya. Sekarang ini terbalik, banyak orang rela menyogok demi menjadi pejabat, dan mempertanggungjawabkan semuanya di akhirat. Naudzubillah.:(

    ReplyDelete
  5. Good writing and contemplation Mba Dee :-)
    Inilah wajah jujur negeri kita yang babak belur. Saya speechless kalo sudah bicara tentang korupsi :-( Benar2 mendarah daging!

    Tsunami pun, yg merupakan peringatan Allah, masih saja dana kemanusiaan yg jumlahnya trilyunan datang dr berbagai belahan dunia itu, dikorupsi lagi!!!

    *Sesak dada saya... astaghfirullah!*

    ReplyDelete
  6. wahh..sedih banget deh!
    kalo begini adanya, kapan ya negara kita bisa bebas dari korupsi?

    ReplyDelete
  7. Iya, kalo pake paradigma itu bawaannya emang atutt mbak...:). saya pun juga gitu kali ya kalo kelak suami jadi pejabat (taelaa...). eh gak usah jadi pejabat ya, jadi pegawai biasa juga bia tergelincir. makanya kan di indonesia, pegawai biasa aje bise punya rumah banyak, mobil, vila ;). Makanya perlu support system sepertinya ya mbak. sistem yg dapat mem-back-up seseorang ketika menjadi pejabat, ya baik dr keluarga, dari lingkungan, teman2 dsb yg dapat mengingatkan.

    ReplyDelete