Tuesday, May 31, 2005

Kala Tanya Menggugat

KALA TANYA MENGGUGAT


Rahmadiyanti


 


“Mbak, gimana kabarnya?” suara renyah menyapaku di horn telepon. “Masih inget aku kan, Mbak. Ih, pasti Mbak lupa deh! Aku kan pernah ikut teaternya Mbak…”


Kemudian ia menyebut nama. “Nah, sekarang ingat kan?”


 


Aku tersenyum. Mengingat wajah manis seusia adik bungsuku, 8 tahun lebih muda dariku. Saat bergabung dengan teater yang pernah aku pimpin ia baru saja masuk SMA.


 


“Aku kangen deh, Mbak, pengen ikut teater lagi.”


“Sudah butek teaternya,” candaku.


“Eh, Mbak, gimana kabarnya?”


“Alhamdulillah, baik,” jawabku. “Kamu sendiri gimana?”


“Alhamdulillah. Eh, aku udah punya anak lho, Mbak.”


 


Kemudian ia bercerita tentang pernikahannya di usia muda, tak lama lulus SMA ada seorang pria melamarnya. “Tapi suamiku usianya jauh lebih tua dari aku, Mbak. Kayaknya seusia Mbak deh. Oh ya, Mbak sendiri gimana, udah punya anak?”


           


Aku tertawa. “Sudah, anak kucing!” tawaku mengeras. “Nikah saja belum, Dek, punya anak dari siapa?” Aku tersenyum.


 


“Waaah… Mbak belum nikah?! Aku aja udah mo punya anak dua. Gimana nih si Mbak. Mestinya anak Mbak udah lebih banyak dari aku.”


 


Aku kembali tertawa.


 


“Kenapa sih Mbak belum menikah?”


 


Kenapa? Lagi-lagi aku hanya tertawa. Kemudian memberikan jawaban klise: Pangerannya masih disimpan Allah; Allah belum memberi izin; Sudah ikhtiar, namun semuanya ketentuan Allah.


 


“Ayo, Mbak, cepet nikah! Ntar kebalap terus lho sama yang lebih muda!”


Kembali aku tersenyum dan mengucap istighfar… dalam hati.


 


Lain waktu.


Sebuah diskusi di satu mailing list, tentang sudut pandang yang berbeda antara pria dan wanita. Awalnya hanya menanggapi posting e-mail seseorang anggota mailing list tentang cerita seorang wanita yang uring-uringan karena tiba-tiba suaminya bete tanpa dia tahu penyebabnya. Berbagai prasangka mengelayuti pikiran sang istri tentang ke-bete-an sang suami. Ternyata bete sang suami hanya karena kesebelasan sepak bola kesayangannya kalah, sedangkan sang istri bukanlah penggemar sepak bola. Inti tulisan tersebut memang menyorot pada pola pikir yang berbeda antara pria dan wanita.


Banyak yang menanggap e-mail tersebut. Bercerita tentang pengalamannya dengan istri atau suami masing-masing, terutama dalam pola pikir. Saat itu saya hanya menanggapi sambil bercanda: “Wah, coba istrinya juga sama suka-suka bola dan sama-sama favorit sama kesebelasan tersebut, pasti sama-sama bete.”


 


Ternyata beberapa anggota milist menanggapi serius.


“Makanya Mbak nikah dulu deh, baru bisa merasakan.”


Seorang lagi menanggapi. “Iya, betul, kalau belum menikah sih nggak bakal tau kayak gimana bedanya pikiran pria dan wanita.


Saya hanya tersenyum membaca e-mail-email tanggapan tersebut.


 


***


 


Sebagai wanita lajang, dengan usia yang—bahkan—sudah melewati masa menikah, pertanyaan, sering kali komentar yang cenderung memojokkan banyak menghampiri. Dua pengalaman di atas hanya sedikit dari yang pernah saya alami.            Seorang kawan begitu sedihnya ketika mengalami kejadian mirip seperti cerita saya pertama. “Saya nggak habis pikir, dia kan tau saya belum menikah dan usia saya sudah menjelang 33. Tapi kok dia nggak sensi banget bilang seperti itu. Memangnya jodoh yang mengatur dia?”


