Tuesday, May 31, 2005

Resensi Sejuta Cinta di Sydney by Akmal N. Basral

SEJUTA CINTA DI SYDNEY
Penulis: Dewi Fitri Lestari & Rahmadiyanti
Penerbit: Syaamil Cipta Media, 2004
===================================

Novel kolaborasi ini punya potensi konflik yang sangat menarik untuk
digali, selain sangat aktual dengan panas-dinginnya hubungan Islam-
Barat (termasuk Australia). Sebuah pilihan topik yang patut diacungi
jempol.

Bayangkan. Seorang pemuda Indonesia keturunan Arab-Betawi, Muhammad
Ayub (lebih suka dipanggil Joop), ingin melanjutkan kuliah di Sydney,
Australia. Ia tinggal di rumah Jake Winston, yang dikenalnya lewat
internet. Belum lama ia tinggal di sana, peristiwa 12 Oktober 2002
yang dikenal sebagai Bom Bali terjadi, menewaskan sejumlah turis
Australia termasuk Denise Harper dan mencederai kakaknya Jason
Harper.

Denise dan Jason adalah sepupu Jake. Tragedi pemboman itu membuat
pandang Nyonya Winston, ibu Jake, berubah sinis terhadap Joop. Begitu
juga dengan (beberapa kalangan) masyarakat Australia yang terserang
virus phobia dadakan terhadap Islam, dan orang-orang yang bertampang
Timur Tengah seperti Joop. Hidup Joop tak lagi sama setelah Bom Bali.
Ia sempat mencicipi penjara federal, sebelum dilepas dengan keputusan
3 bulan masa percobaan.

Untuk memercikkan nuansa romansa di SCDS, kedua penulis membuat sub
plot hubungan "mau-tapi-malu" antara Joop dan Yulian, seorang gadis
Cina Katolik, yang [diam-diam] naksir Joop dari Jakarta, dan [diam-
diam pula] memberi 'kejutan' pada Joop, ketika tiba-tiba ia muncul di
Sydney, juga dengan niat untuk melanjutkan sekolah. Aha!

Bila digarap dengan lebih sabar dan mendalam, niscaya novel ini tak
berhenti hanya sebagai karya fiksi, melainkan juga sketsa sosial
kontemporer tentang bagaimana peristiwa Bom Bali dilihat dari sudut
pandang bangsa lain, khususnya Australia sebagai negara dengan korban
terbanyak.

Tapi saya mendapat kesan, Dewi dan Dee masih mencampuradukkan
tipikalisasi "bule" Australia dengan "bule" Amerika (terutama di film-
film Hollywood), misalnya pada kalimat ini: "Hey, what's up, Man?"
tanya Jake (hal. 49), atau "Lagi pula dugemnya ..., gila man!" Jason
ingat ocehan Dave teman kampusnya begitu ia tahu Jason mau ke Bali.
Kalimat-kalimat itu sangat "ngamerika". Karena dalam realitas sehari-
hari, mereka lebih sering memanggil lawan bicaranya dengan "mate"
atau "matey" untuk mengungkapkan keakraban. Sehingga, kalimat "Joop,
wake up!" (hal. 33) akan lebih natural (dari kebiasaan orang
Australia) kalau ditulis, "Wake up, mate!" atau "Wake up, matey!"

Bertebarannya frase-frase bahasa Inggris dalam SCDS menurut saya akan
lebih indah bila dihemat, dan digunakan hanya pada beberapa istilah
yang perlu dan khas. Karena dengan bahasa "gado-gado" yang kebetulan
tidak taat asas (Inggris tapi dengan logika Indonesia) lebih sering
membuat pening pembaca ketimbang memudahkan pengertian. Misalnya pada
kalimat ini: Joop menggeleng. "Not your girlfriend or you don't tell
me about her?" Jake penasaran (hal. 33). Rasanya, kalimat itu lebih
pas kalau berbunyi "... or you DON'T WANT TO tell me about her?" Jake
penasaran.

(Sebagai perbandingan, coba lihat bagaimana Dewi Lestari Simangunsong
menggunakan frase-frase dan idiom-idiom bahasa Sunda di "Supernova-
Petir", yang bukan hanya ingin menampilkan arti, tapi juga membawa
lokalitas Sunda yang mengalir lincah, tepat sasaran, dan lucu. Lucu
sekali malah).

Problem kendornya pengamatan Dewi dan Dee pada setting kultural juga
terlihat pada penggambaran keluarga Joop, ketika ia masih di Jakarta.
Joop, yang berdarah Betawi-Arab, memanggil ibunya dengan "ummi",
kakeknya dengan "engkong", dan paman-tantenya dengan "encang-encing".
Tapi terhadap bapaknya, Abdul Kholid, Joop memanggilnya "ayah". Ayah?
Kenapa nggak "babe" atau "abi" saja ya? Rasanya, saya belum bertemu
ada keluarga Betawi, Arab, atau Arab-Betawi yang menggunakan
kombinasi panggilan "Ayah-Ummi" seperti itu. Atau ada?