 


Saat itu saya hanya dapat menyabarkan dirinya. Saya katakan padanya untuk tersenyum saja bila dipojokkan, bisa jadi orang tersebut memang tak bermaksud. Selalulah beprasangka baik, bahkan jadikan hal itu sebagai bahan muhasabah (evaluasi) diri.


Banyak orang yang memang cenderung kurang peka bila pembicaraan mengarah pada hal yang sensitif buat seorang wanita yang masih melajang. Ungkapan-ungkapan dari yang halus seperti: “Kapan nih nyebar undangan?” sampai yang cenderung memojokkan bahkan kasar seperti: “Wah, kok usianya sudah segitu belum nikah juga?”, “Makanya Mbak nikah biar tahu gimana kehidupan suami istri”. Baik dari keluarga, teman, sampai tetangga.          


 


Saya sendiri kadang merasa tak enak bila disudutkan seperti itu. Tapi sedikit saja, karena saya belajar ‘mutem’ (muka tembok), hehe. Saat usia-usia 24-27 memang cukup sensitif, apalagi saat itu teman-teman seusia, seperjuangan, satu persatu memasuki gerbang pernikahan. Alhamdulillah, sekarang saya merasa lebih kebal meski bukan berarti saya tak sedih bila disindir atau disudutkan (apalagi bila kondisi hati sedang tak enak). Saya berusaha belajar untuk mengendalikan diri sendiri. Sebab sensitif atau tidak sensitifnya sebuah komentar atau pernyataan orang lain sebenarnya tergantung kita sendiri. Tergantung pada sudut pandang kita melihat hal tersebut. Kita tak bisa mengharap orang lain mengerti kondisi kita. Kitalah yang mengendalikan perasaan kita. Sebab bila kita mengharapkan orang lain mengerti perasaan kita, kita hanya membangun harapan yang berlebihan, dan akhirnya cenderung kecewa, sedih, bahkan sebal dan marah bila disindir atau disudutkan hal tentang menikah.


 


Daripada menanggapi dengan wajah tertekuk, bukankah lebih baik bila dengan senyuman? Selain membuat nyaman diri sendiri, kita pun membuat orang lain ‘nyaman’. Bisa jadi ia akan menyadari bahwa komentar, pertanyaan, atau perkataannya tersebut tidak tepat. Coba kalau kita sensi kemudian mencak-mencak, selain kita sendiri jadi resah (padahal sudah resah), orang pun akan memandang kita negatif. Memang, akan lebih baik bila orang-orang lebih mengerti bahwa menjadi lajang itu tidaklah enak, ‘jadi coba mengertilah kami’, mungkin itu mau kita. Tapi percayalah menenangkan hati sendiri alih-alih mengharap orang lain mengerti kondisi kita, akan lebih menyejukkan hati. Kalau mau lebih asertif, bila orang menyindir atau menyudutkan kita, cobalah ingatkan dengan cara halus sambil bercanda, misalnya: ‘Jangan cuma nyuruh nikah, kongkrit dong, tawarin gitu cowok yang shaleh’, atau ‘Doain ya, saya bisa segera menyusul kamu dan merasakan kehidupan berumah tangga’. Kalau kita minta didoakan tapi nggak didoakan, kan kebangetan tuh, hehe. [25.05.05]       


 


*Tulisan ini adalah satu dari beberapa tulisan saya yang akan dimuat di buku 'Catatan Wanita Lajang', semacam chicken soup tentang wanita lajang :). Buku tsb kolaborasi bareng Azimah, Mbak Vita, Otri, dan Mbak Nanik. Yang nerbitin Syaamil. Katanya sih Juni ini mo terbit, ngejar Jakarta Book Fair. Pengen tau 'jeritan' hati wanita lajang (taelaa, dangdut amat) beli ya, hehehe.

14 comments:

  1. hati ini ikut berdarah, perih, duka.
    Allah, karuniakanlah berjuta kebajikan kepada saudariku, berlimpah keshabaran, hingga penuh kitab kanannya dengan laporan.
    Allah, jadikan kami orang-orang yang ikhlas. Maafkan kami yang telah menyakiti saudara kami. Amiin.