Sub plot hubungan Joop-Yulian itu, hemat saya, seperti adegan "usus
buntu". Dibuang juga nggak apa-apa kok, karena nggak terlalu
berpengaruh terhadap jalannya cerita. Kita, pembaca, tidak mendapat
background yang jelas mengapa Joop bisa termehek-mehek terhadap
Yulian, padahal setiap kali ditelpon cewek ini selalu menjawab ketus.

Selain informasi bahwa Yulian itu "Cina dan Katolik" (fisiknya kata
Dee, seperti Asma Nadia ya..hehehe...), pembaca tidak mengetahui apa-
apa lagi yang membuat kita bisa "paham" bahwa Joop, seorang pemuda
Muslim berdarah Arab-Betawi, sampai 'nyantol hatinye ame si mpok
yulian nyang amoy ame kresten ntu'.

Kalau saja Dewi dan Dee lebih mendongkel, mencungkil, memotret lebih
dekat, bagaimana reaksi masyarakat negeri Down Under itu pasca Bom
Bali, pasti SJDS jauh lebih cihuy. Kalau pun hubungan "cinte" Joop-
Yulian tetap mau disertakan, saya kok membayangkan, mungkin lebih
bagus kalau bab I justru dimulai pada tanggal 13 Oktober 2002, persis
pada pagi hari ketika Jake menyodorkan koran lokal yang memberitakan
Bom Bali kepada Joop. Setelah itu baru dibikin "sandwich", bolak-
balik situasi sekarang (sekarang, di Sydney) dan kilas balik
(Jakarta, soal hubungan Joop-Yulian), balik lagi Sydney, balik lagi
ke Bali, dst, sehingga fokus novel lebih jelas, ketimbang alur linier
seperti sekarang.

O ya, soal Bom Bali, menarik sekali info yang disisipkan Dewi dan Dee
tentang "sembilan belas warga muslim Kuta yang tergabung dalam
perkumpulan Rukun Kifayah Desa Kuta (RKDK) yang langsung terjun
langsung ke Tempat Kejadian Perkara, sementara saat itu hanya ada dua
aparat ... Kalau Anda melihat tayangan televisi saat evakuasi korban,
Anda akan melihat laki-laki " di hal.

Ini fakta yang bagus, dan seharusnya mendapat porsi yang lebih besar
di novel ini, tentang bagaimana anggota RKDK yang berpakaian biru,
jutsru merupakan orang-orang (baca: penolong) pertama yang sampai di
lokasi. Siapa saja sih nama mereka? (di fiksi, boleh dong pakai nama
yang tidak sesuai dengan KTP? hehehe...), bagaimana deskripsi mereka
(selain berpakaian biru), dll, dll...

Nah, soal "pakaian biru" ini, ada satu detil yang menurut saya, entah
sempat diriset betulan atau tidak oleh kedua penulis, sebelum
menuturkan lagi dari sudut pandang Jason di halaman 70. Saya kutipkan:

"Mum..." saluran napas Jason makin sempit. Tak lama dengan samar ia
melihat beberapa orang berseragam biru berlari membawa tandu. Ia
ingin berteriak tapi tak mungkin. Ia ingin berteriak tapi tak
mungkin. Ia sangat letih. Ia hanya merasakan tubuhnya diangkat ke
atas tandu dan digotong dua orang kekar itu.

Kebetulan, sekitar 4-5 hari setelah Bom Bali, saya sempat mengunjungi
ground zero dan melihat Sari Club dan Paddy's Bar (bukan Pays,
seperti tertulis di hal. 67) dan mendapat cerita tangan pertama dari
pemilik toko di sebelah kiri Sari Club. Deskripsi tentang aktivitas
RKDK itu memang akurat, cuma problemnya satu: setelah bom meledak,
listrik di kawasan itu mati total. Gelap gulita. Dalam kondisi gelap,
dan bercampur panik oleh teriakan orang-orang yang luka, dan asap bom
yang masih membubung seperti menyelimuti lokasi, agak sulit
membayangkan bagaimana Jason yang sudah terluka bisa melihat bahwa
kedua anggota RKDK itu berpakaian "biru". Apalagi ia salah satu yang
terluka parah.

Lain halnya, ketika anggota RKDK itu tertangkap oleh tayangan
televisi, karena ada lampu kamera yang menyorot dan merekam mereka,
sehingga warna baju mereka terlihat. Tapi kejadian ini pastilah
sesudah Jason ditandu, dan diselamatkan.