    ReplyDelete
  2. Sebagai mantan "wanita lajang yang tuelaaat..." saya bisa merasakan apa yang ditulis Mbak Dee.
    Namun ada satu hal yang masih saya pikirkan. Sebenarnya kalau saya mau dengan tawaran "apa adanya" (tidak sesuai dengan kriteria yang saya patok yang mungkin sebenarnya terlalu tinggi untuk saya ;)) mungkin saya bisa mengakhiri masa lajang secepatnya. Orang bilang "pilih-pilih tebu", meskipun saya selalu mengelaknya. Saya bilang ,"Jangankan memilih jodoh, wong mau beli gelas aja kita pilih dengan njelimet agar tidak salah membeli gelas yang retak...". Jadi saya bertanya-tanya, apakah saya punya peran dalam keterlambatan tadi, ataukah saya sekedar menjalani yang telah digariskan??
    Well...saya tidak pernah menyesalinya karena di saat "kosong" tersebut saya melakukan banyak hal yang saat ini (setelah menjadi istri dan ibu) saya tidak bisa melakukannya. No wasting time...;D.

    ReplyDelete
  3. Emang tuh, ditanya-tanya kapan nikah kadang bikin bete! Kayaknya resepnya cuma: nikmati aja masa yang sekarang :-) Kayaknya jodoh tuh dateng justru kalo lagi ngga dicari, kalo kita malah lagi menikmati masa lajang. Udah terbukti kok! ... Dengan sampel tiga cewek saja ... hahahaha... ngga sahih banget yha datanya ... Bercandaaaa ... peace, mbak!

    ReplyDelete
  4. Setuju dengan mbak Dee... senyum selalu --- menebar pesona :)
    Lagian mau dijelas'in dari A sampe balik ke A lagi, kadang orang masih adaaa aja yg ngga ngerti.

    salam semangat,

    ReplyDelete
  5. Setuju dengan mbak Mamiek! No wasting time..
    Wahhh kok jadi seperti pemilu pilkades yaaaa... setujuuuu :)

    Allah itu Maha Adil dan Ari percaya bahwa setiap orang diberi jalan masing-masing untuk beribadah kepada-NYA.
    Ada yang dari kehidupan berumah tangga, ada yg melalui aktivitas sehari-hari, macam-macam deh. Yang penting sekarang bagaimana pintar-pintarnya kita memanfaatkan semua kesempatan yg ada untuk semakin dekat kepada-NYA.

    salam semangat lagi!

    ReplyDelete
  6. Setuju dengan mbak Mamiek! No wasting time..
    Wahhh kok jadi seperti pemilu pilkades yaaaa... setujuuuu :)

    Allah itu Maha Adil dan Ari percaya bahwa setiap orang diberi jalan masing-masing untuk beribadah kepada-NYA.
    Ada yang dari kehidupan berumah tangga, ada yg melalui aktivitas sehari-hari, macam-macam deh. Yang penting sekarang bagaimana pintar-pintarnya kita memanfaatkan semua kesempatan yg ada untuk semakin dekat kepada-NYA.

    salam semangat lagi!

    ReplyDelete
  7. Setuju dengan mbak Mamiek! No wasting time..
    Wahhh kok jadi seperti pemilu pilkades yaaaa... setujuuuu :)

    Allah itu Maha Adil dan Ari percaya bahwa setiap orang diberi jalan masing-masing untuk beribadah kepada-NYA.
    Ada yang dari kehidupan berumah tangga, ada yg melalui aktivitas sehari-hari, macam-macam deh. Yang penting sekarang bagaimana pintar-pintarnya kita memanfaatkan semua kesempatan yg ada untuk semakin dekat kepada-NYA.

    salam semangat lagi!

    ReplyDelete
  8. Saya termasuk menikah di usia muda (23 tahun) menurut ukuran masyarakat kita dan mba boleh percaya boleh tidak, saat itu saya sempat ingin menolak lamaran suami saya kalau tidak ingat paksaan orang tua (dan keadaan yang melatari). Menurut saya saat itu, menikah jelang usia 30 atau lebih malah asik, karena kita telah 'lebih matang' dari berbagai sisi dan sudah puas menggali dan memanfaatkan potensi diri utk orang banyak. Saya kan aktifis LSM mba, jadi saat itu saya merasa menikah hanya akan mendholimi suami dan saya sendiri, karena saya tipe perempuan yang bebas dan suka mengembara menengok banyak kota dan pelosok Indonesia :-) Saya sangat menikmati kesendirian saya ditengah beragam aktifitas hidup yang saya cintai :-)

    In conclusion, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau!