Namun yang paling saya sayangkan (sebenarnya "gemas", karena bahan
baku dan setting cerita ini bagus sekali, sekali lagi, excellent!)
adalah kurangnya deskripsi yang "basah" suasana di Australia pasca
pengeboman, apalagi setelah Joop dijebloskan ke penjara (Bandingkan
dengan upaya Kang Abik mendeskripsikan bagaimana bobroknya penjara
Mesir di 'Ayat-ayat Cinta').

Padahal, ini salah satu sisi yang sangat menarik sekali (tentu saja
tidak mudah untuk menggambarkannya) dari novel ini. Seperti apakah
penjara di Australia itu? Apakah sama seperti bayangan kita akan LP
Cipinang atau Sukamiskin? Apakah seperti gambaran di film-film Barat?
Siapa saja yang menjadi teman sekamar Joop? Apakah muslim semua? Atau
Ada bule Australia juga yang melakukan tipiring (tindak pidana
ringan). Dan yang terpenting, secuek-cueknya Joop sebagai "anak
gaul", mengingat latar belakang keluarganya, pertanyaan yang
terpenting adalah: bagaimana caranya Joop menunaikan sholat di
penjara Australia itu?

Lalu soal adegan pengadilan. Ah ya, banyak sekali pengarang asing
yang mendapatkan popularitas (dan kompetensi terutama) karena
mengangkat adegan-adegan di ruang pengadilan. Satu yang paling
populer, John Grisham. Sebab, suasana sidang, tanya jawab antara
jaksa penuntut umum dan advokat, selalu menjadi ruh yang membuat
sebuah cerita menjadi "bergizi". Misalnya saat pengacara Joop, Gareth
William, memulai "sesinya" untuk menanyai Joop (hal. 164), atau
ketika si tengil Damien Symonds yang anti-Islam menjelaskan
tuduhannya (hal. 167). Sayangnya, Dewi dan Dee memilih cara "paling
aman" dengan langsung menyimpulkan jalannya sidang, seperti berikut
ini:

Namun, suasana menjadi lebih tegang ketika Damien Symonds memberikan
kesaksiannya. Dengan arogan, ia berusaha memelintir fakta. Dia
mengatakan bahwa Joop-lah (sic!) yang memancing-mancing perkelahian
itu. Sempat terjadi perdebatan sengit antara Mr. William dengan jaksa
yang terlihat mulai termakan ucapan Damien. Namun, hakim ketua dapat
memimpin sidang dengan baik. Suasana runcing dapat tenang kembali.

Seandainya, ya seandainya saja Dewi dan Dee, menulis dengan lebih
menekankan pada narasi dan kutipan kalimat-kalimat langsung,
bersayap, lebih tajam dari belati, dan saling menyerang antara Mr.
William dan jaksa penuntut umum (siapa namanya?), juga kalimat-
kalimat Damien Symonds, dari mulutnya sendiri, yang penuh kebencian
pada Joop, pemutarbalikkan fakta, agitasi, menghasut kepada juri,
dll, dll, niscaya adegan ruang sidang itu akan jauh lebih hidup dan
bernas, ketimbang pembaca langsung dimamahkan kesimpulan yang "siap
saji".

***

Dengan semua catatan pendek ini, bagaimana pun kejelian Dewi dan Dee
dalam mengangkat topik yang sangat relevan seperti ini, sangat
membahagiakan hati. Begitu luas dunia, begitu pelik ragam persoalan
muslim yang bisa digali dan disajikan, untuk membuktikan bahwa sastra
itu juga "menjembatani", bukan hanya sebagai katarsis untuk berasyik
masyuk dengan kesenangan diri sendiri yang (sayangnya) seringkali
sangat artifisial.

Lewat SCDS, insya Allah saya yakin masa depan sastra "Islami" tidak
sial-sial amat, seperti 'dituduhkan' banyak pihak selama ini: bahwa
karya-karya kontemporer dari penulis muda muslim hanya asyik berputar-
putar pada diri, keluarga, dan teman-teman terdekat sendiri, atau
ingin terlihat 'gaul' (padahal apa perlunya, kalau memang itu bukan
jatidiri penulisnya sendiri?) yang akhirnya justru terasa tempelan.

Maju terus Dewi, Dee, baik terus berduet sebagai novelis, mau pun
sendiri-sendiri. Ada milyaran topik yang siap diulik. Be different,
be innovative. SCDS membuktikan kalian berdua bisa!

Salam,

Akmal N. Basral

3 comments:

  1. Mpok, ada novel gratis nggak buat Aye??
    Simpenin aja doong, daripada ntar beli
    , hi hi hi
    Ditukar sama Pullman, mau?

    ReplyDelete
  2. Mau bangeeeeettt Tenang aza, Mun. Gratis 1 buat dikau, gak usah dituker Pullman. Pullman hadiah aja darimu buat dikau, hahaha *samir!*

    ReplyDelete
  3. wah, mba deee .... what a valuable review :-P

    ReplyDelete