    ReplyDelete
  9. iya, betul, mbak ari, mbak mamiek... apapun kondisi kita, jgn sampai kita lupa bahwa 'kewajiban yang ada lebih banyak dari waktu yang tersedia' (ngutip hasan al-banna neh :). so, memaksimalkan potensi kita, yang bermanfaat buat diri sendiri, kelaurga, dan yg terpenting: umat. karena di hari akhir nanti kita ditanya: usia kita untuk apa digunakan? bukan: kamu menikah ngapain ajah?

    makasih juga ya buat femmy, imazahra, imun yang dah baca.
    iya, betul, ima, rumput tetangga sering kali lebih hijau. itulah tabiat manusia :). makanya menyadari bahwa ada banyak hal yg bisa kita lakukan, dalam berbagai kondisi, mensyukuri apa adanya diri kita, karena syukur itu bukan sekadar 'alhamdulillah' tapi mengejawantahkannya dalam perbuatan, akan membuat diri kita akan lebih berarti :).

    ReplyDelete
  10. Sendiri itu tak selalu sepi...
    Berdua itu tak selalu ramai.
    Mawar akan berwarna merah jika dipandang merah
    Coba kalau buta warna?
    *gak nyambung bo* hehe...

    Selamat berjuang Mbakku Sayang, matahari selalu di sini, di hati kita. Kitalah yang memandang warna dalam hidup.

    ReplyDelete
  11. tul, mbak tety!!
    makasih ya semangatnya. saling menyemangati yaa... ;)

    ReplyDelete
  12. duuuh... dee sayang, dee maniiis.... teteh jadi suka heran sendiri neh, kurang apa coba dindaku yang satu ini? pendidikan oke, penampilan juga oke punya.. dan yang terpenting dindaku ini sungguh punya aura yang langka dimiliki gadis lain
    apa itu? dinda ini orangnya luwes, renyah, hepi2 aja dan... bijak gitu loooh!
    sampai pernah aku berpikir, aah, andaikan aku punya anak laki-laki banyak.... ingin kuambil menantu dikau!
    deeek, jangan pernah menyera!
    ato... bolehkah teteh carikan?
    suuun cinta dari teteh pipiet senja

    ReplyDelete
  13. Duh teteh, jadi terharu baca komen-nya... sayang ya teh, haekal udah merit, haha! Oya, teh, banyak lho yang lebih cantik, lebih berpendidikan, lebih luwes, lebih bijak, lebih ramah, lebih okeh deh pokoke dari aku, tapi tetap belum menikah. Ada beberapa alasan tentu, salah satunya ya karena ketentuan Allah belum turun. Mo maksa ampe kayak gimana juga susyah ya teh :D. Masak Allah dipaksa? Idihhh, siapa juga ya kite? Ntar ditendang dari bumi mo numpang di bumi mana? :D. Yang penting kita tetap ikhtiar dan berdoa ya teh, gak putus. Kalo ketentuan Allah sudah dateng ntar juga ada. Pokoke semua yang terjadi di kolong langit ini pasti atas ketentuan Allah ya teh, termasuk knapa sampe sekarang aku blm dikasi SIUP ama Allah, pasti ada 'hikmah'nya.
    Teteh mo nyariin? Siip... kirim aje datanya, hehehehe. Ikhtiar teruzzz.... ;)

    *SIUP (Surat Izin Urusan Pernikahan) :D

    ReplyDelete
  14. Mbak Dee, yang ini nyambung gak ya? :D...dulu waktu masih jomblo, saya dikasih tahu sama guru ngajinya kakak saya supaya membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 1000 kali/hari selama 3 hari berturut-turut. Ya saya lakukan aja, wong nothing to loose...malah saya lakukan selama beberapa hari (kelipatan 3). Kok ya kebetulan...beberapa bulan kemudian seorang teman lama yang tinggal di NY nelpon ke Bandung buat ngenalin saya ke si doi :D...

    ReplyDelete